Kota Kupang Sudah Maju Tapi Kekurangan di Perawatan

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Kota Kupang yang juga merupakan Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) segera memasuki usia ke 135 dan hari jadi otonom ke 25 pada tanggal 25 April 2021. Dalam kurun waktu tersebut, Kota Kupang sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan namun kekurangannya dalam hal perawatan objek pembangunan yang sudah ada.

Demikian penilaian salah satu Anggota DPRD Kota  Kupang dari Fraksi Gerindra, Rikardus O.Yunatan saat dimintai pendapatnya, Jumat (23/4/2021).

Menurut Rikardus, pada pelaksanaan Hari Ulang Tahun Kota Kupang yang ke- 135 dan hari jadi otonom ke 25  pada tanggal 25 April 2021 di peringati dalam keprihatihan, suasana covid-19 dan juga bencana Seroja.

Dirinya mengatakan, melihat kondisi Kota Kupang saat ini sudah lumayan baik. Dari segi infrastruktur ada pembenahan, tapi kurang memikirkan perawatannya, itu harus dipikirkan secara intens.

Rikardus mencontohkan, penataan taman sudah baik, tapi harus dipikirkan perawatannya. Begitu juga dengan saluran. Tanaman pohon, jenis pohon yang ditanam itu seperti apa, pohon yang ditanam itu harus sesuai kareteristik Kota Kupang.

” Kota Kupang sering membangun, penerangan lampu hias sudah baik dan itu perubahan, tapi jangan setiap periode diganti – ganti tiang listriknya, harus punya pemikiran kedepan,” ujar Rikardus.

Dari aspek pendidikan, menurut Wakil Ketua Komisi II  ini, sebentar lagi dunia sudah masuk five point zerro otomatis harus berbasis digital. Rencana untuk Kupang Smart City sudah bisa berjalan, tapi apakah edukasi sudah sampai ke lapangan sehingga pendidikan masyarakat kita siap menerimah five point zerro.

Dikatakannya, saat ini anak-anak, mahasiswa tidak lagi sekolah dan juga di kampus.  Otomatis ini menjadi satu pemikiran kedepan, bahwa kemampuan jaringan, kemampuan penguasaan IT oleh sebagian masyarakat.

“Kita harapkan kedepan, untuk Kupang Smart City ini, alangkah naif kalau kita bergaung kita dengungkan five point zerro tapi kita semua tidak melek IT,” tuturnya.

Dari dunia kesehatan jelasnya, bagaimana pemerintah terus berupaya untuk mengurangi kantong- kantong penyakit yang menjadi penyakit langganan.

Dicontohkan, Penyakit demam berdarah dengue (DBD)  sudah tahu penyakit ini musim, tapi tindakan, pencegahan itu harus dioptimalkan.

Pelaku usaha menurutnya belum nampak jelas yang namanya perubahan, atau peningkatan dari pada pelaku usaha untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Artinya kurang meningkatkan semangat kinerja dari pada usaha mikro.

Sumber PAD kurang, ini dampaknya banyak hal. Ada 690 pelaku usaha mikro di kota kupang, yang memberikan PAD.

Dalam kondisi pandemi covid ini, harus dipikirkan terobosan-terobosan apa yang harusnya pemerintah ambil. Bersama pelaku usaha mikro gerakkan ekonomi dengan ide-ide kreatif yang dibutuhkan.

Rikardus berharap  peran pemerintah, bisnis dan perbankkan, segitiga ini yang harusnya lebih kreatif dan inovatif dimasa covid. Bank juga harus memberikan regulasi kemudahan bukannya menunda, regulasi pengurang suku bunga yang perlu dijalankan.

Pemerintah harus memberi kesempatan kepada pelaku usaha lebih luas untuk akses permodalan. Melihat kondisi ini pemerintah lebih ketat terhadap dan PEM.

” Saya berharap, pemerintah siapapun dia , setidaknya kita ini mengalami perubahan baik dari sisi infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan juga ekonomi. Ini harus terus ditingkatkan, harus di ukur. Bukan hanya meningkatkan ini itu tapi tidak ada indikator untuk perubahan, hanya kalimat-kalimat normatif tapi harus berbicara data. Sehingga kedepannya semua kinerja pemerintah itu ada indikator ukurannya,”  pungkasnya.( ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *