Petani di NTT Tidak Perlu Resah, Stok Pupuk Urea Subsidi Dijamin Aman

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—Kepala Acount Eksekutif PT Kaltim Wilayah NTT, Angga Andhika menegaskan, para petani di NTT idak perlu resah dan cemas terkait ketersediaan Pupuk jenis urea dari PT Kaltim.

Pupuk Urea subsidi yang dialokasi Pemerintah melalui PT Kaltim sebanyak 27.598 ton dimana
penyaluran dari bulan Januari sampai dengan Juni 2020 sebanyak 15.003 ton. Sisa Alokasi sampai dengan Desember nanti mencapai 12. 565 ton yang sudah diamankan di gudang.

Angga Andhika didampingi Staf Penjualan wilayah NTT, Deni Giri menyampaikan ini di ruang kerjanya, Selasa (21/7/2020).

Pengganti pejabat lama Didik Triyono ini mengatakan, untuk kebutuhan pupuk urea yang dialokasikan dari pusat untuk kebutuhan petani di NTT setiap tahun mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan program pemerintah di NTT yang fokus di bidang pertanian.

Pada saat ini, kata Angga, stok pupuk urea subsidi di gudang masih aman. Kami jamin itu. Petani tidak perlu resah soal stok pupuk subsidi. Dari data yang disodorkan staf, kebutuhan pupuk urea subsidi pemerintah di NTT sebanyak 27.598 ton.

“Kami sudah salurkan sejak Januari sampai dengan Juni 2020 sebanyak 15.003 ton. Sisa Alokasi sampai dengan Desember nanti mencapai 12. 565 ton sehingga saya berani sampaikan untuk pupuk dari PT Kaltim aman,” ujar Angga.

Dijelaskan Angga, untuk di NTT ada dua produsen pupuk yang dipercayakan mendistribusikan penyaluran pupuk bersubsidi. Dua produsen ini merupakan BUMN yang holdingnya pada Pupuk Indonesia yakni PT Kaltim dan Petrokimia Gresik.

“Kami di PT Kaltim khusus dipercayakan mendistribusikan pupuk subsidi jenis urea yang berwarna pink. Dan syukur alhamdulilah proses penyalurannya lancar sekitar 54 persen dan stok di gudang masih aman,” katanya.

Menurut Angga, pihaknya tetap berkomitmen dan berani jamin tidak akan ada kekurangan stok pupuk urea bersubsidi ini terutama menghadapi Musim Tanam (MT) kedua.

“Saya juga perlu sampaikan bahwa pupuk subsidi ini penyalurannya kita sesuaikan dengan alokasi yang diputuskan oleh Dinas Pertanian Provinsi. Kalau dinas merasa alokasi mulai habis ternyata masih membutuhkan, nanti itu dinas yang akan mengusulkan ke pusat,” ujar Angga.

Pihaknya hanya mengikuti apa yang sudah ditetapkan dinas provinsi dimana ada penambahan kuota subsidi maka siap diberikan yang biasa disebut relokasi antar provinsi atau antar kabupaten.

“Kalau ada petani yang perlu tambahan pupuk diluar pupuk subsidi memang ada di setiap kepulauan yang ada pada gudang-gudang yang disiapkan. Bahkan ada distributor yang sudah banyak lakukan penebusan untuk pupuk non subsidi,’ tambahnya.

Ditanya soal hambatan karena saat ini petani berhadapan dengan pandemi covid19, Angga mengatakan tidak ada persoalan. Karena petani mau tidak mau harus turun ke sawah karena ini menyangkut kebutuhan makan.

“Tapi sejauh ini aman karena petani biasanya tidak terlalu lama di sawah. Selain itu merekapun mengikuti protokoler kesehatan jadi aman,” jelasnya.

Deni Giri Staf penjualan untuk NTT menambahkan, mereka selama inipun ada pengembangan
kebun percontohan. Dimana di lokasi ini dilakukan penanaman padi dengan penerapan pupuk non bersubsidi untuk memastikan berapa hasilnya dan tanam dengan pupuk subsidi seberapa baik keunggulannya.

“Ini untuk merubah pola pikir petani. Jadi tidak tergantung dari pupuk bersubsudi saja karena itu terbatas. Kita harapkan bagaimna petani bisa manfaatkan pupuk subsidi untuk menambah produksi. Contohnya kalau pakai pupuk ber subsidi panen 5 ton dengan menambah sedikit pupuk non subsidi hasilnya bisa 7 ton,” tambah Deni.(Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *