Pemprov NTT Siap Gelorakan “Gema Agung”

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, terus menciptakan inovasi dalam hal pengembangan tanaman jagung.

Hal ini didasari bahwa jagung memiliki nilai sosial dan kultur yang penting bagi masyarakat NTT. Karena itulah pemerintah Provinsi NTT menaruh perhatian cukup besar pada program pengembangan jagung di wilayah ini, terutama melalui pengembangan pendekatan Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung atau “Gema Agung”.

Demikian diungkapkan Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan Provinsi NTT, Ir Migdonth Abola, M.Si saat di temui di kegiatan Lokakarya Finalisasi Dokumen Road Mep Pengembangan jagung di NTT  Kerja sama Dinas Pertanian  dan Ketahanan Pangan NTT, BPTP NTT dan PRISMA Jumat ( 14/2/2020) di Swiss Bellin Hotel Kupang.

Abola mengatakan , untuk meningkatkan produksi jagung di NTT lewat 2 pendekatan. Pertama, peningkatan produktifitas lewat pemberian bantuan sarana produksi seperti, benih, pupuk , pengolahan tanah itu kepada petani dengan cara demikian dirinya berharap yang tadinya 1 hektar 1 atau 2 ton jagung maka saat ini bisa mencapai 4-5 ton 1 hektarnya.

Kedua, Lewat perluasan area. Sawah yang habis tanam padi sebelumnya, masih bisa tanam jagung tapi dengan berbagai alasan untuk tidak di tanami.

” Kita selalu berupaya kepada petani setelah padi, bisa untuk jagung atau lahan -lahan kering yang masih ada dengan memanfaatkan lahan hutan, misalnya kita koordinasi dengan kehutanan agar lahan-lahan mereka itu bisa digunakan oleh petani untuk tanam jagung,” ungkapnya.

Sementara itu di tempat yang sama  Ketua Kelompok Pengkajian budi daya Pertanian dan Peternakan Pada  BPTP Ir Evert Yulianes Hosang berpendapat, bahwa untuk  memproduksi jagung  yang baik harus pakai benih yang bagus dan benih itu harus diproduksi oleh penangkar. Biasanya cari benih yang pasti benihnya salah satu dari BPTP dan BPTP menyiapkan benih.

Menurut Evert, BPTP menjamin ketersediaan benih sumber. Klas benih ada 3, 2 klas diatasnya disebut benih sumber yang lebel putih dan lebeh ungu sedangkan yang diproduksi oleh penangkar biru dan itu yang disebar untuk ditanam.

“Jadi BPTP menjamin ketersediaan benih sumber sehingga penangkar kalau mau tanam tidak kesulitan mencari benih. Penangkar-penangkarnya saat ini kebanyakan tidak kuat karena Pertama, Pemahaman perbenihan kurang dan Kedua. Strategi-strategi untuk produksi benih kurang,” ujarnya.

Ditambahkannya, di BPTP NTT ada program-program yang namanya sekolah lapang mandiri benih( SL) mandiri benih. Melalui program-program ini pihaknya menyebarkan ke beberapa Kabupaten yang membutuhkan penangkar-penangkar yang handal.

Oleh karenanya, untuk mendapatkan penangkal handal, ada sekolah lapang mandiri padi, sekolah lapang mandiri jagung. Khusus keinginan Gubernur NTT untuk meningkatkan produksi  penangkar perlu diperkuat dari BPTP NTT.

“Di BPTP juga ada program pendampingan, dimana kawasan Dinas sudah menempatkan tempat lokasi,  BPTP akan datang untuk pendampingan petani-petani yang sudah dipilih oleh Dinas untuk peningkatan produksi,” tambahnya.

Cara yang lain katanya, adalah penggunaan benih Hibrida untuk 1 hektarnya mampu memproduksi minimal 8- 9 dan kalau 1.000 hektar maka akan dihasilkan mencapai 8000 ton. Penggunaan benih hibrida ini peningkatannya sangat cepat.

Sementara itu dari PRISMA, Agnes menceritakan bahwa bentuk dukungannya  PRISMA ada 2 fase. Yang pertama, Dengan membantu langsung pembinaan penangkar, supaya penangkar -penangkar di NTT khususnya penangkar  jagung bisa memproduksi benih yang berkualitas yang lebih baik dan juga bisa memasarkan hasil produksinya.

Untuk fase kedua, menurut Agnes yaitu dari tahun 2019 – 2023 strategi PRISMA dalam membantu BPTP, lebih strategis lagi dalam hal ini yang paling utama yang sudah kita liat adalah pengembangan Roat map itu sendiri mulai dari pembenihan sampai dengan produksi dan hasil panen.

PRISMA juga membantu untuk Dinas dan BPTP bagaimna agar supaya pengembangan pembenihan jagung di NTT bisa lebih baik lagi.

Dalam pengembangan jagung di NTT, Agnes menuturkan, PRISMA membantu dalam penyediaan dan informasi  budidaya, agar petani -petani itu bisa mendapatkan informasi cara budidaya jagung dengan baik.

PRISMA juga membantu media pembelajaran yang bisa diterima oleh petani dengan penyusunan buku budidaya jagung PRISMA ( Australi Indonesia Partnership For Promoting Rural incomes Through Suport for Markets in agri Cultur). (ampera).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *