Masa Pandemi Covid-19 Orangtua Jangan Loss Control pada Anak-anak

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Masa pandemi covid-19 saat ini memang semua bidang kehidupan terkena dampak yang sangat besar. Tak terkecuali imbasnya pada anak-anak dimana ada semacam dunia baru dari sebelumnya bebas bermain dengan sesama rekannya, kini harus terisolasi di dalam rumah bergelut dengan handphone.

Kondisi ini tidak berarti para orangtua loss control dan membiarkan anak-anak berada dalam kendali media telekomunikasi handphone. Peran orangtua harus memberikan arahan, bimbingan dan jangan jadi orangtua elektronik.

Hal ini disampaikan Pemerhati Anak yang juga Dosen Institut Agama Kristen Negeri Kupang, Dr. Lanny Isabela Dwisyahri Koroh., M. Hum ketika ditemui Media ini di rumahnya , Kamis (22/7/2021).

Dosen murah senyum ini dimintai pandangannya terkait dampak  pandemi covid-19 terhadap tumbuh kembangnya generasi bangsa, berkenaan dengan Hari Anak nasional tahun 2021.

Diakui Lanny, saat ini memang dalam situasi pandemi covid-19 tentu semua terkena imbasnya bukan berarti anak-anak lolos tapi mereka mendapat dampak dari pandemi ini.

Menurutnya,  yang sangat terlihat itu pada masa tumbuh kembang mereka. Dimana ruang gerak yang selama ini anak-anak  bebas bermain dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja memang ada pembatasan.

Namun, katanya, walaupun ada pembatasan  tapi harus ada sistem kontrol sebagai orangtua dalam hal  permainan, lalu  dengan siapa mereka bermain. Pada masa pandemi ini kelihatannya anak-anak  over protect.

Apalagi sekarang ini, kata Lanny, komunikasi dalam hal pembelajaran menggunakan daring sehingga anak lebih banyak menggunakan handphone.
Dalam kondisi ini memang menuntut orangtua untuk memberi perhatian lebih.

Menurut Lanny, di  masa pandemi ini memang anak-anak mengalami perubahan yang luar biasa. Dimana sebelumnya dia bebas bermain tapi sekarang harus berdiam di rumah, pakai masker akhirnya ruang gerak dibatasi dimana tidak lagi bermain dengan teman tapi berteman dengan handphone dalam bermain. Ini menciptakan dunia baru bagi anak-anak.

“Tentu peran orangtua dalam mengarahkan karena kalau orangtua memilih menjadi orangtua elektronik karena tidak ada waktu curhat maka ini berbahaya sekali,” katanya.

Khusus di  dunia pendidikan, kata Lanny, dalam diskusi-diskusi lepas ada segelintir orang menilai bahwa  di masa pandemi generasi kehilangan jati diri tentu ini tidak bisa disimpulkan demikian.

Jika orangtua mampu membimbing, mengarahkan dan memprotect anak tentu tidak akan kehilangan jati diri.

” Mungkin mereka lalai ya karena memang saya alami di kampus komunikasi dengan dosen sedkit menurun karena mungkin lupa karena keseringan dengan teman,” ungkap Lanny.

Terkait dengan hari anak tahun 2021 ini, Ibu dua orang anak ini teringat akan nasib  anak-anak  penjual koran di kawasan Jalan El Tari Kupang. Bagaimana mereka dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan yang memprihatinkan orangtuanya ikut menonton.

Dimasa pandemi ini, Lanny berharap harapan  anak-anak di Kota Kupang khususnya dan NTT umumnya  walau penuh keterbatasan tapi harus semangat belajar.  Karena walau lewat jaringan tapi bukan berarti lemah kalian adalah generasi penerus bangsa.

“Jangan pernah lemah, lelah, putus asa tapi tetap berekspresi,  kreatif.  Tunjukan inovatif di masa pandemi. Pemerintah tentu berikan perhatian pada dunia pendidikan dan para pengajar diharapkan terus memberikan segala bekal ilmu buat generasi bangsa agar mereka tidak kehilangan jati diri,” pungkas Lanny.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *