LPMP NTT Ingatkan para Guru Soal KBM Ditengah Pandemi Covid-19

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan ( LPMP)  NTT sangat serius dalam mengawasi proses pembelajaran bagi siswa ditengah pandemi Covid-19. Bagi LPMP, meningkatkan kualitas kecerdasan anak di dunia pendidikan penting, tetapi keselamatan jiwa dari pandemi inipun jangan disepelekan.

Kepala LPMP, Drs H. Muhamad Irfan, MM menyampaikan ini melalui Koordinator Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan di LPMP NTT, Kolekta Keu, S.Pd, M.Hum di ruang kerjanya, Senin (8/2/2021).

Dikatakan Kolekta, selama ini LPMP selalu memfasilitasi dinas kabupaten/kota terkait dengan pembelajaran di sekolah.

Ada beberapa sekolah yang masih menggunakan pembelajaran tatap muka (PTM) dengan menggunakan sistem C tapi ada juga sistem full belajar dari rumah (FBR). Ketika dilakukan FBR  maka guru sudah tahu distribusi siswa bagaimana membentuk kelompok kecil sehingga tidak berkerumun.

Dirinya mengakui  proses pembelajaran tetap berjalan tetapi dengan keadaan yang sangat minim. Dan selama ini LPMP berkoordinasi dengan dinas kabupaten/kota dan stakeholder bahwa pendidikan tetap berjalan. Toh tidak saja hanya di sekolah tetapi memberikan seluas-luasnya peserta didik dan orangtua untuk terlibat bersama-sama mendidik anak.

“Sehingga hasil yang diharapkan bukan saja dari sekolah seperti selama ini bahwa sekolah merupakan tujuan akhir dari pembelajaran bagi anak tapi bermitra,” jelasnya.

Selama in pada setiap kesempatan bertatap muka dengan guru-guru, kata Kolekta,  selalu Ia sampaikan bahwa di masa pandemi ini ada nilai plus buat guru bahwa selama ini ketika siswa tidak lulus atau tidak naik kelas maka sasaran pada guru. Tapi ini memberi pembelajaran bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab bersama.

“Bagaimana anak beraktifitas dengan baik  jika tidak makan pagi. Kalau asupan gizi sekedarnya saja asal makan dan pergi ke sekolah. Saya kira di masa pandemi covid-19 ini para orangtua merefleksikan diri sejauhmana mereka telah memberikan nilai-nilai pendidikan yang tidak diberikan guru di sekolah saat pandemi,” kata Kolekta.

Terkait pemahaman orangtua terhadap pelajaran pendidikan yang serba terbatas bisa berdampak pada kualitas anak sendiri,  Kolekta menegaskan bahwa biasanya disampaikan kepada guru bahwa apabila anak mengalami kendala maka guru diharapkan bisa hadir mendampingi dalam satu area.
“Tetapi mungkin tidak sekedar datang tapi melihat follow up seperti apa. Kalau dalam proses pembelajaran sesungguhnya di sekolah maka guru bisa menilai sikap anak. Tapi di masa pandemi tetap dinilai,” ungkapnya.

Kolekta mencontohkan, apabila  guru ke salah satu rumah anak pergi gembala ternak atau jual sayur.
Setelah si anak pulang tahu bahwa ada titipan dokumen maka anak akan bekerja. Saat guru datang ambil walaupun anak tidak ada tapi guru tahu bahwa anak ada kesadaran soal informasi, dia sadar bahwa dia seorang peserta didik.

Anak  memiliki nilai kepedulian walau dia jual sayur tapi dia menyelesaikan terlepas dari benar atau salah tapi harus dilihat proses bahwa ada skill mengikuti arahan guru. Dia ada informasi tambahan untuk  mencaritahu. Dia mengumpulkan dan  ada nilai kepatutan.

“Selama ini cenderung anak harus masuk kelas sementara diposisi seperti sekarang ini disaat pandemi bahwa antara kecerdasan dan keselamatan pribadi yang menjadi orientasi pertama adalah keselamatan peserta didik. Untuk kecerdasan bisa dikejar walaupun mengalami keterlambatan tapi itu lebih baik daripada fatalnya anak menjadi korban covid ketika berada di sekolah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini pihak LPMP sudah melakukan pendampingan penilaian pada saat pandemi ini berjalan. Tim mengunjungi sekolah untuk mengetahui sejauhmana keterlibatan guru. Mengetahui soal  kesadaran anak memperoleh pendidikan bukan saja di sekolah.

” Himbauan kami dari LPMP bahwa, keselamatan anak penting. Pendidikan bukan tidak penting tapi harus melewati proses. Bagaimana kita mengejar soal kecerdasan dan kepintaran namun ada korban, maka  harus juga dipertimbangkan. Bahwa mengejar ketertinggalan kecerdasan betul,  tapi kesehatan peserta didik juga harus diperhatikan,” pungkasnya.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *