Perfilman Dokumenter dan Fiksi di NTT Jangan Sampai Tinggal Nama

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Kepala UPTD Taman Budaya NTT, Kurniawan Sofian sangat mengharapkan agar Perfilman dokumenter dan Fiksi di NTT tetap lestari dan dikenal bukan ditingkat nasional saja tapi internasional. Jangan biarkan kekayaaan budaya di NTT hanya tinggal nama.

Untuk Mengangkat keanekaragaman budaya dan adat istiadat serta keindahan alam di NTT
Pemerintah jangan sampai tutup mata. Perkembangan era digital sekarang dengan sistem online seharusnya jadi media yang bagus dalam mempromosikan aneka budaya NTT.

Kepala UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTT, Drs Kurniawan Sofyan, MM menyampaikan ini di sela-sela kegiatan Work Shop penulisan film, kerja sama antara Direktorat perfilman, musik dan media (PMM) dengan UPTD Taman Budaya Dikbud NTT di Aula Taman Budaya NTT, Jumat (15/10/2021).

Sofyan panggilan akrabnya menginginkan agar NTT bisa sejajar dengan Provinsi lain di Indonesia, untuk dokumenter zona masing-masing bukan hanya suguhan regional tapi sudah merambah Internasional dalam bentuk film.

Menurutnya, sudah banyak orang-orang film yang dibinanya tapi saat ini nama mereka ibarat ditelan bumi. Mereka membuat film hanya untuk kepentingan pribadi sehingga dirinya tidak menginginkan kondisi ini terjadi.

Untuk itu kepedulian pemerintah sangat diharapkan dalam dunia perfilm agar bisa mengangkat pesona NTT.

“Salah satunya saya bergerak di bidang ini, makanya saya ingin menghidupkan kembali. Ini kepedulian lebih khusus kepada dunia perfilman. Apalagi dimasa sekarang ini tidak ada lagi offline tapi sistemnya online. Nah online ini kita libatkan insan perfilman agar dihidupkan kembali,” ujar Sofyan.

Dirinya menambahkan, siapa dan dimana didengungkan bahwa khusus untuk lomba satra, lomba lukis tingkat nasional apalagi lomba film, apakah mereka-mereka ini dikirim.

“Kalau temporernya iya, mendadak juga iya, tetapi mulai dari pembinaan dan sebagainya saya kira belum,” jelas Sofian.

Untuk menjawab semua itu, lanjut Sofian, Taman Budaya mulai merambah, mulai menggali kembali dan memegang supaya bisa dikendalikan oleh pemerintah.

Dirinya mengagendakan untuk tahun 2022, akan mengadakan lomba penulisan dan pembuatan film dokumenter fiksi pesona budaya NTT.

Tujuannya adalah dia ingin berbuat agar NTT juga tidak berbeda Provinsi lainnya. Mempromosikan aneka budaya daerah, melibatkan semua komunitas di masing-masing kabupaten/kota.

” Mulai dari sisi apa saja, saya yakin sudah pasti komunitas ini atau pelaku-pelaku budaya ini atau dunia perfilman ini pasti mendukung kita. Kalau kita memberikan ruang, memberikan perhatian dan kesempatan untuk mereka maka pasti berhasil,” tandasnya.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *