Inflasi Provinsi NTT Tahun 2019 Terjaga di Bawah Kisaran Nasional

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Secara tahunan, inflasi harga konsumen (IHK) Provinsi NTT tahun 2019 tercatat 0, 67 Persen (YOY) dan dibawah kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 kurang lebih 1 persen (YOY).

Pencapaian ini tidak terlepas dari konsistensi Bank Indonesia ( BI) dalam menjaga stabilitas harga serta ditopang sinergi kebijakkan yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah terutama dalam tim pengendalian inflasi daerah (TPID) baik ditingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, menyampaikan hal ini saat memberikan keterangan pers terkait kinerja BI tahun 2019 di Cafe  Kopi Petir oebobo Kupang, Kamis ( 9/1/2020).

Dikatakannya, kedepan BI dalam kisaran sasaran 3, 0 kurang lebih 1 persen dan inlfasi Provinsi NTT pada kisaran 2, 5 persen – 2, 9 persen (YOY).

Dijelaskan  Atmaja, kinerja perbankan di Provinsi NTT baik dari sisi intermediasi, efisiensi maupun ketahanan masih terjaga sampai dengan November 2019.

Kredit yang disalurkan di NTT mencapai Rp 33, 61 triliun atau tumbuh 12, 76 persen (yoy), didominasi oleh kredit konsumsi mencapai 58, 65 persen, pangsa kredit UMKM di NTT mencapai 34, 67 persen melampaui target penyaluran kredit UMKM secara nasional yakni 20 persen.

Kualitas kredit bermasalah sebesar 2, 31 persen.
Penghimpunan dana pihak ketiga diperbankan baik yang berasal dari masyarakat maupun pemerintah sampai November 2019 mencapai Rp 3, 82 triliun atau tumbuh 61, 91 persen ( yoy).

Sementara i di tempat yang sama Kepala Tim Advisory dan pengembangan Ekonomi BI NTT,
Rut Eka Trisilowati, menambahkan, Koordinasi antara pemerintah daerah dan TPID berhasil dengan baik.

Hal ini ditunjukkan dengan ketersediaan pasokkan dan kelancaran distribusi. Dikatakannya, cuaca ekstrim tidak terjadi seperti tahun 2018 Desember lalu. Desember 2019 cenderung masih bisa diimbangi dan gelombang tidak terlalu tinggi. Bergeser di Januari 2020 yang gelombangnya agak  lumayan tapi masaalah bongkar muat dipelabuhan tidak ada problem.

Dirinya menjelaskan, BI untuk memfalidasi angka inflasi itu rendah, ada 2 survei yaitu, pertama adalah konsumen, kemudian pantauan harga dan terakhir data-data dari perbankan.

“Survei kita ini menunjukkan bahwa level optimisme dari konsumen antara menabung dan investasi itu lebih rendah di banding tahun 2018. Hal ini menunjukkan konsumen lebih bijaksana dalam mengendalikan keuangannya” katanya.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *