Diversifikasi Pangan, Kurangi Ketergantungan Beras untuk Tingkatkan Konsumsi Pangan Lokal

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Diversifikasi pangan lokal bukanlah issu baru di Nusa Tenggar Timur( NTT) bahkan di Indonesia. Tetapi laju pengelolaan diversifikasi pangan belum seimbang dengan laju pertumbuhannya karena masih sangat rendah.

Diversifikasi pangan dilakukan dengan tujuan, mengurangi ketergantungn masyarakat terhadap beras dan meningkatkan konsumsi pangan lokal.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli, SPT saat membuka dengan resmi kegiatan Webinar Diversifikasi Pangan Lokal di Neo Aston Hotel-Kupang, Jumat ( 15/10/2021). Tema dari kegiatan ini adalah “Sehat Bahagia Dengan Pangan Lokal”.

Pentingnya Diversifikasi Pangan jelas Lecky, untuk menurunkan ketergantungan terhadap beras, dan warga didorong untuk mengkonsumsi bahan pangan non beras.

“Kita di Indonesia makan beras 1 tahunnya untuk 1 orang itu, 139 kilogram. Sedangkan di Jepang 1 tahunnya 62 kilogram untuk 1 orang makan,” ungkap Lecky.

Disamping itu tambah Lecky, luas lahan pertanian semakin hari semakin terkontres laju konversi pertanian cukup tinggi di Indonesia, berada di angka sekitar 16-19 persen.

Oleh karena itu ada undang-undang yang mengatur soal lahan pertanian yang berkelanjutan, untuk membatasi laju konversi pengalihfungsian lahan.

Untuk itu lanjutnya, perlu dilakukan diversifikasi untuk mengatasi lahan yang makin terbatas dan produktifitasnya semakin menurun, manusianya semakin bertambah dan kalau semua makan beras maka tidak cukup.

Diversifikasi ini dilakukan katanya,untuk menekan ketergantungan beras dan konsumsi makanan non beras seperti umbi-umbian, jagung, pisang, sukun dan juga shorgum.

Semua itu adalah sumber karbohidrat yang kualitas gizinya tidak kalah dengan beras. Selain itu bisa memperdayakan ekonomi petani penghasil non beras.

“Kita dorong masyarakat untuk menuju kepada pengurangan pangan non beras dengan cara sederhana. Setiap makan pagi, siang dan malam itu berasnya di kurangi. Itu bisa menolong kita untuk bisa menekan ketergantungan beras menuju pemanfaatan sumber karbohidrat yang baru dan sekaligus menyehatkan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia penyelenggara, Sarlien Y. Polin, S.Si mengatakan, Diversifikasi pangan terus dilakukan dengan tujuan, mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras dan meningkatkan konsumsi pangan lokal.

Menurutnya, saat ini beras dan terigu menjadi sumber penyedia energi tertinggi masyarakat indonesia, Padahal ada berbagai jenis pangan lokal sumber karbohidrat, seperti jagung, ubi kayu, shorgum, pisang, sukun dan lainnya.

Untuk menurunkan ketergantungan konsumsi pada jenis pangan tertentu, maka perlu dilakukan percepatan Diversifikasi pangan secara menyeluruh.

Melalui kegiatan webinar pangan lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan ini diharapkan, melalui edukasi ini dapat merubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat terhadap konsumsi pangan lokal non beras.( ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *