Perbedaan Jangan Sampai Menghancurkan Persekutuan Bersama

KUPANG.NUSA FLOBAMORA– Ikatan Alumni SD dan SMP Angkasa ( IKASSA) Penfui Kupang, bersama para mantan guru menggelar Natal dan Tahun Baru bersama. Acara yang digelar di Hotel Romyta Kupang,  Sabtu (18 /1/2020) ini mengambil  tema: ” Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang”.

Pdt. Yanti S. Giri, S.Th, M.Pd dihadapan para hadirin,  dalam pesan Natalnya menegaskan kembali soal tema Natal. Dirinya menilai bahwa tema ini menjadi pergumulan bersama sebagai umat manusia.

Dikatakannya, Tuhan ijinkan umat manusia mendiami dunia ini dan melakukan perjalanan bersama-sama, sebagai teman seperjalanan untuk melakukan semua kebaikan yang Tuhan tetapkan terjadi bagi dunia ini.

“Ada apa dengan kita, sehingga tema ini berlaku bagi semua orang yang merayakan Natal. Bagi semua yang mengingat kelahiran Kristus Tuhan dan Juru Selamat. Apakah ada yang salah dengan kita, dalam menjalankan hidup bersama dengan orang lain disekeliling kita yang kita sebut sesama?,” tanyanya.

Dikatakan, apakah ada yang salah dengan kita dalam menjalani hidup ditengah-tengah alam semesta pemberian Allah yang mendukung kehadiran dan kehidupan kita sehingga penting untuk kita diingatkan soal hiduplah sebagai sahabat disekeliling.

Kita, tegas Pdt. Yanti, diingatkan bahwa sesungguhnya kita berbeda, berbeda dalam apa yang dimiliki sebagai karunia Tuhan dalam dalam diri kita. Berbeda dalam asal usul, berbeda dalam latar belakang budaya, pandangan hidup, berbeda dalam keyakinan yang dipilih untuk pegang teguh dan dilakukan semua sebagai manusia.

” Kita berbeda dalam fungsi kita masing-masing, melakukan semua yang baik bagi kehidupannya. Kita juga diingatkan bahwa perbedaan itu jangan sampai menghancurkan persekutuan bersama, sebab tidak ada manusia yang mampu menjalankan hidupnya sendiri,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Guru SMP Angkasa, Bronto Asmoro yang juga sebagai sesepuh dan pencetus terbentuknya IKASSA ini mengatakan, soal bagaimana yang menjadi indikasi kegiatan reuni yang selalu dilakukan oleh banyak orang terutama dalam lembaga sekolah atau perguruan tinggi.

Dirinya menyebut, Pertama, Akan terjadi persahabatan lebih akrab dan langgeng, bukan hanya sekedar bertemu, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dalam warna yang berbeda. Kedua, Kita tidak bosan atau jenuh datang lagi dalam reuni berikutnya.

“Yang menjadi kekuatiran kita, jangan sampai hari ini kita punya komitmen mau hadir dalam pertemuan yang sangat bermartabat ini, kita boleh saling menceritakan masa lalu kita,” katanya.

Ketiga, kata Bronto,  merasa bangga memiliki teman lama yang masih ramah bersahabat dan merasa dihargai sebagai teman atau sahabat.

Pertemuan ini akan menjadi masa lalu, pada saat kita akan berjumpa lagi pada beberapa puluh tahun yang akan datang.

Menurutnya, ini satu perjalanan hidup yang perlu dicatat oleh pengurus, menjadi momen sangat penting dan perlu disosialisasikan dan perlu disampaikan kepada publik, sehingga IKASSA menjadi catatan dan teladan bahwa bukan hanya sekedar hura-hura, namun ditantang untuk bagaimana semua anggota memiliki skill memiliki sesuatu produk yang berguna bagi kesejahteraan anggota.

Keempat, Menumbuhkan kepedulian karena merasa satu alumni. Harus merasa peduli bahwa kita tidak sendiri, kita pernah punya teman.

“Dan pada hari ini kita bertemu lagi, walaupun tidak bersama keluaga kita,” sebutnya.

Bronto berharap, pengurus IKASSA yang sudah dikukuhkan, diwaktu-waktu mendatang, bisa mempersiapkan lebih baik lagi. Soal bagaimana menggalang dana dan mempersiapkan kegiatan yang lebih lengkap.
Bukan hanya didalamnya soal  liturgi saja  tetapi juga ada kegiatan-kegiatan sosial yang perlu dilakukan di tengah-tengah masyarakat.(ampera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *