KBM Tatap Muka Terbatas di SMPN I Kupang Tengah Mulai Dilaksanakan

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Pandemi covid-19 yang menyerang seluruh dunia beberapa waktu lalu hingga kini membuat aktifitas pembelajaran di sekolah menjadi terkendala termasuk yang dialami lembaga SMPN I Kupang Tengah di Kabupaten Kupang.

Namun, dengan semakin berkurangnya penyebaran Pandemi ini mendorong para orangtua/wali bersama lembaga ini mulai menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) terbatas.

Kepala SMPN I Kupang Tengah, Leno Elviani Herlina Kleing, S.Pd ketika ditemui Media ini di ruang kerjanya, Kamis (14/10/2021) memberikan penjelasan berkaitan dengan penerapan KBM terbatas di sekolah yang dipimpinnya.

Menurut Elviani, di SMPN I Kupang Tengah pada masa Pandemi terutama pada semester I untuk tahun ajaran 2021/2022 sistem pembelajaran menggunakan sistem tatap muka terbatas.

Inipun atas ijin para orangtua/wali tetapi ada juga orangtua yang tidak mengijinkan tetapi juga pihak sekolah melaksanakan pelajaran tatap muka jarak jauh secara online.

Pola pembelajaran yang diterapkan, kata Elviani, menggunakan sistem shift belajar bagi anak didik yang dilaksanakan setiap hari.

Pola yang dipakai, lanjutnya, untuk siswa kelas IX mereka ada di sekolah pada hari Senin dan Kamis. Untuk kelas VIII ada di sekolah pada hari Selasa dan Jumat sedangkan untuk kelas VII pada hari Rabu dan Sabtu.

“Setiap hari tatap muka itu berlangsung 5 jam belajar dengan durasi waktu 1 pelajaran itu 1 jam 30 menit,” terang Elviani.

Dirinya mengakui sebagai guru memang ada kendala juga seperti dengan keterbatasan waktu penyampaian bahan dari guru kepada anak supaya dipahami materi. Sehingga dicarikan solusi dengan cara menyampaikan materi dalam waktu 30 menit itu.

” Harapan kami semua peserta didik mndapat vaksinasi sehingga peran orangtua meyakinkan anak bahwa dengan vaksinasi itu ada nilai positif kepada peserta didik sehingga ketika mereka ada di sekolah mereka percaya diri,” ujar wanita low profile ini.

Dirinya menambahkan, untuk semua staf pengajar dan pegawai di sekolah ini rata-rata semua sudah divaksin kecuali ibu guru yang sementara yang hamil belum divaksin. Tetapi guru bersangkutan tetap memberikan materi kepada siswa dengan pola online.

“Total siswa di sekolah kami ada 913 orang dengan 31 ruang belajar. Pada kondisi normal sebelum covid setiap hari di kelas diisi 32 siswa tetapi karena covid maka dibagi dua ruangan. Sehingga sehari dibutuhkan 22 ruang belajar menyesuaikan dengan anjuran pemerintah soal Prokes,” jelas Elviani.

Ditanya soal teknis penerapan prokes di lingkungan sekolah, Elviani menuturkan bahwa ketika siswa dan guru masuk ke lingkungan sekolah langkah pertama adalah mengukur suhu, wajib masker, cuci tangan lalu ke kelas. Penerapan prokes di ruang kelas, katanya, kursi yang disiapkan 16 buah untuk siswa.

Menurut Selviani, walaupun saat ini ada pembatasan siswa di ruangan kelas tapi ada kebaikan. Dimana selama Pandemi masih tinggi guru tidak bisa berikan penjelasan materi langsung cuma kirim bahan saja.

Tetapi saat ini siswa bisa dibimbing dengan baik walau dengan keterbatasan waktu tapi ada interaksi langsung dengan tetap menaati Prokes. Sejauh ini covid kluster sekolah belum ada dan diharapkan tidak boleh ada di sekolah ini dan gerakan vaksinasi akan tetap dilakukan sampai semua siswa betul-betul telah menerima vaksin. .(ER).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *