Senator DPD RI Motivasi Warga Konsumsi Sayur Kelor Cegah Stunting

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal NTT, dr Asyera Respati A. Wundalero, menilai  stunting bukan masalah baru.  Untuk pencegahan stunting, kelor menjadi andalan.

Untuk itu para warga harus dibiasakan mengola tanaman kelor secara baik dan benar karena tanaman ini memiliki kandungan nutrisi yang dan terdapat kandungan  vitamin C cukup tinggi.

Senator dr Asyera Respati A. Wundalero menyampaikan ini pada kegiatan sosialisasi Pencegahan stunting dalam situasi pandemi covid-19 melalui pemberdayaan UMKM di Kelurahan Tunbeun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Selasa (4/8/2020).

Kegiatan ini merupakan kerja sama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia  (LAKPESDAM)  PWNU NTT, bersama Fakultas   Ilmu Politik jurusan Ilmu Politik,  Undana Kupang dan  anggota DPD RI  Provinsi NTT dari Komite 4.

Dihadapan sekitar 70 orang peserta  berasal dari kalangan PKK, posyandu , Petani dan pegawai kelurahan Tunbeun dan Kecamatan Amarasi barat ini,  anggota DPD RI Provinsi NTT, dr Asyera Respati A. Wundalero, mengucapkan terima kasih atas kehadirannya dan merespon sangat baik.

Dikatakannya, stunting bukanlah sesuatu yang baru. Untuk pencegahan stunting, kelor menjadi andalan. Kelor banyak tumbuh  di NTT yang bisa diolah menjadi makanan dan minuman teh.

” Kelor ini nutrisinya lebih baik. Tapi kita jangan salah mengolahnya, karena dalam daun kelor tersebut ada kandungan vitamin C cukup tinggi. Vitamin C tidak boleh ada pemanasan dalam 30 derajat keatas. Kalau  dia terlalu tinggi pemanasannya maka kandungan vitamin C nya hilang,” pesan dr. Asyera.

Menurut dr.  Asyera, orang NTT seharusnya tidak boleh stunting. Persoalan ini ada mungkin karena cara pengolahan kelor itu salah sehingga tetap stunting, tetap kurang gizi. Maka dari itu, pemerintah galakkan untuk masyarakat terus makan kelor.

Dokter berparas cantik dan baik hati ini menjelaskan pula soal cara memasak daun kelor yang benar.

Dikatakannya, cara memasak daun kelor yang sederhana dan  benar adalah daun kelornya di cuci bersih, keluarkan dari batangnya sambil menyiapkan bumbu. Didihkan air, masukkan bumbu kemudian daun kelor dimasukkan, tunggu 2 menit matikan api kompor.

“Kalau  kita masak terlalu lama, maka vitamin dan mineral yang ada dalam kelor akan hilang dan kita makan hanya untuk kenyang saja. Akhirnya kita pikir  kita sudah makan vitamin yang bergizi untuk nutrisi otak, ibu menyusui, ibu hamil dan anak-anak tetapi salah pengolahan akan hilang manfaatnya,” tegasnya sambil menambahkan bahwa informasi ini didapatkannya dari teman-teman peneliti.

Ditambahkan dr Asyera, terkait dengan pemberdayaan UMKM, karena dirinya berada di Komite 4 DPD RI, yang mana komite 4 ini sering mengikuti rapat kerja dengan Menteri UMKM dan Koperasi sehingga dia bisa menjembatani, mengkoordinasi apa yang menjadi permasalahan di masyarakat.

Untuk bantuan dari pusat ke daerah, dr Asyera bisa back up untuk masyarakat Amarasi Timur. Karena dalam kunjungannya, apa yang menjadi permasalahan di Kecamatan Amarasi Barat sudah ada dalam catatannya.

Sekretaris jurusan Ilmu Politik Undana Kupang, Alfridus Dara, S. FIL dalam paparan materi, ” Strategi pencegah stunting sektor formal” mengatakan, tujuan dari sosialisasi ini, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan merubah perilaku masyarakat untuk mencegah stunting sedini mungkin dengan memastikan pengembangan pesan, pemilihan saluran komunikasi dan  pengukuran dampak yang efektif, efisien, tepat sasaran dan berkelanjutan.

Menurutnya, penjegahan stunting bermula dari kesadaran dari diri sendiri mau merubah pola hidup dengan makanan dan minuman yang bergizi.

Dan juga pendekatan dalam pencegahan dan penanggulangan stunting melalui kemandirian keluarga, gerakan masyarakat hidup sehat, gerakan seribu hari pertama kehidupan dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Ketua Lakpesdam PWNU NTT, Sri Chatun dalam sambutannya dan sekaligus secara resmi membuka kegiatan ini mengatakan, kegiatan yang berlangsung ini adalah kerja sama, Lakpesdam PWNU NTT bersama DPD RI Provinsi NTT Komite 5 dan Fakultas Ilmu Politik jurusan Ilmu Politik Undana Kupang.

Sri menjelaskan, bicara stunting,  Lakpesdam adalah bagian dari lembaga  pemberdayaan yang berusaha mengembangkan inovasi.

“Kenapa kita menggandeng ilmu politik, karena seluruh kebijakkan hidup dan kehidupan bangsa dan negara ada teorinya di jurusan ilmu politik. Sehingga kami mengajak jurusan ilmu politik untuk bekerja sama  melakukan sosialisasi pencegahan stunting ,” jelasnya.

Sri yang juga dosen jurusan Ilmu politik Undana Kupang ini mengharapkan, agar para peserta sosialisasi yang hadir dari 7 desa dan 1 Kecamatan ini, bisa mengikuti dan menyimak sampai selesai.

Sehingga apa yang menjadi keluhan, hambatan yang ada di desa masing-masing yang terkait dengan UMKM melalui pemberdayaan ini, wakil dari NTT yang duduk di DPD RI, dr Asyera  Wundalero setidaknya bisa menyalurkan suara masyarakat di Amasi Barat di tingkat pusat.

Pantauan media ini, gemuruh tepuk tangan dari peserta luar biasa, dan penuh antusias satu persatu peserta dengan semangat  mengajukan pertanyaan kepada dr Asyera Anggota DPD RI Provinsi NTT ini.

Turut hadir pada kegiatan tersebut, Camat Amarasi Barat, Lurah Tunbeun, tokoh agama dan tokoh adat,  pegawai Kelurahan dan Kecamatan,  para dosen Ilmu politik. ( amperawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *