Fransiskus Mbapa : Memanfaatkan Sejengkal Tanah Mendulang Rupiah

KEBERADAAN Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang di Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang,  tentu semua orang yang melintas di jalan Negara Trans Timor sudah tahu. Namun seperti apa orang-orang yang bekerja di instansi ini memiliki keterampilan, tentu belum banyak yang tahu.

Dari puluhan pegawai baik ASN maupun non ASN yang berkarya di BBPP Kupang, ada salah satu ASN yang memanfaatkan waktu dan kesempatan mengais rejeki tambahan.

Dia adalah Fransiskus Mbapa. Frans merupakan salah satu sosok  ASN pada BBPP Kupang pada Widyaiswara ahli Madya spesialis sosial ekonomi peternakan, yang punya keterampilan mengembangkan usaha mandiri.

Dalam bincang-bincang dengan Media ini, Jumat (19/3/2021), Frans banyak berceritra tentang usaha yang ditekuni usai tugas rutinnya di BBPP Kupang.
Saat ini dia mengembangkan usaha pemeliharaan ikan lele, memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya.

Frans menilai usaha ikan lele saat ini, merupakan salah satu mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Hal ini karena ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang banyak di konsumsi oleh masyarakat, selain dagingnya enak, juga bergizi.  Inilah yang menjadikan budidaya ikan lele salah satu usaha masa depan yang menjanjikan.

Frans merupakan pengusaha ikan lele yang cukup berhasil. Dirinya memulai usaha ikan Lele sejak 1 Agustus 2010.

Memanfaatkan lahan pekarangan di belakang rumah Dinas BBPP Kupang seluas 10 × 15 meter, Frans memanfaatkan lahan sempit untuk usaha yang menguntungkan.

“Saya memulai usaha ini sejak 1 Agustus 2010. Dan melakukan budidaya lele karena ingin mendayagunakan lahan sempit dengan kegiatan usaha yang menguntungkan,”  ujarnya.

Bagi Frans dalam menekuni usaha ini dijalaninya dengan penuh semangat dan tidak pernah putus asa.
Kebiasaan orang putus harapan ketika berbicara soal mendapatkan pakan dan bibit lele.

“Soal pakan dan bibit ikan lele,  tidak ada masalah. Hanya harga pakan yang cenderung naik terus. Sedangkan untuk bibit, awalnya disalurkan dari Jawa, namun tingkat kematiannya tinggi. Saat ini saya  peroleh bibit lokal di Kupang seperti di Perikanan Noekele dan beberapa pemijah lokal lainnya,” tutur Frans.

Soal sasaran penjualan, Frans mengaku  di pasar, warung-warung tenda termasuk ada konsumen memesan langsung secara online.

Adapun harga jual per-kilo ikan Lele  Rp 35.000. Bagi Frans, usaha ikan lele adalah usaha yang tepat dan berpeluang. Dari usaha seperti ini kita akan mengerti tentang potensi ikan lele dalam lingkup pangsa pasar. ( ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *