Jaga Ketersediaan Pangan Ditengah Pandemi Corona, Penyuluh Motivasi Petani Budidaya Sorgum

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menekankan bahwa pertanian tidak boleh mati, pertanian harus terus hidup untuk menyediakan kebutuhan pangan rakyat Indonesia.

“Panen raya di penjuru Indonesia serentak dilakukan untuk mengamankan pangan jutaan masyarakat Indonesia. Sebelas komoditas strategis telah dipastikan aman menjelang puasa dan Idul Fitri,” tegas SYL.

Petani yang tergabung di Kelompok Tani LP Suka Maju Desa Gurung Liwut.Kecamatan Borong melaksanakan panen komoditas sorgum.

Sebelumnya Poktan LP Suka Maju melakukan budi daya tanaman sorgum. Komoditas sorgum telah ditanam dilahan seluas 5,0  hektare lebih.

“Pada Mei ini merupakan panen sorgum. Setelah kami memelihara selama 3 bulan,” ujar salah seorang petani, Mikael, Senin (9/5/2020).

Lokasi panen Desa Gurung Liwut Kecamatan Borong Kelompok Tani LP Suka Maju Potensi panen:5.0 ha. Panen hari itu 0,5 ha.varietas Sorgum Lokal produktifitas: 2,73 ton sorgum KP/ha.Perkiraan masa panen 40 hari.

Pada panen musim ini dihasilkan sekitar 2,73 ton biji sorgum dari luasan Panen 0,5 dari total luasan tanam 5 hektare. Selain biji, petani juga memanfaatkan batang dan daun tanaman sorgum yang juga bisa dijual. Pada pelaksanaannya, panen sorgum musim ini dilakukan bertahap selama beberapa hari.

“Setelah panen kita langsung menjual ke pengepul khusus sorgum. Sebanyak 1 kilogram dihargai Rp.4000  Kemudian untuk batang dan daun bisa terjual seharga Rp. 500/kg,” tutur Mikael .

Ia menambahkan, hasil penjualan sorgum kemudian dikelola oleh kelompok tani. Diakuinya dari hasil panen sorgum petani mendapatkan hasil yang lumayan.

Sorgum merupakan tanaman yang potensi mendatangkan penghasilan bagi petani. Batangnya bisa dijadikan sumber pakan ternak, buahnya bisa menjadi panganan pengganti nasi.

“Malah katanya bisa juga menjadi bahan baku pembuatan kue. Selain itu bisa buat bahan baku makanan lainnya,” ucap dia.

Menurutnya, budidaya tanam sorgum sangat mudah dilakukan, karena tidak perlu perawatan yang lebih dan tidak terlalu banyak membutuhkan air yang banyak. Namun diusahakan untuk pupuk menggunakan pupuk non organik.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian juga mengatakan, meskipun saat ini negara kita diserang wabah Covid-19 tetapi petani tetap semangat tanam, semangat mengolah dan semangat panen.
Ini membuktikan pertanian tidak berhenti.

“Penyuluh Pertanian harus aktif dan produktif mendampingi petani agar proses budidaya di lahan sampai masa panen berjalan dengan baik. Jangan sampai ada (komoditas) pangan yang tertahan,” jelas Dedi.

Eustasia Mangu selaku penyuluh pendamping  mengatakan tanaman sorgum ini bukan tanaman baru tapi sejak dari nenek moyang dimana hingga kini dibiarkan saja dan hampir punah.

. “Ini  tanaman  alternatif pengganti  beras,   Tanaman sorgum   warisan nenek moyang  kita  orang  Manggarai Timur  untuk  menjaga ketahanan  pangan” kata eustasia.

Eustasia selaku   PPL  terus menerus  motivasi  kelompok tani membudidayakan  tanaman  sorgum dan  tanaman holtikultura  meningkatkan pendapatan  masyarakat dan menjaga ketahanan pangan.

“Melihat berhasilnya panen dari kelompok tani yang ada sekarang, harapannya dapat membantu memenuhi ketersediaan pangan bagi masyarakat sambil petani terus meningkatkan produktifitasnya dalam bertani agar hasil yang ada sekarang dapat terus meningkat dalam jumlah dan juga kualitasnya itu salah satu bentuk kami mendukung program kostratani,” ungkap Eustasia.(Rilis Berita BBPP Kupang/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *