Bangun Pertanian dan Ketahanan Pangan di NTT, Kadis se-Kabupaten/kota Diberi Penguatan

KUPANG. NUSA FLOBAMORA–Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara khusus menghadirkan para kepala dinas (kadis) Pertanian se-Kabupaten/kota se–NTT.

Kehadiran para kadis ini guna diberikan penguatan dan bersama-sama melakukan evaluasi setiap triwulan terhadap perencanaan dan kegiatan yang berasal dari APBN maupun APBD Provinsi, terkait dengan pembangunan pertanian dan juga ketahanan pangan.

Kepala Sub Perencanaan data dan Ekonomi Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan Provinsi NTT, Semuel Keffi, yang juga Ketua panitia pada kegiatan Rapat Konsolidasi Pelaksanaan Pembangunan Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT tahun anggaran 2020, mengatakan hal ini saat ditemui disela-sela kegiatan, di Aston Hotel Senin ( 2/11/2020).

Dirinya mengatakan, kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dan pesertanya, seluruh kepala Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota dan tenaga teknis/ Kepala bidang.

Ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan perencanaan sampai evaluasi dan setiap triwulan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan baik ditingkat Provinsi maupun ditingkat Kabupaten/kota.

Lebih lanjut Semmy panggilan akrabnya menjelaskan, kegiatan ini juga untuk mengetahui perkembangan setiap kegiatan dan sampai pada mengetahui persoalan yang mungkin ada pemasalahan yang ditemui, sehingga bisa dicarikan solusinya bersama-sama.

Saat ini ada upaya peningkatan percepatan dan yang paling penting katanya, kesiapan untuk menghadapi musim tanam. Namun menurut informasi, belum semua Kabupaten/ Kota masuk dalam musim hujan, itu info awal dari Badan Meteorologi , Klimatologi Geofisika( BMKG).

“Disinilah kita akan bersama-sama menyepakati langkah-langkah apa atau tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan untuk menghadapi musim tanam ini,” jelasnya.

Pada kegiatan inipun, dijelaskan soal komoditi-komiditi potensial apa yang di galakkan. Contohnya jagung melalui program Tanam Jagung panen sapi (TJPS). Tahun ini musim tanam Oktober 2020-Maret 2021 itu musim tanam yang pertama.

Untuk itu dapat diketahui kondisi rill di lapangan dan juga dapat informasi lengkap dari setiap Kepala Dinas ataupun bidang-bidang terkait dengan kehadiran di kegiatan ini.

Dirinya menjelaskan, kegiatan ini yang menjadi nara sumber yaitu dari Kementrian Pertanian, Kepala Sub bagian program Dirjen Kementan RI, Asep Setiadi dan Kepala Stasiun Klimatologi Klas II Kupang, Apolonarus, untuk mengetahui info iklim di NTT. Nantinya akan didiskusikan bersama dengan setiap Kabupaten / Kota dimasing-masing bidang komoditinya.

Pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan ada 4 bidang yaitu, Bidang Produksi tanaman pangan dan holtikultura, Bidang Perkebunan, Bidang Ketahanan pangan dan Bidang Penyuluhan.

Dikatakannya, terkait sarana produksi, akan mengangkat data untuk mengetahui sejauh mana penyiapan sarana produksi baik itu benih dan produksi pendukungnya.

“Nah bagian dari itu, kita akan bersama-sama menginformasikan kegiatan-kegiatan kita, walaupun belum time waktu, tetapi kita akan menyampaikan apa saja kegiatan kita di tahun 2021” ungkapnya.

Menurutnya, semua ini butuh koordinasi sehingga ketika masuk dalam tahun anggaran 2021, sudah bisa di eksekusi pelaksanaannya dengan baik. Ini adalah momen untuk saling berkoordinasi untuk berkolaborasi baik ditingkat Provinsi maupun Kabupaten/ Kota.

Peserta yang hadir sebanyak 150 orang, terdiri dari Kepala Dinas pertanian Kabupaten / Kota se-NTT,pelaksana tenaga teknis/ kepala bidang, para pejabat eselon III dan IV lingkup Dinas pertanian dan ketahanan pangan NTT.

Sedangkan Narasumber dari Kementrian Pertanian RI dan Kepala BMKG Stasiun Klas II Kupang, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT.

Dirinya menghrapkan dengan kegiatan ini akan mendapatkan data terkait dengan pelaksanaan di lapangan. Selain itu, ada upaya-upaya percepatan untuk mengakhiri tahun anggaran ini dan ingin mendapatkan info dari Kabupaten/Kota dalam menghadapi musim tanam.

“Kita juga berikan penguatan berkenaan dengan persiapan-persiapan daerah, antara lain, TJPS maupun padi sebagai komoditi ketahanan pangan masyarakat,” pungkasnya. ( ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *