Petani dan Penyuluh di Rana Mese Sukses Panen Cabai Rawit

KUPANG. NUSA FLOBAMORA—-Pandemi Corona yang masih terus terjadi membawa berkah bagi para petani cabai di Kecamatan Rana Mese. Etward Meku, 27 Tahun, salah seorang anggota kelompok tani wela wangkung Desa Sita Kec.Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur yang menggeluti budidaya cabai rawit. Pada Sabtu 16/5/2020) sukses memanem cabai rawit miliknya di tengah puncak corona dan memasuki musim kemarau tahun ini.

Menurutnya, cabai rawit merupakan tanaman yang cocok ditanam saat kemarau, sehingga dirinya bisa panen setiap pekan.

“Panen minggu ini merupakan panen ketiga kalinya. Cuaca yang curah hujannya sedikit atau memasuki musim kemarau tahun ini sangat pas untuk menanam cabai rawit,” kata Etward Meku saat memanen cabai di ladang miliknya, Sabtu (16/5/2020).

Etward mengungkapkan ia mendapat bantuan benih cabai varietas Taruna dari Distan prov NTT Tahun 2019 dan tanaman cabai rawit ditanam sejak 23 Januari 2020 dan mulai di  pada bulan April 2020.

Tak ada cara khusus yang dilakukan untuk merawat tanaman tersebut. Menurut Etward, tanaman cabai hanya butuh penyiraman setiap hari.

Dijelaskan Etward berbeda dengan wilayah lain yang sudah dilanda kekeringan, selama kemarau wilayah Desa Sita Kec. Rana Mese masih memiliki air irigasi yang mencukupi untuk menanam tanaman hortikultura. Air sungai masih mengalir lancar dan bisa digunakan untuk menyirami tanaman.

“Meski kemarau, air untuk menyirami tanaman masih mencukupi,” ujarnya.

Untuk sekali panen Etward mengaku bisa memetik cabai rawit hingga 350 kilogram dan dijual dengan harga di kisaran Rp. 25.000 per kilogram. “Saat puncak musim panen seminggu bisa panen hingga tiga kali,” ujarnya.

BPP Rana Mese melalui Penyuluh Pendamping di Desa Sita, Dominggus Malung mengungkapkan musim kemarau tahun ini lebih cepat datangnya dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan musim hujan berhenti lebih cepat.
Ia mengakui jika tanaman tanaman hortikultura sangat cocok ditanam para petani di tengah musim kemarau, salah satunya cabai rawit.

“Kebanyakan petani di Rana Mese memanfaatkan tanaman hortikultura seperti cabai, terung, bawang merah dan lainnya,” ujar Dominggus.

Ia menuturkan tanaman hortikultura selain membutuhkan air yang tidak banyak, juga mudah dalam perawatan. Selain itu, hasil panen tanaman hortikultura juga bisa bersaing di pasaran.

“Jika para petani memanfaatkan lahan mereka di musim kemarau dengan menanam hortikultura, maka bisa mendatangkan penghasilan dibanding tanaman lainnya,” terangnya.

Lanjut Dominggus; petani dan penyuluh Kec. Rana Mese tetap semangat bekerja di lapangan. Hal itu sesuai instruksi Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa bahwa produksi pertanian harus digenjot tanpa mengabaikan Protokol Kesehatan.

Dalam arahannya Menteri Pertanian menyampaikan Sebagai bukti pertanian tidak berhenti dapat kita lihat dari kegiatan panen ini dimana para penyuluh tetap produktif dan selalu aktif mendampingi petani agar proses budidaya di lahan sampai masa panen dan pemrosesannya berjalan dengan baik.

Aktifitas penyuluh dan Petani sesuai arahan Kepala BPPSDM Prof Dedi Nursyamsi bahwa pertanian tidak berhenti.

“Petani dan penyuluh tetap bekerja di lahan pertanian dengan semangat, serta mendorong petani tetap produktif dalam upaya penyediaan pangan di tengah pademi covid-19,” kata Dedi Nursyamsi.(Advetorial BBPP Kupang/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *