Balitbangtan-Kementan RI Ikut Peduli Masalah Stunting di NTT

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Balitbangtan), Kementrian Pertanian (Kementan) RI, ikut peduli terhadap masalah stunting di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bentuk kepeduliannya ditunjukan melalui program pengembangan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) yang saat ini sudah dikembangkan di BPTP NTT. Ayam itu nantinya akan diberikan kepada keluarga yang terkategori mengalami stunting sehingga bisa diminimalisir.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Kementrian Pertanian RI, Dr. Atien Priyanti, menyampaikan hal ini disela-sela mengikuti kegiatan kunjungan Menteri Pertanian RI di Kupang, Sabtu (14/12/2019).

Dr. Atien menjelaskan, pihaknya dari Litbang Pertanian, Kementrian Pertanian ingin berkontribusi mengurangi stunting untuk masyarakat di NTT.

Hasil inovasi dari Litbang Pertanian saat ini, jelasnya, sudah bisa melepas atau menghasilkan bibit unggul ayam lokal yakni ayam KUB atau ayam kampung unggul balitbangtan.

Ayam lokal ini telah diseleksi lebih dari 15 tahun sehingga memproduksi telur 160-180 butir per tahun. Apabila ayam KUB ini dipelihara untuk pembibitan satu ekor induk, maka mampu menghasilkan 50.000-60.000 DOC atau anak ayam umur sehari dalam waktu 1,5 tahun.

“Itu yang akan diberikan kepada rumah tangga yang mengalami stunting di NTT. Melalui BPTP NTT akan bekerjasama dengan pihak Undana, akan membantu upaya-upaya ini,” katanya.

Terkait dengan ini, kata Dr. Atien, Badan Litbang memiliki unit vertikal di setiap provinsi dan di NTT ada BPTP NTT sebagai koordinator kegiatan ini dengan menjalin kerjasama bersama PT dan masyarakat.

“Inilah tugas kami. Siapa lagi kalau bukan kita dalam upaya melestarikan class manuva ayam lokal kita. Karena ayam lokal ini cukup tahan terhadap perubahan global,” tambahnya.

Untuk keberlanjutannya, demikian Dr. Atien, pihaknya melalui tim di BPTP NTT akan mengajarkan kepada warga bagaimana cara mengolah makanan sendiri. Inipun sesuai program Kementan mengenai kemandirian pakan, juga mengedukasi warga mengenai pembibitan sendiri dengan ayam lokal yang ada dengan memberikan bimtek terkait penetasan.

“Untuk hal ini maka kami akan menjalin kerjasama dengan Undana dan juga universitas lain sesuai petunjuk gubernur dalam upaya membantu meminimalkan persoalan stunting dengan bekerjasama dengan BPTP setempat,” ujar Dr. Atien.

Dirinya berharap ayam lokal ini berkembang baik di NTT, seraya mengingatkan bahwa NTT berbatasan dengan Timor Leste sehingga program ini dilaksanakan dengan baik.

“Ayam lokal dari segi rasa agak berbeda dimana tingkat keempukannya sangat bagus. Mari kita sama-sama budidayakan ayam KUB ini sehingga menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” pintanya.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *