PETANI MILENIAL AJAK BABINSA KEMBANGKAN PERTANIAN ORGANIK

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Bank Indonesia mempunyai Program Pengendalian Inflasi yang bertujuan untuk mendorong, menginspirasi dan mempercepat replikasi program pengembangan komoditas penyumbang inflasi dengan pendekatan klaster dimana dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan mengelompokkan kegiatan yang saling berhubungan, baik industri pendukung, jasa penunjang, infrastruktur ekonomi, penelitian, pelatihan, dan hal terkait lainnya.

Salah Satu Duta Petani Milenial Provinsi NTT yang baru saja dikukuhkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) Gestianus Sino, SP ikut berkontribusi dalam kegiatan Pengendalian Inflasi ini dengan menggandeng TNI dalam hal ini Babinsa dan generai muda lainnya untuk melakukan pembudidayaan tanaman hortikultura ( sayuran dan bua-buahan secara organik.

Dalam Program pengendalian Inflasi ini TNI sebagai Pelaksana dalam kegaiatan Hortikultura dengan menyediakan lahan dan tenaga kerja yaitu babinsa mulai dari proses Pengolahan Lahan.

Pengolahan lahan dilakukan untuk menyiapkan lahan sampai siap ditanami. Persiapan Benih dan Pemupukan Penanaman Pemeliharaan, Pengendalian OPT (Organisme pengganggu tanaman) Panen dan Pascapanen.

Peran Duta Petani Melenial dalam program ini adalah sebagai Konsultan dan Instruktur bagi TNI dalam hal ini babinsa untuk memberikan informasi, pemahaman dan pemberian pelatihan bagaimana melakukan budidaya hortikultura khususnya sayuran organik dari Tahap Olah lahan sampai pasca panennya.

Gestianus Sino merupakan satu dari 67 Duta Petani Milenial yang sukses dalam mengembangkan usaha pertanian. Gesti terpilih sebagai Duta Petani Milenial karena perannya dalam menjalankan program pemerintah yaitu Regenerasi Petani. Ia membuktikan kemampuan Pembudidayaan hortikultura ( sayuran dan buah-buahan ) organik sejak tahun 2011.

Gestianus Sino, SP selaku Duta Petani Melenial provinsi NTT sudah 3 tahun bekerja sama Bank Indonesia Perwakilan NTT sebagai Konsultan di bidang pertanian khususnya pertanian organik.
“ saya sangat senang turut berkontribusi dalam pengendalian Inflasi dari sector pertanian dan ini adalah kali ketiga saya terlibat sebagai instruktur dan konsultan untuk pertanian Organik,” ugkap Gesti.

Lanjut Gesti, sebagai Duta petani melenial punya kewajiban untuk mengembangkan pertanian lebih baik lagi mengenalkan pertanian yang maju dan modern dan mengajak orang lain terutama kaum muda untuk menyukai pertanian dan tidak hanya suka tapi menjadikan pertanian sebagai sumber penghasilan mereka.

Program Pengendalian Inflasi ini dilaksanakan dengan dukungan Bank Indonesia Perwakilan NTT untuk menyasar pembudidayaan tanaman hortikultura bagi masyarakat.

Program yang telah digagas sejak tahun 2019 itu direncanakan untuk dilaksanakan di wilayah Koramil se Kodim 1604 Kupang. Sebagai rujukan, di setiap Koramil akan dibangun demonstrasi plot (demplot) untuk pembudidayaan tanaman hortikultura.

Pembudidayaan pertama tanaman hortikultura organik dalam program Pengendalian Inflasi antara Duta petani melenial dan TNI AD dilaksanakan di wilayah Noelbaki sebagai lokasi demonstrasi plot (demplot) untuk pembudidayaan tanaman hortikultura.

Dandim 1604/Kupang Kolonel Arh I Made Kusuma Dhyana Graha, S.I.P mengatakan dirinya meminta perwakilan dari tiap-tiap jajaran Koramil untuk bisa datang belajar dengan tujuan bisa membuat program yang sama di wilayah koramil masing-masing.

Dandim Kolonel Arh I Made Kusuma Dhyana Graha pada Senin (20/4/2020) mengatakan, peran dan Kontribusi Duta Petani melenial dalam bidang pertanian sejalan dengan program dan kebijakan Kementerian Pertanian.

Hal ini sejalan dengan imbauan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam mempercepat regenerasi sektor pertanian.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar Mentan Syahrul.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan, Turunnya jumlah petani muda menimbulkan krisis petani.

Oleh karena itu regenerasi mutlak dilakukan karena mereka paling berperan dalam pembangunan pertanian di Indonesia pada era industri 4.0, karena mereka dipastikan melek teknologi dan cerdas.

Dengan lahirnya petani-petani milenial seperti Gestianus Sino, SP dan yang lainnya akan mempercepat pembangunan pertanian di Indonesia.(Rilis Berita BBPP Kupang/Amperawati).
[

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *