Perempuan Jangan Dinilai Cuma Urus Dapur

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Posisi kaum perempuan saat ini sudah sejajar dengan kaum laki-laki. Isu kesetaraan gender dan emansipasi kini menempatkan kaum perempuan memiliki posisi tawar yang tinggi dalam profesi apapun.

Perempuan tidak boleh dipandang lagi sebelah mata sama seperti perempuan dahulu, dimana menempatkannya cuma di dapur. Kaum perempuan kini dengan potensi yang ada pada dirinya telah membuktikan diri sebagai sosok yang dibutuhkan masyarakat.

Pandangan ini disampaikan Wakil Direktur (Wadir) I Akper Maranatha Kupang, Awaliyah M. Suwetty, S.Kep , NS., M.Kep di ruang kerjanya, Jumat (5/3/2021).

Wanita berdarah Flores ini menuturkan, berkenaan dengan Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret 2021, secara pribadi Ia  melihatnya memang penting untuk diperingati.

Artinya, lanjut Awaliyah,  kalau bicara soal gender baik perempuan maupun laki-laki sebenarnya tidak ada lagi perbedaan. Tingkat emansipasi rata-rata sama antara perempuan dan laki-laki.

Menurut wanita kelahiran 1985 ini, perempuan tidak boleh dipandang lagi sebelah mata sama seperti perempuan dahulu.  Dimana menempatkannya cuma di dapur. Namun, melalui emansipasi dan isu-isu gender terkait dengan ini, maka perempuan dalam takdirnya  membuktikan diri sangat dibutuhkan masyarakat.

Soal bagaimana dirinya memaknai Hari Perempuan ini, Awaliyah menegaskan bahwa memang idealnya perempuan menunjukan kredibilitasnya di mata publik bahwa perempuan itu bisa.

“Tak perlu jauh-jauh. Saya  sendiri yang kini duduk di beberapa posisi yang sebenarnya cukup urgen sekali dimana sebagai Wadir I kemudian Ketua DPD PPNI Kabupaten Kupang juga merangkap dosen. Tapi ini sebuah potensi yang sesungguhnya kalau dipercayakan maka kitapun bisa,” ujarnya.

Awaliyah mengakui sampai saat ini peran perempuan masih dipandang sebelah mata. Tapi perempuan tidak boleh patah semangat. Peran perempuan jangan dipandang sebelah mata.

“Kita harus buktikan bahwa kita bisa walau  tidak sesempurna kaum laki-laki tapi minimal kita berupaya setara,” jelas wanita berparas cantik ini.

Tentang membagi waktu antara pekerjaan di rumah dan tugas yang diemban, wanita murah senyum ini mengatakan tidak ada persoalan.

Diakuinya, memang membagi waktu awalnya susah tapi karena komitmen dua pihak dimana ada motivasi dari pihak lain bahwa ini juga penting untuk membantu kondisi di rumah, maka semua dijalani dengan happy.

Motivasi sesungguhnya, Lanjutnya,  karena ada hobi tersendiri dimana dirinya punya karakter tidak berdiam diri  melakukan suatu pekerjaan. Kebetulan ini didukung penuh keluarga sehingga membagi waktu memang awal ada kesulitan tapi dukungan dari berbagai pihak akhirnya berjalan dengan baik.
Urusan rumah jalan, urusan pekerjaan jalan asalkan komitmen minimal ada ijin dari keluarga.

“Saya awal menjadi dosen di Stikes  tahun 2011 kemudian di November 2016-sekarang menjadi Wadir I. Pesan saya bahwa kita harus tahu bahwa kodrat kita itu perempuan. Posisi seperti apa dimana mengetahui tugas pokok dan peran sebagai seorang perempuan dalam arti mengurus rumah tangga tapi dilain posisi bisa mengembangkan talenta pada diri kita sebagai figur perempuan,” tegasnya.

Ditambahkannya, perempuan masih bisa berkembang dengan mengembangkan potensi-potensi dalam diri. Jangan menguburkan potensi diri tapi bisa keluarkan untuk bisa dikembangkan.

Tentang tindakan kekerasan terhadap perempuan masih cukup tinggi, Awaliyah mengakui. Saat ini banyak juga kekerasan dialami kaum perempuan dan inipun sejalan dengan thesisnya saat menyelesaikam studi S2.

Pada penyelesaian studi S2-nya, dirinya mengupas soal human traffiking dan beberapa pembahasan soal kekerasan perempuan. Kebetulan ilmu yang digeluti adalah ilmu keperawatan jiwa jadi  secara pribadi menyayangkan  kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

” Nah disitu dari hasil penelitian saya menemukan bahwa perempuan itu ada posisi tanggung jawab yang melekat pada diri dalam rumah tangga. Salah penempatan perempuan dimana tidak diberikan tanggung jawab sepenuhnya mencari rejeki. Bahwa betul laki laki mencari rejeki tapi tuntutan ekonomi perempuan juga harus turut terlibat. Jadi peran keduanya harus disamakan dulu,” katanya.

Kuncinya, tambah Awaliyah,  dikomunikasikan dengan baik maka tidak akan ada kekerasan. Harapannya kedepan, kaum perempuan harus mampu kembangkan potensi diri dan jangan dikuburkan. Jangan merendahkan diri karena potensi pada diri seorang perempuan selalu ada, tinggal dikembangkan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *