KEMBALIKAN MARWAH PANGAN LOKAL PENYULUH DAN PETANI OPTIMALKAN POTENSI PANGAN LOKAL

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–-Indonesia merupakan negara tropis dengan kekayaan biodiversitas agraris. Salah satu kekayaan sumber daya alamnya berupa ragam sumber hayati penghasil karbohidrat tinggi.

Bila dibandingkan negara lain, kita perlu bersyukur karena Indonesia mustahil kekurangan bahan pangan. Di segala penjuru, terdapat tanaman pangan lokal yang tumbuh subur.

Masyarakat kita sangat bijaksana dan memiliki pengetahuan yang tinggi dalam memanfaatkan alam untuk kehidupan, menjaga kesuburan tanah, dan kelestarian lingkungan.

Keragaman sumber hayati penghasil karbohidrat tersebut masih sangat berpotensi untuk dikembangkan, terutama untuk menurunkan tingkat ketergantungan masyarakat pada komoditas beras dan menjaga ketahanan pangan.

Masih tingginya tingkat ketergantungan pada beras menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pemerintahan yang memimpin negeri ini dalam mencukupi kebutuhan pangan masyarakat.

Mentan SYL dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak boleh tertunda apalagi berhenti. Untuk itu petani sebagai pejuang dan garda terdepan dalam penyediaan pangan tetap melakukan  kegiatan olah tanah, olah tanam hingga panen padi.

Pemerintah pun berupaya keras agar masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pangan bahwa masalah pangan tidak boleh lengah dan masyarakat tidak perlu khawatir akan ketersediaan pangan.

“Masyarakat jangan cemas dengan bahan pokok nasional selama menghadapi Covid-19, (dari) bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Lebaran 2020 mendatang. Hitungan neraca pangan kita cukup. Sebelas kebutuhan pokok kita, seperti daging, beras, cabai, jagung dan minyak cukup. Hanya ada 3 yang bersoal, yaitu daging, gula, dan bawang putih,” ujar Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan terkait 3 komoditas bahan pokok yang rentan, yaitu gula, bawang putih, dan daging sapi, petani bisa memanfaatkan peluang ini untuk menggenjot produksi pangan varietas lokal, tentunya dengan pendampingan dari para penyuluh pertanian yang ada di Kostratani.

“Awal wabah Covid-19 pasokan bahan baku ke dalam negeri sempat mengalami hambatan karena ada beberapa negara pengimpor yang memberlakukan lockdown. Kondisi ini menjadi tantangan dan peluang untuk penyuluh dan petani kita menggenjot produksi pangan lokal. Apalagi negara kita negara yang tropis, subur, dan agraris,” tuturnya.

Dalam arahannya, Prof. Dedi Nursamsi menyatakan bahwa potensi sumber pangan lokal sangat besar, hal ini karena agroekosistem Indonesia sangat mendukung pengembangan komoditas pangan lokal sebagai sumber pangan alternatif maupun pangan utama.

Selain itu pangan lokal mudah dibudidayakan, dan setiap daerah memiliki ragam pangan yang khas.

“Mari kita optimalkan potensi pangan lokal, negeri ini memiliki potensi pangan lokal yang luar biasa besar dan bisa menjadi substitusi beras sebagai makanan pokok,” jelas Dedi.

Lebih Prof Dedy menjelaskan bahwa ada banyak keuntungan mengkonsumsi pangan lokal, diantaranya adalah lebih segar, khas dan rasanya tidak kalah dengan pangan impor.

Manfaat lainnya adalah lebih aman dari kontaminasi zat berbahaya. Selain itu memiliki waktu yang lebih pendek antara panen dan konsumsi tingkat resiko kerusakannya juga kecil, serta mendukung ekonomi lokal untuk berkembang.
Konsep diversifikasi terhadap ketergantungan beras dapat dimulai dengan mengenalkan dan menghapus pandangan nilai-nilai lama yang menempatkan palawija sebagai pangan masyarakat kelas dua dan dengan mengangkat kembali potensi-potensi pangan yang dimiliki oleh masing-masing daerah.

Diversifikasi pangan lokal menghadapi tantangan perubahan pola konsumsi masyarakat. Menjadi tugas Kemtan untuk mengangkat kembali martabat pangan lokal agar tidak dipersepsikan sebagai pangan inferior

Untuk itu, dibutuhkan perubahan pola pikir yang diikuti konsistensi kebijakan agar keragaman pangan lokal yang berlimpah itu bisa dioptimalkan.

“Pertanian harus tetap kuat, apapun yang terjadi. pertanian tidak boleh berhenti. Justru di kondisi ini banyak peluang yang bisa dimanfaatkan khususnya bagi unsur penggerak seperti pelaku utama dan pelaku usaha pertanian,” ujar Dedi.

Masyarakat Penggiat Pertanian atau Petani bisa manfaatkan peluang ini untuk menggenjot produksi pangan varietas lokal, tentunya dengan pendampingan dari para penyuluh pertanian yang ada di Kostratani.

Menurut Prof Dedi  di masa kondisi covid-19 ini tak jarang masyarakat justru beralih mengonsumsi pangan lokal karena terbukti lebih sehat, alami, dan tanpa efek samping.

Seperti tanaman herbal empon-empon yang terdiri dari kunyit, sereh, temulawak, jahe, secang kini menjadi primadona karena mampu meningkatkan imunitas tubuh dan melawan covid-19.

Selain itu, Dedi juga meminta kepada petani khususnya petani milenial agar terus mengejar peluang ini.

“Manfaatkan peluang dari hulu hingga hilirnya. Dari tanam hingga meja makan. Kejar produksi dengan teknik dan cara yang modern, kejar distribusinya dengan manfaatkan teknologi online sistem, dan kembangkan usaha olahan pangannya jadi panganan sehat yang bisa dikonsumsi masyarakat terutama di masa covid-19 seperti ini. Ayo penyuluh dorong petani kita genjot pangan lokal,” ajak Dedi.

Terlebih saat ini petani milenial sudah banyak berinovasi mengembangkan usaha taninya dalam hal distribusi produk pertanian melalui online sistem sehingga masyarakat tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan pangan.

Dedi berharap penyuluh dan petani bisa bergerak bersama meningkatkan produksi pangan lokal.

“Saya berharap Penyuluh dan petani genjot produksi pangan lokal untuk gantikan pangan impor dan khususnya saya juga minta ke Duta Petani Milenial yang merupakan start up pertanian di seluruh wilayah di Indonesia agar gencar mendistribusikan produk pangan lokal unggulan di wilayahnya dengan metode modern dan mudah didapat masyarakat,” tegas Dedi Nursyamsi.(Rilis Berita BBPP Kupang/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *