Geliat Petani Milenial Kembangkan Sayuran Organil di Tanah Karang Nusa Tenggara Timur

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Hingga saat ini sebagian besar masyarakat NTT masih menggantungkan hidupnya pada tanaman lahan kering seperti padi ladang dan jagung. Padahal terdapat sangat banyak potensi untuk mengembangkan komoditas pertanian lahan kering lain di daerah ini.

Petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus didorong untuk mengembangkan sistem pertanian organik Sistem pertanian yang dikembangkan harus bersifat organik dengan mendorong petani memproduksi atau menggunakan pupuk kompos atau bokashi.

Mentan SYL dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak boleh tertunda apalagi berhenti. Untuk itu petani sebagai pejuang dan garda terdepan dalam penyediaan pangan tetap melakukan kegiatan olah tanah, olah tanam hingga panen.

“ Dunia Pertanian Perlu terobosan terobosan baru baik dari segi inovasi teknologi maupun dari segi pertanamannya dan kreatifitas petani, penyuluh maupun SDM pertanian lainnya,” ujar SYL.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini usaha dan kredibilitas generasi muda di bidang pertanian semakin berkembang.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun dibidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar SYL.

Kepala Badan PPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan berdasarkan data saat ini kita memiliki 33,4 juta petani. Sejumlah 30,4 atau sekitar 91% adalah petani berusia tua. Hanya 2,5 juta atau sekitar 9%, yang merupakan petani milenial.

Untuk itu dirasa perlu pelopor pertanian yang diharapkan membuat jejaring usaha pertanian untuk menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian.

Selain sebagai penghela peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian serta produktivitas lahan dan komoditas.“Kita perlu mendorong para petani milenial untuk memajukan pertanian Indonesia secara modern,” ujar Dedi Nursyamsi.

Lanjutnya, duta-duta ini diharapkan mampu menarik generasi milenial lainnya untuk ikut berwirausaha pertanian. Selain itu mampu ikut membantu sekaligus menjadi corong positif pemerintah dalam hal ini Kementan, dengan mempercepat advokasi kepada masyarakat terutama berkaitan dengan program-program Kementerian Pertanian sehingga program tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat di lapangan yang otomatis juga mempercepat dampak positif pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Fenomena dan peluang ini di wujudkan oleh petani muda dari Kabupaten Kupang Prov. NTT Gestianus Sino, SP yang mana pada 13/04/20 di kukuhkan Menteri Pertanian sebagai pelopor atau Duta Petani Milenial bersama 67 orang petani melenial lainnya.

Pengalamannya sebagai petani muda, pria kelahiran 22 April 1983 ini membeberkan beberapa alasan mendasar yang memacunya mengembangkan usaha pertanian di Kupang.

Dalam benaknya, ia berpikir, bagaimana masyarakat bisa merekayasa lahan untuk ketersediaan pangan berkelanjutan di tengah lahan yang tidak memungkinkan dimana lahan di kabupaten kupang adalah lahan kering dan di penuhi banyak batu karang .

Gesti mengaku, pertama-tama ia harus mencungkil karang untuk mendapatkan tanah yang cocok untuk pertanian, kemudian melakukan treatment dasar dengan pupuk organik dari bahan lokal, pemilihan bibit sayur dan buah, dan penggunaan pupuk organik. bokasi/kandang dan pestisida organik.

“Pada fase ini, saya mulai melakukan kegiatan pertanian terpadu dengan menggabungkan ikan lele, ayam kampung, ternak kambing, aquaponic, semuanya dalam satu lahan. Hasilnya dijual dan kebun tersebut dijadikan sebagai sekolah pertanian,” terangnya.

Lanjutnya “Saya berhasil berhasil mencukupi kebutuhan pangan dan memperoleh penghasilan dari perjualan hasil pertanian. Ia juga membuka layanan konsultasi dan fasilitator pertanian bagi banyak orang yang datang belajar di kebunnya.
Menurutnya, pertanian begitu menjanjikan, asalkan petani menerapkan pola pertanian yang tepat.
“Bukan tidak mungkin, orang NTT dapat sejahtera dari bertani”.

selain pola pertanian, kata Gesti, seorang petani, harus fokus dan tekun serta total mendayagunakan lahan.

“Pertanian organik terpadu cocok diterapkan di NTT, karena menciptakan ketersediaan pangan, sehat dan mendukung kemandirian petani,” nilainya.

Dalam lahannya gesti menanam sayuran dan buah organik seperti Pokcoy/kaylan, brokoli, serta buah seperti papaya California dan tidak hanyaitu dalam lahanya petani melenial ini membuat konsep pertanian Organik terpadu dengan menggabungkannya denga peternakan seperti ternak kambing, Ayam Kampung dan Ikan lele.

Dari usaha Pertanian Organik terpadu dimilikinya telah menghasilkan omzet sekitar sekitar Rp.232.000.000/tahun. Soal produk yang dipasarkan, oleh Petani melenial ini masih di Kota Kupang dan sekitarnya. Seperti dipasarkan ke Hypermart Lippo, Hotel Aston, Perumahan Polda NTT dll.

Namun Saat Pandemi Covid ini Penjualan sedikit menurun sehingga dilakukan terobosan lain untuk dapat memeasarkan produknya dan kebutuhan pelanggan dari GS Organik ini tetap dapat di penuhi

“Pada masa pandemic ini Pelayanan penjualan menggunakan sistem online, tapi ada pula yang langsung ke kebun. Kami berikan layanan jasa produk, jelaskan kepada pelanggan soal hasil pertanian yang berkualitas,” jelas Gesti.

Gesti mengatakan untuk saat ini kita omong target di Indonesia itu terlalu besar, omong NTT juga mungkin terlalu besar. Kita mesti bisa lakukan di kebun dan rumah kita masing-masing. Kalau dulu kita hanya bicara ketersediaan pangan.

“ Sekarang sudah sampai pada pangan yang sehat. Ini berkaitan dengan input. Bahan-bahan kimia berseliweran di sekitar kita. Apakah itu pupuk kimia, herbisida, dan sebagainya. Ini yang membuat daya tahan dan kualitas hidup kita semakin menurun. Makanya saya konsisten dengan pertanian organik dan saya salah satu dari sedikit pegiat pertanian yang mendapatkan sertifikat organik,” ujar Gesti.

Lanjut Gesti, kita juga terus memotivasi generasi muda kita bahwa menjadi petani itu seksi dan sehat. Intinya ada tekad dan kemauan. Saat ini kita memasuki masa kelimpahan tenaga kerja.

Sayangnya hanya sedikit saja yang mau menjadi petani. Lebih banyak sarjana yang menenteng ijasah untuk melamar di kantor-kantor.

“Dunia pertanian kita bakal terancam kalau tidak ada lagi yang mau menjadi petani. Saya punya mimpi bisa menghimpun dan memberdayakan anak-anak muda untuk berwirausaha dalam bidang pertanian organik. “ ujar petani muda ini.

Menurutnya, generasi milenial juga harus mencintai dan mencium aroma tanah serta semua yang dihasilkan dari tanah. Setiap tahun ada dokter muda, ada polisi muda, ada pegawai pensiun diganti pegawai baru, tapi tidak ada petani muda.

“Petani tua hilang satu persatu, tetapi petani muda tidak ada yang datang menggantikan. Saya ajak generasi muda bahwa menjadi petani itu menjanjikan, bisa menghasilkan uang dan membuat kita sehat,” pesan Gesti.(Rilis Berita BBPP Kupang/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *