Jurnalis Perempuan NTT Peduli Nasib Kaum Perempuan dan Anak di NTT

 

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Para Jurnalis Perempuan yang tergabung dari berbagai media daring di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat peduli akan nasib kaum perempuan dan anak di NTT.

Para jurnalis perempuan menyerukan gerakan bersama pemenuhan hak asasi perempuan tanpa kekerasan. Kaum ini harus ditempatkan pada posisi sejajar dengan kaum laki-laki.

Kaum perempuan dan anak harus dijadikan subjek pembangunan dan bukan menjadi objek eksploitasi untuk kepentingan segelintir orang.

Untuk itu, Jurnalis Perempuan NTT menggagas kegiatan sosialisasi dan diskusi soal nasib perempuan dan anak berkenaan dengan Hari Anti Kekerasan pada perempuan.

Ketua Panitia Pelaksana kegiatan sosialisasi dan diskusi Hari Anti Kekerasan Perempuan, Chintia Pella menyampaikan ini dalam sambutannya pada acara yang digelar di Aula DPD RI Perwakilan NTT, Senin (22/11/2021).

Dikatakan Chintia, Komisi Nasional Perempuan mencatat di Indonesia perempuan rentan mengalami kekerasan. Kondisi ini mendorong jurnalis perempuan berinisiatif melaksanakan diskusi bersama.

Adapun diskusi dan sosialisasi ini dihadiri
sejumlah tokoh dan aktivis perlindungan dan perjuangan hak-hak perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur juga para pelajar SMA/SMK juga elemen terkait lainnya.

Mengusung tema Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan tanggal 25 November 2021 “Pemenuhan hak asasi perempuan tanpa kekerasan” dan Sub Tema “Yang melahirkan peradaban tidak pantas dilecehkan”, Chintia menegaskan latar belakang kegiatan ini.

Menurut Chintia Pella, dari pengamatan jurnalis perempuan, sering menemukan banyak fenomena kekerasan yang dialami perempuan dan anak seperti eksploitasi dan diskriminasi.

Oleh karena itu mereka berinisiatif melakukan sebuah gerakan bersama menyerukan anti kekerasan terhadap perempuan.

“Kami menghadirkan peserta dari berbagai kalangan seperti, pelajar SMA dan SMK, Mahasiswa/i, Tenaga Kerja, tokoh Lintas Agama, dan Jurnalis Perempuan di Kota Kupang. Dari merekalah diharapkan menjadi perpanjangan tangan dan pembela kekerasan terhadap perempuan di lingkungannya,” ujar Chintia.

Menurut Chintia, walaupun sekedar sebuah diskusi, namun panitia sangat mengharapkan ada makna positif yang dipetik dan akan berdampak pada gerakan tanpa henti penghapusan kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak di NTT.

Adapun tujuan dari kegiatan ini, kata Chintia, untuk mendorong pemerintah dan elemen terkait agar bersama-sama terus bergerak memperjuangkan hak-hak perempuan, serta menghargai harkat dan martabat perempuan.

Dia menegaskan, perempuan harus dijadikan subjek pembangunan dan bukan menjadi objek eksploitasi untuk kepentingan segelintir orang.

“Tujuan sosialisasi dan diskusi ini juga sebagai ajang menyatukan pemahaman bersama tentang apa itu kekerasan terhadap kaum perempuan. Juga peserta dapat mengetahui hak dan kwajiban kaum perempuan dalam mengisi proses pembangunan,” katanya.

 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Dra. Margarita Boekan mengatakan, kekerasan terhadap perempuan merupakan suatu kejahatan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, dan berakar pada beragam penyebab masalah yang kompleks dan beragam, serta terus berkembang.

Menurutnya, dampak utama dan kerugian yang dialami oleh korban kekerasan terhadap perempuan berupa, gangguan kesehatan cacat fisik dan mental, terinfeksi HIV, infeksi menular seksual.

Termasuk dampak pada adanya kematian dan mengalami gangguan mental dan trauma berat.

“Kedua dampak tersebut berpotensi mengakibatkan penyakit sosial yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Margaritha.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur juga mencatat, data kekerasan terhadap perempuan dan anak lima tahun terakhir terus meningkat.

Pada 2017 terdapat 780 kasus. Dari jumlah tersebut 258 kasus diantaranya adalah kekerasan seksual.

Pada  2018 dari total 425 kasus, 149 kasus adalah kekerasan seksual.  Sedangkan pada 2019 dari total 281 kasus yang dilaporkan sebanyak 166 adalah kekerasan seksual.

Pada tahun 2020 tercatat sebanyak 648 kasus dengan 207 kasus diantaranya adalah kekerasan seksual.

Sementara itu, data per-November 2021 menunjukan tercatat ada 585 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT dengan 208 kasus diantaranya adalah kekerasan seksual.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, panitia juga memfasilitasi kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis kepada semua peserta oleh petugas medis dari Klinik King Care Kupang dan pemberian pin anti kekerasan perempuan.

Kegiatan ini didukung beberapa sponsor seperti, Klinik King Care, Ramayana Mall, Rumah Makan 99 , makanan kuliner Empal Gentong.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *