Siasati Dampak Covid19, Dinas Pertanian Kabupaten TTS Ciptakan Terobosan

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Dalam menghadapi Covid-19 yang belum tahu kapan berakhir, Dinas Pertanian  Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS) menciptakan terobosan-terobosan.

Lewat mottonya, ” Tiada hari tanpa tanam, tiada hari tanpa panen, tiada hari tanpa jual”  jajaran dinas ini menggerakan petani untuk berdayakan potensi-potensi lokal yang dimiliki. Dengan begitu dapat memenuhi kebutuhan pangan khususnya di Kabupaten TTS dan Provinsi NTT umumnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTS Otniel Neonane, STP, M.Si mengatakan ini saat di jumpai Wartawan di Kupang, Selasa ( 3/11/2020).

Dijelaskan Otniel, untuk kelompok  tani aneka sayuran yang dulunya masih dalam jumlah kecil, tapi sekarang semakin meningkat. Bahkan bisa memenuhi kebutuhan ketika ada pesta di masyarakat dengan aneka sayur mayur.

Berkaitan dengan ungkapan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan Provinsi NTT, Ontniel mengakui  bahwa kita belum mandiri dalam hal swasembada pangan. Tapi harus optimis untuk menguatkan semua potensi yang ada.

Dirinya mengakui, sumber daya manusia para petani dan pengetahuan tentang pengelolahan lahan serta cara menanam yang baik masih kurang.  Untuk itu dirinya merindukan kusus untuk pendamping dan penyuluh perlu ditambah jumlahnya.

“Bayangkan saja, kita punya pendamping hanya 119 orang, untuk 278 lurah/ Desa, saya kira  tidak cukup,” katanya.

Untuk itu solusinya adalah bagaimana pemerintah melihat hal ini, dan menambah lagi tenaga pendamping. Karena menurutnya, pendamping sebagai obor dan pembawa terang dalam hal membantu para petani.

“Saya selalu memberikan semangat kepada para pendamping dan penyuluh, dalam bekerja tidak boleh mengeluh, apapun yang terjadi, harus membawa terang dalam kegelapan “ungkapnya

Untuk Program Gubernur Tanam padi panen sapi( TJPS) menurutnya program yang sangat tepat, sekaligus dengan pendamping juga harus diperhatikan.  Pendamping harus menjadi prioritas sehingga program ini kususnya di Soe TTS  kalau di dampingi maka dalam musim tanam hasilnya akan luar biasa tetapi kalau dilepas sendiri, maka hasilnya akan menurun.

Otniel juga menjelaskan, bahwa infrastruktur juga menjadi kendala, ada jaringan irigasi tersalur kesawah petani dirinya ambil contoh, di Bena Kecamatan amanuban selatan tanaman padi seluas 3000 hektar lebih jaringan tersiarnya belum bagus belum cukup. Kemudian ada keterbatasan air. Di TTS banyak lahan tidur sebanyak 166.000 lebih itu dikarenakan kekurangan air.

” Solusi yang diambil, saya meminta kepada DPRD Kabupaten TTS untuk  bersama pemerintah, legislatif dan eksekutif harus memperhatikan hal ini, untuk menyiapkan air untuk pertanian lahan kering. Karena tahun 2019 masyarakat di TTS untuk kehidupan sehari hari mereka harus beli air, apa lagi kalau kita suruh tanam. Nah ini sesuatu yang harus kita perhatikan. Saya sarankan untuk kita bangun sumur bor atau sumur dangkal, embung-embung dan yang lainnya,”  tuturnya.

Lanjutnya, Keterbatasan alat mesin pertanian,  tenaga produktif banyak yang bekerja di luar TTS maupun diluar Negeri, sehingga petani atau kelompok tani perlu difasilitasi dengan alat-alat untuk membantu memperlancar pekerjaan mereka pra panen dan paskah panen, itu perlu bantuan dari pemerintah maupun pihak swasta.

Untuk perluasan lahan juga butuh alat mesin, yang juga dirasakan masih sangat kurang. Tetapi pemerintah tidak tinggal diam, terus berupaya untuk setiap tahunnya pastikan ada bantuan untuk alat mesin pertanian.

Ditanya soal bantuan benih dan pupuk, kata otniel,  terkait dengan bantuan  bibit benih di TTS  sudah mencukup. Musim tanam jagung untuk Oktober 2020-Maret 2021 bisa mencapai 70-80 hektar.

Untuk TJPS aset yang 1500, pihaknya sanggup 500 tapi kalau di Oktober 2020 40.000 untuk NTT, itu ditanam semua di TTS dan disanggupi menanam  bisa mencapai 80.000 karena ada hujan.

Jadi untuk bantuan benih di TTS, benih unggul baik bantuan dari pemerintah.  Swadaya masyarakat untuk membeli benih sampai 1 persen sudah didata baru 0, 6 persen benih unggul.

“Nah ini salah satu faktor untuk mendorong bagaimana kita mencapai swasembada. Jadi untuk benih kalau ada bantuan sampai 50 persen, saya rasa bisa mencapai apa yang masyarakat dan pemerintah cita-citakan” katanya.( ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *