Wujudkan Kedaulatan Bawang Merah, Petani di Manggarai Buktikan Bentuk Geliat Kostratani

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Untuk mewujudkan kedaulatan bawang merah, Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengimplementasikan program pengembangan kawasan bawang merah, hasil program pengembangan kawasan bawang merah tersebut terlihat dari NTT kini menjadi sentra bawang merah baru di Indonesia.

Pertanian menjadi salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19. Seperti yang disampaikan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL).

“Walau dalam kondisi pandemi Covid-19, pertanian don’t stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan,” kata Mentan SYL.

Dari data Early Warning System (EWS) yang sudah kita petakan, neraca kumulatif nasional bawang merah masih surplus meskipun memang masih banyak daerah yang minus.

Kawasan produksi bawang merah skala besar memang belum merata di seluruh provinsi, menghimbau daerah yang diperkirakan minus untuk melakukan gerakan tanam untuk mengurangi defisit dan ketergantungan.

Masyarakat Kabupaten Manggarai kini tidak lagi khawatir dengan ketersediaan bawang merah di dalam daerah, hal tersebut dikarenakan beberapa petani di Kabupaten Manggarai mulai beralih dari menanam padi dan jagung menjadi petani bawang merah.

Beberapa kelompok petani yang ada di Kelurahan Wangkung berhasil menanam dan memanen bawang merah dengan hasil yang maksimal. Hasil yang didapat lebih menguntungkan daripada menanam padi atau jagung.

Keberhasilan itulah yang mengundang dan mempengaruhi antusias petani lainnya untuk beralih menanam bawang merah.

Percepatan Tanam Bawang Merah pun di lakukan dengan sigap oleh Kelompok Tani Kala Rana Kelurahan Wangkung Kecamatan Reok Kabupaten Manggarai di luasan Tanah 4 ha dengan varietas local Reo, sebelum ditanam, tanah harus diolah terlebih dahulu seperti membuat genangan air yang memanjang dan saling berhubungan satu sama lainnya dan perataan tanah dan jarak dari tiap-tiap bawang untuk menanam.

Koordinator BPP Reok Agustinus R Gunardi, SP mengatakan total lahan pengembangan kawasan bawang merah di Manggarai mencapai 86 hektare. Adapun penanam hari ini (16/5) seluas 4 ha di kelurahan Wangkung.

“Semua bawang merah organik, karena menggunakan pupuk kompos dan tidak menggunakan pestisida. Saat ini fokus kami adalah memfasilitasi petani sebanyak mungkin agar melakukan cara budidaya yang sehat, seperti sekarang kami awali dengan olah lahan dan langsung tanam Bawang Merah Organik,” Ujar Agustinus.

Pertanian organik adalah pertanian jangka panjang yang memiliki manfaat sangat besar, karena selain menyuburkan tanah dalam jangka panjang, hasil produksi akan memiliki kandungan residu kimia yang rendah sehingga orang-orang yang mengonsumsinya juga sehat.

Lanjut Agustinus, saat ini masyarakat modern yang ada di kota menaruh minat besar pada komoditi pertanian berbasis organik.

” Para petani harus mampu memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan kesejahteraannya, yakni dengan menerapkan budidaya pertanian modern, dengan penerapan teknologi bercocok tanam sistem organik dan kami selaku penyuluh tetap mengedukasi dan mendampingi petani” terang Agustinus.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi merasa bangga dan mengapresiasi berbagai langkah yang dilakukan penyuluh pertanian bersama petani dalam upaya menjaga ketersediaan pangan di lapangan dalam pandemi saat ini.

“Karena masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. Pandemic COVID-19 tidak menghalangi semangat untuk berusaha tani, saat ini pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi,” tutup Dedi.

Dedi Nursyamsi juga menganjurkan agar petani senantiasa membuat secara mandiri input produksinya, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida nabati. Karena dampak positif pertanian organik dalam jangka panjang sangat menguntungkan.

“Pertanian organik memiliki berbagai pilar, yaitu lingkungan, sosial termasuk didalamnya masalah kesehatan dan ekonomi. Lingkungan menjadi alasan utama dalam bertani organik, karena bertani organik dianggap bertani yang ramah lingkungan sebab menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, khususnya pupuk dan pestisida, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,” tutur Dedi.(Advetorial BBPP Kupang/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *