Lahan 6 Hektar di Desa Baumata Utara Ditanami Anakan Kelor

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Lahan pertanian seluas 6 hektar di Naibonat Tuamese,  Dusun Tulun, Desa Baumata Utara, milik Timotius Sanaunu, kini secara khusus ditanami anakan kelor. Kegiatan penanaman simbolis dilakukan Kadis Pertanian Dan Ketahanan Pangan NTT, Ir Yohanes Oktovianus, MM, Sabtu (15/2/2020) lalu.

Dalam rilis berita yang diterima Wartawati Nusa Flobamora di Kupang, Minggu (23/2/2020) disebutkan bahwa perhatian Pemerintah NTT melalui Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan NTT, sangat tinggi.

Hal ini ditunjukan Kepala Dinas,  Ir Yohanes Oktovianus, MM pada Sabtu (15/2/2020) lalu turun ke lapangan menanam kelor secara simbolis di Lahan  seluas 6  Hektar milik Timotius Sanaunu.

Menurut Yohanes, tanaman Kelor atau  Moringa Oleifera adalah tanaman dengan segudang manfaat. Daun kelor dipercaya banyak orang sebagai bahan makanan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Pengembangan kelor di NTT, katanya, mempergunakan 3 pola  tanggung jawab, baik oleh  masyarakat maupun pemerintah.

Yohanes menyebut,  pola pengembangan yang pertama adalah intiplasma. Intiplasma itu berupa meminta kesediaan mitra-mitra pengusaha.

“Contohnya,  penyusunan untuk bisa  membangun kebun kemudian masyarakat sekitarnya sebagai plasma artinya kita mengharapkan peran serta dari pada pengusaha,” jelasnya.

Pola pengembangan kedua, kata Yohanes, Pola pemberdayaan yaitu memberikan stimulan berupa biji marungga dab saran-saran lain tentang pengolahannya.

Dikatakannya, untuk pengolahan kelor ada 2 klaster yaitu : Pertama,  Klaster biji dan kedua, Klaster daun. Klaster biji itu ditanam dengan jarak agak jauh yaitu 4×4 meter dan 2×4 meter tergantung dari situasi lapangan dan yang dipetik bijinya.

Klaster daun, jelas Yohanes, dengan jarak tanam 1×1 meter.  Klaster daun ini juga dilengkapi  dengan pengolahan hasilnya kalau sudah skala ekonomi.

Kalau tidak ada pengolahan,  hasil daun ini terbuang percuma, terlalu berlebihan untuk di makan atau berlebihan untuk dijual. Maka harus diolah jadi produk industri,” kata Yohanes.

Pola pengembangan yang ketiga adalah krmandirian. Tujuan utamanya  adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan juga untuk menekan stunting.

“Jadi kita di NTT, angka stunting dikategorikan masih tinggi, tanaman kelor ini menjadi jawabannya,” ujarnya.

Yohanes berharap, peran dari seluruh stake holder baik itu masyarakat itu sendiri, lembaga Agama, lembaga masyarakat lainnya. Bisa bersinergi dengan kesadaran dengan menanam kelor, minimal untuk kebutuhan gizi keluarga dan juga bisa menekan angka stunting di NTT.

Secara terpisah,  penggiat  Kelor, Nelson Tlonan yang didampingi Ketua Ikatan Alumni SD dan SMP Angkasa( IKASSA) Dian Agus Yudianto, mengatakan bahwa dirinya menanam kelor diatas tanah miliknya seluas 1 hektar di Dusun Tulun Baumata Utara dari tahun 2016.

Awalnya untuk pembibitan, setelah mendapat penyuluhan banyak dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT  manfaat dari budidaya kelor. Untuk itu dirinya membentuk kelompok tani kelor dengan melibatkan masyarakat, salah satunya adalah  Timotius Sanaunu.

“Pak Timotius memiliki  lahan 6 hektar. Semuanya ditanami kelor dan bibitnya berupa biji diambil dari kebun milik saya,” kata Nelson Tlonan.

Nelson berharap dengan adanya tanaman kelor, dirinya mengajak semua masyakat agar menanam kelor. Manfaatkan lahan untuk tanam kelor. Selain membantu pemerintah NTT dalam menekan angka stunting, kelor juga bisa jadi bahan olahan industri yang menjanjikan. (ampera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *