Jerami Fermentasi Produksi BBPP Kupang “Laris Manis” Diserbu Pengusaha Ternak Sapi

KUPANG.NUSA FLOBAMORA-Berkurangnya lahan hijauan makanan ternak di Kota/kabupaten Kupang membuat para peternak kesulitan untuk mendapatkan pakan ternak bagi sapi-sapinya.

Peluang ini di sambut BBPP Kupang dengan membuat pakan ternak alternative  yaitu dengan fermentasi pakan. Alhasil usaha penggemukan sapi milik BBPP Kupang  terus bertahan bahkan berkembang.

Upaya peningkatan produktivitas ternak sapi dihadapkan pada keterbatasan jumlah hijauan pakan ternak khususnya di musim kemarau, sehingga perlu dicarikan pakan alternatif untuk mensubstitusi rumput lapangan/HMT.

Salah satu alternatif untuk penyediaan pakan yang murah dan kompetitif adalah melalui pemanfaatan limbah pertanian terutama jerami padi.

Panen padi yang dilakukan oleh para petani di Desa Noelbaki Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang beberapa hari terakhir,  mebawa berkah bagi Instalasi Ternak BBPP Kupang.

Pasalnya sisa batang padi atau jerami yang telah dipanen bisa dimanfaatkan BBPP Kupang  untuk pakan ternak. Jerami juga dapat disimpan hingga berbulan-bulan untuk pakan ternak setelah dikeringkan atau di fermentasikan.

Kepala BBPP Kupang drh. Bambang Haryanto, MM mengatakan limbah pertanian pasca panen khususnya jerami dapat diolah menjadi jerami fermentasi sebagai solusi pakan ternak di saat sulitnya mencari rumput hijau karena kekeringan yang melanda.

“Jerami fermentasi itu mewakili atau mengganti rumput segar dengan nilai nutrisi hampir sama,” Ujar Bambang Jumat (8/5/2020).

Pada saat panen padi, jerami dapat diolah menjadi pakan ternak yang lebih bernutrisi dengan diawetkan dan difermentasi. Jerami fermentasi bisa bernutrisi lebih dari dua kali lipat dari jerami biasa.

“Kalau jerami biasa, protein bisa empat kalau jerami fermentasi bisa delapan atau 11 tergantung hasil fermentasi,” ujar Bambang.

Dengan teknologi itu, maka Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang  dapat memanfaatkan limbah hasil pertanian untuk ketersediaan pakan ternak yang berkualitas dan tahan lama.

Sapi seberat 300 kilogram biasanya membutuhkan pakan rumput segar paling tidak sebanyak 30 kilogram, namun dengan jerami kering maka dapat diberikan hanya 9 kilogram sehingga lebih hemat dan nilai nutrisinya hampir sama.

“Di saat kekeringan, kita ada solusi teknologi pengelolaan pakan ternak yaitu pemanfaatan hijauan lain selain rumput, karena rumput biasanya tumbuh saat musim hujan. Dengan teknologi kita bisa memanfaatkan hijauan tersebut dengan dikeringkan dan diawetkan,” lanjut Bambang.

BBPP Kupang telah memproduksi Jifer (Jerami Fermentasi),  Jerami yang di fermentasikan di kemas menggunakan Mesin Hyprees dalam bentuk bal-balan, 1 bal beratnya 35 Kg, sekali produksi menghasilkan 25-30 bal Jifer, 1 bal di hargai Rp 25.000- Rp.30.000.

Drh Bambang mengatakan, Jifer hasil produksi BBPP Kupang selain di pakai sendiri di kandang ternak sapi milik balai juga di pasarkan ke pengusaha-pengusaha ternak sapi yang ada di Kota/Kabupaten Kupang.

“Dan Alhamdulillah Jifer produksi balai diminati pengusaha ternak yang ada di Kupang,”  ujar Bambang.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta para pejabat yang membidangi fungsi peternakan menggunakan cara-cara yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhan sapi dan pangan hewani di Indonesia.

“Untuk pemenuhan pangan hewani dalam negeri, semua harus di-PAKSAKAN, yaitu singkatan dari Planning yang benar, Atensi yang besar, Knowledge, Skill, Action, dan Komitmen Atas dasar Negeri,” kata Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi menghimbau petani milenial yang keluar dari Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) harus bisa menjadi petugasformulasi dan manajemen pakan yang handal yang handal, profesional dan berjiwa wirausaha tinggi.

Indonesia akan menjungkirbalikkan keadaan dari negara pengimpor daging menjadi negara pengekspor daging.

” Kita harus memiliki daging yang berdaya saing tingg oleh karena itu Terbukti teknologi IB dan manajemen pakan harus diperhatikan dengan serius” ujarnya.(Rilis BBPP Kupang/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *