Turunkan Angka Stunting Save the Children dan Nutrition Internasional Gelar BISA

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Stunting di Indonesia umumnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya menjadi persoalan serius. Untuk menekan angka stunting, pemerintah Indonesia membuat program Better Investment for Stunting Alleviation (BISA).

BISA adalah paket intervensi terpadu untuk mendukung program Pemerintah Indonesia melalui intervensi gizi spesifik sebagaimana tertuang dalam Strategi Nasional Percepatan Nutrition International 2018-2024.

Guna menjawabi harapan pemerintah Indonesia ini mendorong pihak Save the Children dan Nutrition Internasional melaksanakan Traineeng  of Traniners (ToT) bagi fasilitator selaku pendamping untuk keluarga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan remaja usia SMP-SMA dan sederajat.

Koordinator Program BISA Save the Children NTT, Rufina Pardosi menjelaskan ini di sela-sela kegiatan Pelatihan untuk Pelatih/Fasilitator Kecamatan Modul Remaja di Hotel Swiss Bellin, Kupang, Sabtu (17/4/2021).

Dijelaskan Rufina, kegiatan pelatihan ini sangat penting karena dari hasil penelitian menunjukkan di NTT masih cukup tinggi angka stunting.

Untuk itu, melalui BISA ini diharapkan dapat mengurangi stunting dengan meningkatkan status gizi dan perilaku hidup sehat anak perempuan remaja, wanita usia reproduksi dan anak-anak di bawah usia 2 tahun.

Dikatakan Rufina, strategi program BISA adalah mendorong terjadi perubahan perilaku di level individu dan masyarakat melalui pendekatan sosial dan komunikasi perubahan perilaku, penguatan sistem kesehatan dan kapasitas tata kelola perencanaan dan penganggaran pemerintah.

“Salah satu perubahan yang ingin dicapai oleh program BISA adalah peningkatan perilaku bersih dan sehat terutama cuci tangan pakai sabun (CTPS). Hal ini relevan dengan situasi pandemi Covid-19 untuk konteks NTT. Karena hasil penelitian menunjukkan indikator terkait perilaku CTPS di NTT masih rendah,” terang Rufina.

Rufina menambahkan, pada kegiatan pelatihan kali buat fasilitator yang akan bertugas mendampingi   kelompok sasaran terutama pada remaja. Pada kegiatan strategis,  sasaran dari Save the Children lebih pada penguatan perubahan perilaku remaja dan advokasi. Sedangkan dari Nutrition International lebih pada penguatan akses atau layanan kesehatan.

“Ada tiga perilaku yang ingin dicapai pada kelompok remaja yaitu perilaku cuci tangan pakai sabun di waktu penting, mengkonsumsi tablet tambah darah mingguan dan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang khususnya yang kaya akan zat besi,” jelas Rufina.

Guna memfasilitasi perubahan perilaku remaja ini, lanjut Rufina, pihaknya melaksanakan ToT kepada guru terutama guru olahraga dan tenaga kesehatan sebagai fasilitator.

Tujuannya, jelas Rufina, meningkatkan pengetahuan fasilitator kecamatan terutama guru dan tenaga kesehatan di puskesmas tentang isi, alur kegiatan dalam modul perubahan perilaku cuci tangan pakai sabun dan pencegahan anemia.

“Ini juga meningkatkan keterampilan fasilitator terutama di dua kabupaten di NTT yakni Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Kupang. Karena hasil survei demografi dan kesehatan tahun 1986-1987 menunjukkan sanitasi yang berkualitas berasosiasi terhadap pencegahan stunting sekitar 27 persen,” katanya.

Untuk diketahui, di kalangan remaja, 78,9 persen remaja di Kabupaten Kupang dapat menyebutkan 2 waktu kritis untuk cuci tangan pakai sabun sementara di TTU ada 89,5 persen. Namun yang mempraktikan cuci tangan pada 5 waktu kritis di Kabupaten Kupang, 17,9 persen dan TTU, 11,1 persen.

Secara terpisah Fasilitator asal Kabupaten Kupang, Ribka Rolentiana Kekado, S.Pd, M.Si mengatakan, dalam kegiatan ini dirinya diminta Save the Children untuk menjadi fasilitator bagi calon fasilitator.

Baginya, menjadi fasilitator ini bukan hal baru karena sebelumnya dia sudah mendapat pelatihan dan ilmu yang diperoleh itu ditularkan ke calon yang ada.

“Jadi kebetulan saya juga fasilitator nasional sehingga saya diminta untuk mendampingi calon fasilitator yang ada sekarang,” katanya.

Tentang kesulitan yang dihadapi dalam pelatihan ini, Ribka mengatakan tidak ada mengenai materi. Hal ini karena ilmu pendampingan sudah diperoleh pada waktu yang lalu.

“Masalah cuma  memanage waktu karena disamping tugas pokok saya sebagai pengawas sekolah apalagi di Kabupaten Kupang, saya harus turun ke lapangan sehingga butuh banyak waktu. Tapi bagi saya kegiatan ini saya atur jadwal secara baik sehingga berjalan lancar,” jelasnya.

Tentang hasil yang diharapkan dari kegiatan ini, Ribka yang juga Ketua PGRI Kabupaten Kupang ini mengatakan, selaku fasilitator tentu harus  menjadi model sebelum diterapkan ke calon fasilitator.

“Kuncinya pribadi saya  harus lebih dahulu terapkan  terutama enam langkah cuci tangan dalam waktu minimal 20 detik dalam 7 waktu penting. Kita harus biasakan diri dulu baru diterapkan ke orang lain,” pungkas Ribka.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *