Save the Children Perkuat Kapasitas Tenaga Kesehatan 

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Save the Children sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat di NTT. Sebagai bentuk kepedulian itu ditunjukkan dengan menggelar ToT  Emo demo bagi staf Dinkes Provinsi, Staf Dinkes Kabupaten, Puskesmas dan Bidan Desa dan Pelatihan Emo Demo untuk Kader Pembangunan Manusia (KPM) Kabupaten Kupang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas Tenaga Kesehatan di Tingkat Provinsi, Kabupaten, Puskesmas, Bidan Desa, KPM dan Ketua Kader sebagai Trainer EMO DEMO. Juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dan kader posyandu untuk mendampingi dan mendukung ibu dan pengasuh bayi dan bayi dalam meningkatkan praktik optimum PMBA melalui EMO-DEMO dan meningkatkan kapasitas kader posyandu untuk melaksanakan Emo Demo di Posyandu.

Dalam rilis berita Save the Children yang diperoleh media di Kupang, Rabu (5/5/2021) dituliskan bahwa  Better Investment for Stunting Alleviation (BISA) adalah paket intervensi terpadu untuk mendukung program Pemerintah Indonesia melalui intervensi gizi-spesifik dan gizi spesifik untuk menurunkan stunting sebagaimana tertuang dalam Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting 2018-2024.

BISA dijalankan melalui kerjasama Save the Children dan Nutrition International dalam periode 2019-2024 dan bertujuan untuk mengurangi stunting dengan meningkatkan status gizi dan perilaku hidup sehat anak perempuan remaja, wanita usia reproduksi, dan anak-anak di bawah usia dua tahun di dua Provinsi – Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat.

Target BISA adalah mengimplementasikan pelatihan dan pendampingan untuk keluarga 1000 Hari pertama serta remaja.

Strategi program BISA adalah mendorong terjadi perubahan perilaku di level individu dan masyarakat melalui pendekatan sosial dan komunikasi perubahan perilaku, penguatan sistem kesehatan dan kapasitas tata kelola perencanaan dan penganggaran pemerintah.

Program BISA menyasar keluarga 1000 HPK dan remaja yang dianggap sebagai kelompok paling rentan dan berdampak besar dalam peningkatan gizi di masyarakat.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 20018 menunjukan bahwa prevalensi stunting Nasional berada pada angka 51,7% dan NTT pada angka 42,6% untuk kelompok usia balita, sedangkan prevalensi angka stunting pada baduta secara nasional sebesar 32,8% dan NTT pada angka 29,9%.

Dengan data tersebut dapat dilihat bahwa masalah gizi (Stunting) di NTT masih tinggi yang membutuhkan penanganan bersama dari semua jajaran pemerintahan dan stakeholder yang bekerja untuk peningkatan gizi Bayi/Balita.

Menurut jurnal Lancet,2003 cakupan promosi makanan pendamping ASI dan strategi pendukung yang bagus dapat menurunkan risiko prevalensi stunting sebesar 19,8% pada usia 12 bulan, 17,2% pada usia 2 tahun dan 15% pada usia 3 tahun.

Metode PMBA ini dianggap sebagai metode yang sangat lengkap karena dalam metode ini sudah mencakup segala hal yang berkaitan dengan pemenuhan gizi pada masa 1000 hari pertama kehidupan.

Metode ini tidak saja membahas tentang bagaimana pola pemberian makan bayi/anak sesuai tatanan umur/usia anak, tapi dalam metode PMBA sudah membahas tentang bagaimana seorang ibu mempersiapkan dirinya pada saat memasuki kehamilan.

Soal bagaimana seorang ibu hamil harus menggunakan/memeriksakan kondisi kehamilannya di fasilitas kesehatan terdekat, bagaimana seorang ibu harus memenuhi kebutuhan gizinya pada saat hamil.

Ibu juga mendapatkan pemahaman tentang pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan pada saat menjelang persalinan, pentingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD) saat ibu melahirkan.

Pentingnya menjalankan ASI Ekslusif sampai anak berusia 6 bulan, dilanjutkan dengan Pemberian Makanan Pendamping ASI yang kaya 4 Bintang, (4 jenis zat yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu Zat karbohidrat, Protein Hewani, Protein Nabati dan Vitamin/mineral).

Saat usia 6 bulan sampai 2 tahun sesuai dengan frekuensi usia anak, dan ibu juga mendapat pemahaman tentang pentingnya anak mendapatkan imunisasi lengkap dan konseling penggunaan alat KB yang baik bagi ibu setelah melahirkan.

Sebagai bagian dari kerjasama Kementerian Kesehatan RI dengan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) telah mengembangkan sebuah sesi edukasi interaktif dengan permainan yang menggugah emosi ibu/pengasuh Balita untuk memperbaiki kualitas Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak yang disebut dengan Emo-demo (emotion-demonstration) PMBA.

Emo-demo dilakukan di Posyandu untuk meningkatkan status gizi anak usia 0-23 bulan dengan intermediate outcome berupa adanya peningkatan persentase inisiasi menyusui dini, pemberian ASI ekslusif hingga anak berusia 6 bulan, dan minimum acceptable diet untuk anak 6-23 bulan.

EMO DEMO terdiri dari 12 topik diskusi terkait perilaku PMBA yang dapat dapat dilakukan di Posyandu ataupun sesi-sesi edukasi di tingkat masyarakat. EMO DEMO telah dilaksanakan di beberapa kabupaten di Jawa Timur, dan juga di beberapa provinsi lainnya seperti Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat.

Save the Children melalui program BISA bermaksud mengimplementasikan EMO DEMO sebagai bagian dari strategi komunikasi perubahan perilaku yang akan dimulai dengan pelatihan Training of Trainers (ToT) untuk staf Provinsi, kabupaten, petugas puskesmas, bidan desa, KPM dan Ketua Kader di kabupaten Kupang. Trainer inilah yang kemudian akan melakukan pelatihan untuk Kader Posyandu. Trainer yang ada nantinya akan terlibat dalam monitoring implementasi EMO DEMO di tingkat Posyandu.

Hasil yang diharapkan, 22 orang staf Dinkes Provinsi NTT, Dinkes Kabupaten Kupang, Petugas Kesehatan tingkat Puskesmas, Bidan Desa, KPM dan Perwakilan Kader Posyandu terlatih sebagai Trainer EMO DEMO di Kabupaten Kupang.

Minimal 80% Peserta yang mengikuti pelatihan ini meningkat pengetahuan dan keterampilannya berdasarkan evaluasi pre-post test. Adapun pelaksanaan kegiatan tanggal 3-5 Mei 2021 di Hotel Neo Aston-Kupang.

Adapun fasilitator pelatihan,  ToT Emo Demo di Kupang akan difasilitasi oleh Master Trainer Emo Demo dari Jawa Timur serta GAIN Training Coordinator.  Perbandingan fasilitator dengan peserta dalam pelatihan ini adalah 1 Fasilitator berbanding 8 – 10 peserta.(*/ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *