BPS NTT Pastikan Jumlah Penduduk Miskin di NTT menurun

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Badan Pusat Statistik (BPS) NTT pastikan jumlah penduduk miskin di NTT mengalami penurunan.

Jumlah penduduk miskin di Provinsi NTT pada September 2019 mencapai 1.129, 46 ribu orang.
Dibandingkan Maret 2019, jumlah penduduk miskin menurun 16,86 ribu orang.

Sementara jika dibandingkan dengan September 2018, jumlah penduduk Miskin juga menurun sebanyak 4, 65 ribu orang.

Presentase penduduk miskin pada September 2019 tercatat sebesar 20, 62 persen, meningkat 0 , 47 persen poin terhadap Maret 2019 dan menurun 0, 41 persen poin terhadap September 2018.

Hal ini disampaikan Kepala BPS NTT, Darwis Sitorus didampingi Kepala Bapeda NTT dan Sekretaris BPS NTT  saat Jumpa Pers di Aula BPS Rabu( 15/1/2020).

Dikatakannya, berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret-September 2019  jumlah penduduk miskin baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan masing-masing turun sebesar 5, 5 ribu orang dan 11, 4 ribu orang.

Begitupun dengan tingkat kemiskinan, mengalami penurunan baik di perkotaan maupun pedesaan. Pada periode tersebut, tingkat kemiskinan di perkotaan turun dari 8,84 persen menjadi 8, 34 persen dan di pedesaan juga turun dari 24, 91 persen menjadi 24, 45 persen.

“Inilah perkembangan Tingkat Kemiskinan di NTT September 2018- September 2019,” kata Darwis.

Dijelaskan Darwis , bahwa garis kemiskinan dipergunakan  sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin.

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan.

Darwis juga menjelaskan, garis kemiskinan ( GK) yang terdiri dari garis kemiskinan makanan( GKM) dan garis kemiskinan  bukan makanan( GKBM).

Komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan  GKM terhadap GK  pada September 2019 sebesar 78, 04 persen.

Dikatakannya, pada September 2019, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap GK baik di perkotaan maupun di pedesaan umumnya hampir sama.

Beras masih memberi sumbangan terbesar yaitu, 25, 86 persen di perkotaan dan 36,82 persen di pedesaan. Rokok kretek filter  memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK yaitu, 11, 51 persen di perkotaan dan di pedesaan sebesar 6, 13 persen.

Sementara itu, komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap GK adalah perumahan yaitu sebesar 8, 7 persen di perkotaan dan 6, 59 persen di pedesaan.

Menurutnya,  persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan presentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

“Indeks kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, sedangkan indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin,” jelas Darwis.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *