Setahun Tertunda karena Covid,   MUI NTT Siap Gelar Musda

Ketua Panitia Musda MUI NTT, Abdullah P. Ulumando, SE.

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Pelaksanaan Musyawarah Daerah (MUSDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masa bakti 2021-2026 sesuai AD/ART seharusnya digelar pada 2020.

Namun, dampak dari pandemi Covid-19 sehingga agenda untuk pemilihan pimpinan baru ditunda. Pelaksanaan Musda MUI NTT dipastikan digelar di Kupang tanggal  11-12 Juni 2021.

Hal ini dikatakan Ketua Panitia Musda MUI NTT, Abdullah P. Ulumando, SE saat di jumpai usai acara Halal bi halal di Sekretariat PWNU NTT, Minggu (6/6/2021).

Dijelaskan Abdullah, para kandidat yang akan maju pada Musda MUI tentu harus merujuk pada peraturan organisasi AD / ART MUI. Amanah dan berakhlak adalah hal penting dalam memimpin MUI NTT ke depan.

Dikatakan Abdullah, sesuai SK yang sah, Musda MUI NTT harus dilaksanakan pada 2020, masa khitmadnya. Akan tetapi karena dengan adanya pandemi covid dan halangan yang lain, sehingga pelaksanaannya baru dilaksakan pada tahun 2021 ini.

Menurutnya, kesiapan yang telah dilaksanakan panitia antara lain, materi-materi sampi hari ini sudah mencapai 80%, tinggal di presentasikan di dewan harian untuk meminta persetujuan dari dewan pimpinan harian MUI NTT.

Ditanya soal kandidat yang akan maju, Abdullah mengatakan, kandidat yang akan maju jelas harus merujuk pada peraturan organisasi yaitu AD/ ART MUI.  Apapun tentunya akan berbicara dan bertindak itu, harus merujuk kepada AD /ART pedoman MUI.

“Semua punya hak untuk maju sebagai ketua umum MUI NTT untuk periode mendatang. Tetapi kita juga punya rambu-rambu, artinya orang yang amanah kemudian orang yang berakhlak. Itu penting, tanpa 2 hal ini sekalipun dia Profesor atau doktor tetapi sama saja. Jadi orang yang harus beraklak untuk memimpin MUI NTT kedepan,” tegasnya.

Selain itu Abdullah juga mengatakan, orang yang menjadi pemimpin MUI NTT itu juga harus berilmu, minimal harus memahami fondasi-fondasi ilmu agama, dan juga bisa memahami ilmu umum, untuk menjadi sumber bertanya dan sumber mencari solusi dalam permasalahan umat kedepan.

Dirinya berharap pemimpin Majelis Ulama kedepan ini juga harus bisa membangun komunikasi, bukan saja di internal umat muslim saja, tetapi bisa mampu membangun komunikasi dengan pihak luar yaitu dengan pemerintah, dengan organisasi keagamaan yang lain maupun masyarakat-masyarakat keagamaan untuk bisa bersinergi kedepan.

Ditambahkannya, MUI ini adalah payung dari semua organisasi keagamaan Muslim di negara ini. Artinya MUI sebagai patokan dan sumber dari pada semua permasalahan umat yang nantinya bisa di implementasikan dalam kegiatan ormas kedepan.

“Perlu kita garis bawahi, bahwa MUI ini bukanlah organisasi eksekutor yang langsung melaksanakan kegiatan, tetapi MUI adalah organisasi yang menjembatani akan kepentingan umat Islam, Pemerintah dan masyarakat non muslim lainnya,” pungkasnya.( ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *