Pertanian Sebagai Penyangga Perekonomian di NTT, Kementan dan DPR RI Gelar Bimtek

ENDE. NUSA FLOBAMORA—Ketersediaan SDM pertanian menjadi hal penting dalam mempertahankan tingkat produktivitas pertanian.
Petani dan Penyuluh Pertanian sebagai garda terdepan pembangunan pertanian perlu ditingkatkan kapasitasnya sehingga mampu menjadi SDM yang inovatif, kreatif, profesional, mandiri dan berdaya saing.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) disetiap kesempatan menegaskan tentang peran vital penyuluh pertanian, di mata SYL penyuluh tak ubahnya ´prajurit Kopassus´ di sektor pertanian, sehingga dituntut koordinasi, kecepatan, akurasi untuk mencapai target yang ditetapkan Kementerian Pertanian RI dan pemerintah daerah.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menyampaikan, SDM pertanian menjadi faktor pengungkit peningkatan produktivitas sektor pertanian, karenanya perlu ditingkatkan kapasitasnya.

Oleh karena itu Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang kembali menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh, yang diikuti oleh petani dan penyuluh di Kabupaten Ende.

Bimtek dilaksanakan selama 1 hari tanggal 24 Maret 2021 bertempat di Aula Hotel Grand Wisata Ende.

Dalam acara Pembukaan Bimtek hadir Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang drh. Bambang Haryanto, MM.

Pada sambutannya Bambang menyebutkan bahwa potensi ternak babi di NTT sangat luar biasa dan dengan potensi ini dapat mendukung ketahanan pangan namun belakangan terjadi wabah penyakit African Swine Fever (ASF) yang menyerang ternak babi.

“Penyakit ASF disebabkan oleh virus. Oleh karena itu harus diperhatikan Biosecurity-nya,” kata Bambang.

Dikatakannya, jika pada manusia diberlakukan 3M maka penerapan Biosecurity pada ternak yaitu dengan memperhatikan kebersihan kandang, penggunaan disinfektan dan hal-hal terkait lainnya.

Oleh karena itu, bimtek ini diadakan untuk memberikan pengetahuan terkait pencegahan dan penanganan penyakit ASF kepada petani dan penyuluh agar penyakit ASF dapat tertangani dengan baik di lapangan.

Hadir pula Anggota Komisi IV DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat secara virtual.

Dalam sambutannya Julie menyampaikan bahwa isu ASF memang perlu diberikan perhatian lebih karena kejadian penyakit ini sudah berlangsung lebih dari 1 tahun dan telah menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat.

“ASF merupakan penyakit yang mematikan dan sudah menyebabkan kematian babi yang banyak di NTT. Saya sudah 3 kali menanyakan ke Menteri dan Dirjen terkait solusi penanganan kasus ASF mengingat ternak babi sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat di NTT. Namun memang untuk pengobatan penyakit ASF belum ada hingga saat ini,” ungkap Julie.

Ditambahkannya, namun tentu ada langkah-langkah pencegahan untuk meminimalisir kematian ternak babi di NTT, oleh karena itu dilakukanlah bimtek ini untuk membekali para petani dan penyuluh terkait langkah-langkah pencegahan penyakit ASF.

Lebih lanjut dijelaskan, kematian ternak babi di Bali karena ASF awalnya terbilang cukup tinggi namun akhir-akhir ini mulai berkurang.

Ini dikarenakan para peternak sudah sangat memperhatikan kebersihan kandang bahkan mereka akan mengisolasi ternak yang sakit sehingga tidak bercampur dengan ternak lainnya selain itu mereka memberikan pakan yang telah dimasak terlebih dahulu kepada ternak babi.

“Saya harap hal ini juga yang harus diterapkan oleh para peternak kita di NTT,” pungkasnya. (*/ER).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *