Gelorakan Seni Budaya, UPTD Taman Budaya NTT Gelar Pertunjukan Musikalisasi Puisi

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui UPTD Taman Budaya NTT terus menggelorakan seni budaya warisan leluhur kepada generasi milenial. Tujuannya agar warisan seni budaya ini tidak hilang dipengaruhi arus globalisasi dan Iptek.

Langkah yang dilakukan UPTD Taman Budaya adalah menggelar Pagelaran Kesenian Daerah Tahap II tahun 2020 menggunakan metode virtual bertajuk Pertunjukan Musikalisasi Puisi tanggal 10-11 September melibatkan 20 sanggar seni.

Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi NTT, Sofian menyampaikan hal ini di ruang kerjanya, Kamis (10/9/2020). Tema pagelaran ini adalah “Hidup merdeka dengan kebaruan di masa pandemi”.

Dikatakan Sofian, kegiatan pagelaran ini merupakan lanjutan dari tahun sebelumnya dimana sudah disusun oleh bidang per bidang yang bukan sekedar seni saja yang ditampilkan. Semua bidang dilibatkan sehingga pada pagelaran ini dibagikan dalam enam tahap.

Dirinya menyebut dalam pagelaran ini menampilkan  tarian tradisional, musikalistik, musik tradisional,  teater, tarian campuran dan modern. Ini semua merupakan tahapan kedua artinya untuk pembinaan dan penataan ulang. Apalagi perkembangan kesenian yang ada sudah meninggalkan yang original.

“Jangan sampai original ini hilang karena globalisasi apalagi dengan perkembangan Iptek yang kencang. Sekarang ini anak-anak lebih menguasai seni budaya akibat pengaruh dari luar. Untuk itu kepentingan pemerintah NTT adalah membangkitkan kembali sesuai visi dan misi Gubernur yakni NTT Bangkit NTT Sejahtera,” jelasnya.

Pria asal Sulawesi Selatan ini menambahkan, semua pihak baik pemerintah maupun elemen terkait harus sama-sama harus bangkit apalagi menyangkut budaya.

“Budaya itu tertanam dalam dasar di bumi ini. Karena kalau kita tidak berbudaya maka apapun rencana kita tidak akan jadi. Kenapa musikal puisi tahap II ini kita gelar karena ini soal tari tradisional dimana kita menanamkan budaya leluhur kita,” jelasnya.

Menurutnya, kegiatan ini diberi Tajuk Musikalisasi Puisi agar melihat  perkembangan di masyarakat apakah menjadi perhatian kaum generasi milenial. Karena ada banyak hal yang terkandung di dalam musik yakni irama, punya cita-cita walaupun dalam angan.

“Walaupun dalam mimpi tapi harus jadi nyata jika ada kemauan. Contoh, di pendidikan bukan soal pandai berhitung saja tapi kalau tidak memiliki budaya, tidak ada apresiasi seni jiwa seni maka dia akan hilang begitu saja,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, pagelaran dilakukan guna melihat bagaimana perkembangan seni dan sejauh mana mereka menanggapi dengan apresiasi seni terutama di skolah.

” Kedepan mungkin gerakan seni masuk sekolah. Kita mendata dengan turun ke lapangan, berikan pembinaan, pelatihan untuk kembali ke rel. Sekarang berpakaian kain tenun saja mulai luntur. Padahal orang Timor, Alor, Sumba, Sabu, Flores kalau dia memakai kain adat maka ada cerita karena ada syair melalui motif dengan makna yang besar,” jelas Sofian.

Pemerintah NTT melalui UPTD ini, kata Sofian, perlu memberikan pencerahan. Budaya itu merupakan budi luhur yang ditanamkan dalam etika dan sopan santun yang berada di lingkup adat. Kalau seni, ekspresi manusia yang dituangkan dalam bentuk karya yang memiliki nilai estetika dan imajinasi sesuai pilihan orang.

“Harapan saya dari pagelaran ini salah satunya meningkatkan pemeliharaan budaya leluhur, meningkatkan seni budaya yang benar. Tatanan budaya penting dimiliki agar jati diri kenegaraan tidak hilang dengan memiliki budaya. Memiliki etika pribadi yang kuat. Saya yakin pemerintah NTT akan dukung dengan program ini,” pungkasnya.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *