Wujudkan Program Literasi, SD GMIT Manumuti Adakan Festival Membaca

 

KUPANG.NUSA FLOBAMORA-–Dalam rangka Hari Anak dan implementasi Program School for Change Save The Children, di SD GMIT Manumuti, Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, berkesempatan mendapatkan kunjungan tim media dan Save the Children.

Program School for Change ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam membaca serta dapat membiasakan anak untuk menyerap informasi yang di baca dan dirangkum dengan mengolah bahasa yang di pahami.

Sebagaimana yang dipantau FigurNews di SD GMIT Manumuti, Rabu ( 20/ 11/ 2019) di dalam ruangan kelas diadakan Festival membaca dan kampanye penghentian kekerasan pada anak di sekolah.
Kegiatan lomba sebagai bentuk literasi melibatkan siswa-siswi kelas 1, 2 dan 3.

Dalam lomba ini cukup meriah. Siswa-siswi begitu antusias, dan gembira mengikuti lomba yang di bimbing oleh Guru kelas masing-masing, dan sekali-sekali meneriakkan Yel-yel, “Mantap”.

Mata lomba yang diadakan yaitu untuk kelas 1, menyusun kata menjadi kalimat. Kelas 2 lomba kelancaran membaca dan untuk kelas 3 lomba pemahaman membaca.

Guru membaca sebuah cerita kemudian memberikan pertanyaan kepada siswa-siswi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Selesai lomba, siswa -siswi yang jadi pemenang di sematkan PIN oleh guru masing-masing dan mendapatkan hadiah dari Save the children berupa piagam dan tas sekolah.

Kepala Sekolah SD GMIT Manumuti Yacob Asfes S.Pd saat ditemui mengatakan, Kegiatan yang berlangsung ini sudah dipersiapkan dengan baik.

Karena ini menyangkut literasi dan juga kampanye penghentian kekerasan terhadap anak di sekolah.
Kegiatan ini juga sudah di persiapakan 2 tahun lalu, pada saat ini baru dirasakan manfaatnya.

Menurut Yacob, bias dari Kampanye penghentian kekerasan terhadap anak di sekolah, bukan hanya disekolah saja tapi juga di masyarakat.

” Saya merasa bersyukur bahwa dari Save the cgildren dapat membantu kami dengan kegiatan ini dan memberikan suport menyangkut literasi,” katanya.

Dirinya berharap dengan adanya lomba ini, anak-anak lebih bersemangat, mentalnya juga dilatih agar berani dan bisa tampil didepan.

Di tempat yang sama guru kelas pembimbing, Yusuf Uly Lena, S.Pd mengatakan, bahwa kegiatan pertama itu hubungan dengan disiplin positif. Bagaimana mengarahkan anak, pembinaan anak itu terfokus pembelajaran di kelas.

Sebagai guru kelas bahkan guru-guru mata pelajaran, ingin melanjutkan apa yang disampaikan oleh save the children diberbagai tempat, sehingga para guru melaksanakan apa yang disampaikan itu sebagai bentuk dari pada kontinyu kegiatan yang pernah dilakukan oleh save the children.

Menurutnya, apa yang sudah diberikan save the children merupakan langkah-langkah untuk membangun karakter dari pada siswa itu sendiri sehingga apa yang dilakukan ini merupakan bagian dari pada sekolah sebagai mitra.

“Guru-guru perlu mewujudkan gagasan dari save the cildren, karena itu untuk mewujudkan komitmen positif terhadap anak dalam rangka membentuk karakter anak yang lebih baik kedepan,” ujar Yusuf.

Yosep Molan Tapun, staf Program School for Change Save The Children di SD GMIT Manumuti, Kelurahan Tarus, mengatakan, ada dua fokus tema besar yakni literasi tentang percepatan keaksaraan dan perlindungan anak.

Disebutkannya bahwa percepatan keaksaraan ada tiga model intervensi yang dilakukan di sekolah dan masyarakat. Pada sekolah terutama para guru yang mengajar kelas awal 1-3 untuk menerapkan strategi keaksaraan sehingga diharapkan di kelas 3 anak sudah bisa membaca.

“Di kelas diterapkan kaya aksara jadi anak didorong untuk mengenal huruf lebih cepat dengan belajar langsung apa yang dilihat dan disiapkan sudut baca. Juga ada asesment sebagai perbandingan antara sekolah lain yang tidak ada intervensi program ini apakah lebih baik atau tidak,” jelas Yosep.

Dia menambahkan, ada juga disiapkan pos baca dimana disiapkan literasi sehingga anak-anak bisa memanfaatkan waktu membaca yang difasilitasi desa dengan fasilitator.

Khusus perlindungan anak, pihaknya berharap sekolah dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di rumah dan sekolah.

Kampanye tanpa kekerasan akan terus dilakukan dalam upaya membangun kesadaran baik di sekolah maupun di masyarakat.(amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *