Anggota DPR RI, Edward Tannur Respon Pelatihan Soal Pencegahan Penyakit ASF di BBPP Kupang

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Dimasa pandemi covid-19 yang masih mewabah di hampir seluruh belahan dunia, sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang mesti dipertahankan eksistensinya karena berkaitan erat dengan penyediaan pangan berkualitas bagi masyarakat.

Kementerian Pertanian Indonesia hingga kini terus berupaya memaksimalkan perannya dalam upaya peningkatan produktivitas sektor pertanian Indonesia, sehingga kebutuhan pangan seluruh masyarakat dapat terpenuhi dan kesejahteraan petani juga dapat dicapai dalam waktu yang bersamaan.

Melalui Badan penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, bercita-cita peningkatan produktivitas sektor pertanian yang dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan peningkatan kompetensi dan pembaharuan Sumber Daya Manusia pertanian yang dimiliki oleh masyarakat.

Tujuannya agar kedepan pengolahan lahan pertanian dan peternakan dapat dilaksanakan secara lebih modern dan efisien, memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang semakin maju.

Menteri Pertanian Indonesia , Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian.

“Salah satu fokus kita adalah meningkatkan kualitas SDM. Dengan SDM yang berkualitas tersebut, kita akan meningkatkan pertanian,”ujar Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa BPPSDMP berada di garis terdepan dalam pembangunan SDM pertanian. Itu berati segala sesuatu yang terkait peningkatan kapasitas SDM merupakan tugas BPPSDMP.

Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang sebagai salah satu lembaga pelatihan di bawah BPPSDMP pun terus memaksimalkan perannya dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan teknis berdasarkan permasalahan-permasalahn yang dialami oleh masyarakat di lahan pertanian atau peternakannya masing-masing.

Salah satu permasalahan yang masih menjadi tantangan bagi masyarakat khususnya peternak babi di provinsi Nusa Tenggara Timur adalah masih mewabahnya penyakit African Swine Fever (ASF) dihampir seluruh wilayah NTT dan menimbulkan kerugian secara besar-besaran baik di tingkat peternakan rakyat maupun peternakan komersil berskala besar.

Melihat kondisi ini, BPPSDMP Kementerian Pertanian melalui BBPP Kupang melaksanakan pelatihan bagi masyarat dengan tema Pencegahan dan Pengendalian ASF.

Tujuan pelaksanaan pelatihan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat terkait virus penyebab penyait ASF serta sifat dan cara penularannya sehingga masyarakat dapat melakukan penanganan yang tepat dan efisien.

Pelatihan yang dilaksanakan di BBPP Kupang ini terselenggara atas kerjasama yang baik antara BPPSDMP Kementerian Pertanian dengan Komisi IV DPR RI yang memiliki ruang lingkup dan tugas di bidang pertanian, lingkungan hidup dan kehutanan serta kelautan.

Dengan kerjasama ini, beberapa pelatihan berkaitan dengan pengendalian ASF ini telah dilaksanakan dibeberapa daerah di NTT baik secara langsung maupun secara virtual.

Pelatihan yang dilaksanakan di BBPP Kupang ini ditujukan bagi peserta non aparatur dari Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU. Pelatihan dilaksanakan selama 4 hari bagi 120 peserta yang dibagi dalam 2 gelombang.

Anggota Komisi IV DPR RI, Edward Tannur, SH yang berkesempatan hadir secara virtual  dalam acara pembukaan pelatihan yang digelar di BBPP Kupang menyampaikan harapannya.

Dirinya menekankan bahwa dengan dilaksanakannya pelatihan terkait pengendalian dan pencegahan ASF ini, SDM yang dimiliki oleh masyarakat dapat terbaharukan sehingga ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan di lapangan dan kondisi sektor peternakan babi di NTT dapat berangsur-angsur membaik mengingat sektor peternakan khususnya peternakan babi menjadi sumber pencaharian bagi banyak masyarakat di NTT.

“Melalui pelatihan, masyarakat tentu memiliki akses yang sebesar-besarnya untuk berdiskusi dengan fasilitator yang berkompeten sehingga transfer ilmu dan informasi dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi masyarakat di lapangan,” jarnya

Lebih lanjut beliau mekenankan bahwa dengan adanya pelatihan-pelatihan terkait upaya pengendalian dan pencegahan penyakit ASF ini, produktivitas sektor peternakan babi di NTT dapat mulai di kembangkan kembali dengan sistem biosecurity yang lebih ketat sehingga keberhasilannya dapat ditingkatkan dan disaat yang bersamaan taraf hidup masyarakat NTT juga pelan-pelan dapat ditingkatkan.

Kepala BBPP Kupang, drh Bambang Haryanto, MM dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan adanya kerjasama yang baik antara BBPP Kupang dan Komisi IV DPR RI diharapkan semakin banyak masyarakat yang mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan.

Pelatihan dimaksud Bambang terkait dengan permasalahan-permasalahan utama yang dialami di lahan pertanian maupun lingkungan peternakannya masing-masing karena semakin banyak masyarat yang teredukasi, produktivitas sektor pertanian dan peternakan dapat terus ditingkatkan dan tujuan pembangunan pertanian indonesia juga dapat dicapai dalam waktu yang lebih cepat.(*/ER/Rilis Berita BBPP Kupang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *