Resesi Ekonomi Bisa Diatasi dengan Perkuat Basis Ketahanan Pangan Lokal di NTT

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Presiden Joko Widodo memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 akan kembali minus yakni 3 persen. Artinya Indonesia resmi masuk jurang resesi pada kuartal sebelumnya, laju ekonomi minus 5,32 persen.

Menghadapi resesi ekonomi berskala nasional ini maka untuk mengantisipasinya maka di NTT perlu penguatan basis ketahanan pangan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Lecky F Koli, STP menyampaikan ini di ruang kerjanya, Rabu (4/11/2020). Ia dimintai tanggapannya soal resesi ekonomi, apakah berdampak pada  ketahanan pangan  petani dan masyarakat.

Dikatakannya, implikasi covid-19 berdampak diberbagai sektor salah satunya sektor ekonomi.  Kalau terjadi resesi ekonomi, akan sangat berbahaya apa bila semua kebutuhan datang dari luar itu resiko tinggi dan sangat berbahaya dan diduga bisa terjadi chaos dimana-mana.

“Nah kita bisa hadapi resesi itu kalau kita punya kemampuan untuk melakukan, atau memenuhi kebutuhan kita secara lokal atau secara mandiri untuk daya tahan kita dalam waktu resesi itu berjalan,” jelasnya.

Dikatakannya,   untuk di pertanian jelas pemerintah bertanggung jawab kalau hal itu terjadi.
Dirinya juga berharap resesi  boleh berlangsung, tapi ketersediaan pangan masyarakat harus tersedia, artinya akses pangan lebih mudah di jangkau untuk di konsumsi.

” Saat ini memang kita sedang melakukan panen dibeberapa tempat baik itu padi, jagung, dan kacang-kacangan walaupun skalanya tidak terlalu luas. Tapi dengan waktu yang bersamaan, kita juga masuk dimusim tanam  untuk menanam berbagai jenis tanaman untuk membangun ketahanan masyarakat,,” jelasnya.

Dengan begini, lanjutnya, bisa suplay bahan makanan dengan berbagai aktifitas pertanian yang berjalan, baik yang difasilitasi pemerintah maupun dari masyarakat itu sendiri. Hal ini tentu masyarakat bisa terus menjalankan kehidupan.

Menurutnya, situasi resesi ekonomi itu tidak menjadi masaalah, ketika ada cadangan yang cukup dan kemudian petani atau masyarakat mudah untuk mengaksesnya. ( ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *