Komisi IX DPR RI Gandeng BPOM Sosialisasi Kewaspadaan Dini Obat dan Makanan Berbahaya

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Komisi IX DPR RI menggandeng Balai POM Provinsi NTT melaksanakan sosialisasi terkait kewaspadaan dini obat dan makanan berbahaya.

Sosialisasi melalui kegiatan Pemberdayaan Masyarakat melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) obat dan makanan kepada masyarakat ini, menghadirkan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melky Laka Lena, sebagai salah satu pembicara.

Melky Laka Lena dalam kesempatan sosialisasi di Rumah Padang Maulafa Kota Kupang, Rabu (11/12/2019) malam mengingatkan warga untuk melakukan pengawasan terhadap makanan pada setiap pesta agar masyarakat tidak mengalami keracunan.

“Makanan siap saji memang selalu rentan terhadap kandungan berbahaya. Misalnya jajanan pada beberapa sekolah yang dalam pengelolaannya dicampuri bahan berbahaya, seperti formalin, boraks dan pewarna tekstil,,” katanya.

Menurut Ketua DPD I Golkar NTT ini, penyebab lain dari keracunan ada beberapa faktor. Dirinya menyebut, Pertama, pengelolaan makanan yang salah dan tidak higinenis,.

Kedua, cara penyimpanan yang tidak higienis dan pembiaran pada ruangan terbuka sehingga terkontaminasi dengan berbagai bahan dan partikel bebas berbahaya baik dari udara, hewan seperti lalat, tikus, kecoa, anjing dan cara mencuci yang salah dan lain-lain.

Untuk pencegahan, katanya, bahan makanan yang dipersiapkan harus berkualitas baik, contoh bahan organik adalah yang terbaik yang bisa dikonsumsi.

Kedua, teliti terhadap warna dan tampilan bahan makanan yang mengandung bahan berbahaya atau tidak terutama di pasar modern.

Ketiga, perlu bijak dan tepat menyimpan bahan makanan sesuai jenis dan sifat. Keempat, pencucian bahan makanan harus dengan air bersih dan bahan pencuci yang aman.

Kelima, penting kebersihan pengelola makanan. Tidak sentuh makanan dengan tangan yang sudah dimasak. Kondisi tangan harus bersih.

Dirinya juga mengingatkan lima kunci keamanan pangan.  Pertama, memilih bahan makanan yang layak dikonsumsi. Kedua, memisahkan makanan mentah dan masak.

Ketiga, menjaga suhu makanan dalam penyimpanan. Keempat, menjaga kondisi tangan saat hendak makanan dan cucilah bahan makanan dengan air bersih dan bahan pencuci yang aman.

“Langkah-langkah penanganan keracunan makanan, antara lain melibatkan BPOM untuk penelitian sampel makanan yang disebabkan oleh keracunan makanan,” ujar spesialis Apoteker yang berjaya di panggung politik ini.

Dirinya tidak menampik soal kasus keracunan makanan di NTT. Baik yang dikonsumsi sendiri di rumah atau pesta karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan akibat kandungan berbahaya dan cara penanganannya.

“Memilih makanan yang layak dikonsumsi. Cara memilih, mengolah dan menyimpan makanan harus layak agar masyarakat paham, waspada, dan mahir sehingga tidak ada kejadian keracunan makanan lagi di NTT yang mengakibatkan kematian,” tandasnya.

Chairun Nisa, Kepala Subdit Inspeksi Pangan Steril Komersil BPOM RI, menyampaikan rahasia dan kiat memilih makanan sehat yang tidak kadaluarsa dan tak mengandung bahan berbahaya. Pastikan bahwa makanan itu aman dengan melihat label, tanggal kadaluarsa, petunjuk penyimpanan, seperti suhu, tidak bercampur bahan berbahaya lain.

Pada kesempatan ini Kepala BPOM NTT, Sem Lapik, menjelaskan, dalam pengawasan obat dan makanan berbahaya, dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat guna mengetahui soal kandungan bahan berbahaya dalam makanan.

“Masyarakat harus menjadi konsumen yang cerdas dalam mengawasi makanan agar layak dan aman, tidak berbahaya untuk dikonsumsi,” pintanya.

Peserta yang hadir dalam sosialisasi ini sekitae ratusan orang berasal dari berbagai komunitas masyarakat, pemuda dan mahasiswa. Materi yang disajikan berupa pengawasan makanan dengan sistem sosialisasi berupa tanya jawab. Peserta menanyakan soal tanggal kadaluarsa, ijin edar, label dan cara penyimpanan.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *