PROFIL : Ellen I.H Tehusalawane Lukas. Sosok Sang Ibu, Sederhana Tapi Tangguh

KESAN pertama ketika menjumpai pemilik nama lengkap, Ellen I.H Tehusalawane Lukas, tidak ada terkesan kaku. Pembawaannya tenang, ramah, berwibawa dan sangat low profile. Walaupun
kesehariannya sebagai Pemimpin Bidang Pelayanan Nasabah, BNI Cabang Kupang, namun kepribadian Ellen begitu Ia disapa sangat ramah dan rendah hati.

Dalam bertutur kata, Ellen suka mendengar sebelum menjawabi lawan bicara. Runut gaya bicaranya. Sesekali melempar senyum dan tertawa lepas.

Ellen mengisahkan bagaimana dirinya bisa berkarya di bidang perbankan khususnya BNI. Alasan pertama kenapa sampai menjatuhkan pilihan berkarier di dunia perbankan, bermula bersama ayah kandungnya mendatangi Bank Dagang Negara (BDN) Kupang.

Para karyawan-karyawati yang gagah mengenakan jas dan dasi, membuat dirinya termotivasi untuk kelak bisa menjadi karyawan bank.

Dalam obrolan santai di Resto Ayam Jakarta-Kupang, Kamis (16 /7/2020) ditemani sahabat karibnya, Debi  Hadjo, Ellen mengenang masa-masa awal mula meniti karier di BNI.

Catatan perjalanan kariernya dirunut secara lengkap mulai pertama kali ditempatkan di Ruteng, Kabupaten Manggarai tahun 1995 dengan gaji perdana Rp 300.000. Tetapi sebelumnya Ellen adalah Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang.

Ellen lanjut berkisah. Pada waktu penempatan di Ruteng, orangtuanya terutama sang Ayah tidak menyetujui. Sebagai putri kedua dari 9 bersaudara, sang Ayah menginginkannya bekerja di Kupang, tidak boleh jauh dari kedua orangtua.

“Bapak sangat melindungi kami anak-anaknya. Terutama anak perempuan. Kami bersaudara 9 orang, 8 perempuan dan 1 laki-laki itu saja yang bekerja jauh,” jelas wanita pemilik berparas cantik ini.

Alasan utama keinginan untuk bekerja di Bank, kata Ellen, terobsesi pada saat  ayahnya yang seorang dosen mengajak berkunjung ke Bank Dagang Negara( BDN). Saat berada di BDN, dirinya melihat penampilan karyawan begitu cantik dan gagah. Ada keinginan untuk kelak bisa seperti mereka.

Keinginan itupun disampaikan ke ayahnya. Sang ayah agak kaget dan bertanya, kenapa putrinya ini memiliki kemauan  untuk bekerja di bank.

“Dengan polos  saya jawab,  kalau bekerja di bank saya jadi orang kaya dan akan bagi-bagi uang untuk ayah dan ibu. Itulah jawaban polos saya waktu itu,” ujar Ellen sambil tertawa.

Sebelum bekerja di BNI, dirinya merupakan dosen pada STIM Kupang setelah usai menempuh pendidikan perguruan tinggi di Universitas  Kristen Artha Wacana tahun 1994.

Pada tahun yang sama, Ellen mengikuti test di BNI tapi dirinya tidak yakin lulus  karena Bahasa Inggris-nya kurang fasih. Ternyata Tuhan punya rencana lain  lewat Doa,  profesi  dosen  ditinggalkannya dan memilih menjadi karyawati BNI dan penempatannya di Ruteng.

Ellen ingat betul kata-kata ayahnya, “Kelak kamu akan menjadi orang besar”. Dan masih segar dalam ingatannya, apabila anak-anaknya sudah bekerja, orang tuanya tidak akan mengganggu. Karena anak-anaknya punya masa depan.

Apabila kakak-kakaknya ikut membantu adik-adiknya yang masih bersekolah, boleh tetapi tidak menjadi satu tanggung jawab. Sehingga itulah yang menjadi motivasi dalam hidup Ellen.

Dalam kariernya, Ia berpindah-pindah tempat. Setelah dari Ruteng tahun 1995-1998 dirinya pindah ke Ende kemudian ke Labuan Bajo, dan pada tahun 1990 dirinya pindah ke Kupang. Kemudian di tawarkan lagi untuk pindah ke Waingapu.

“Pada tahun 2002, saya menikah dengan suami asal Ambon, Johanis Tehusalawane. Suami bekerja di Badan Pusat Statistik ( BPS)  di tempatkan di Waikabubak. Pada tahun 2004 saya pindah ikut suami di Waikabubak,” kenangnya.

Beberapa lama kemudian,  suaminya dipindahkan ke Kupang dan Ellen dipromosikan ke Wetabula, Sumba dan suami pindah ke Ambon.vPada tahun 2004 dari Wetabula dirinya kembali ke Kupang dan ditempatkan di BNI Oesapa Selatan, bertugas kurang lebih 2 tahun kemudian pindah ke Kupang Timur. Sesudah itu dirinya dipindahkan ke BNI Cabang Kupang dan menjabat sebagai  Pemimpin bidang Pembinaan Pelayanan Nasabah.

Ibu dari dua orang putra-putri  Grace dan Devid  ini, menilai bahwa orangtuanya menjadi inspirasi hidupnya. Ayahnya pernah berkata, ” Bapak tidak titipkan harta warisan untuk kalian, tapi hanya warisan pendidikan.Karena dengan pendidikan itu akan setara”.

Itulah yang menjadi dasar Ellen dalam mendidik putra-putinya, disiplin, bertanggung  dan penuh kasih sayang dalam kehidupan  kesehariannya.

Ditanya soal sosok seorang ibu dalam kehidupannya, Ellen dengan suara terbata-bata menjawab, ibu adalah seorang yang sederhana.

Ibu adalah wanita inspirasinya. Ibu yang sederhana, tapi menjadi wanita yang kuat, melahirkan dan merawat anak-anaknya dimana perempuan 8 orang dan laki-laki 1 orang, semuanya berhasil.

“Pesan sang ibu kepada kami, Wanita yang mengabdi itu menjadi nomor satu. Ibu selalu mengharapkan anak-anaknya sekalipun bekerja, kalau kita mau mengabdi, jadilah ibu rumah tangga yang baik,” kata Ellen yang menjadikan “Tuhan sebagai kekuatanku” sebagai motto hidupnya.

Ellen bercerita bahwa , dulu ibunya bekerja di Dinas PU NTT tetapi setelah menikah, ibu memilih untuk bergenti bekerja dan mengabdi untuk suami dan anak-anaknya.

Di mata Ellen, figur seorang ibu, tidak ada bandingannya. Ibu adalah sosok wanita tegar, kuat dan tangguh. Ibu adalah wonder women.
Ibu selalu menasehati bahwa menjadi istri itu harus selalu sabar, tidak boleh melawan suami. Untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis, kuncinya adalah komunikasi.

” Untuk menjadi wanita karier, kita harus berkomitmen dan keluarga selalu mensuport,” ujar Ellen, wanit kelahirab Kupang, 2 Februari 1970 ini.

Bagaimana pandangannya soal sosok para wanita karier saat ini dengan era digitallisasi, pengagum figur mantan Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti ini menegaskan bahwa wanita-wanita sekarang sungguh hebat-hebat.

Apalagi dengan wanita-wanita milenia dan akan menuju ke arah wanita-wanita yang berkeluarga. Sesibuk apapun itu, tanpa harus melupakan kodratnya.

“Pesan saya, jadilah wanita tangguh tanpa mengorbankan jati diri kita sebagai wanita. Apalagi kita ini wanita-wanita Timur. Tentunya menghargai budaya ketimuran kita. Budaya itu jangan sampai merosot, karena kita sudah merasa jadi pejabat, kita sudah merasa wanita hebat dan budaya-budaya itu kita abaikan,” pesan Ellen yang punya hobi mencintai alam ini menutupi obrolan. (Amperawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *