Pengelolaan Kelas Literasi, Aksara dan Ramah Anak di SDN Tunfeu I Berjalan Sukses

KUPANG.NUSA FLOBAMORA– Join Monitoring dengan metode observasi  di sekolah-sekolah  dampingan project school for change (SfC) dari Save the Children, dilakukan pula ke SDN Tunfeu I, Desa Nekamese Kabupaten Kupang.

Team yang beranggotakan Sekertaris Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang, Koordinasi pengawas, dari perpustakaan daerah, Bapeda Kabupaten Kupang dan Advokasi Koordinator Save the Children melihat dari dekat pengelolaan Kelas Literasi, Aksara dan Ramah Anak.

Kepala SDN Tunfeu I,  Meciana Obhetan, S.Pd saat dijumpai di ruang kerjanya, Jumat ( 18/10/2019) menjelaskan soal kehadiran program SfC di lembaga yang dipimpinnya ini.

Dia mengatakan,  melalui kegiatan LSM  Sayangi Tunas cilik atau Save the children ini, dari pihak sekolah merasa puas dan bersyukur  dengan bantuan yang ada. Karena bukan hanya melatih guru-guru dan anak-anak saja, tetapi juga memberikan penguatan -penguatan tentang pelaksanaan  Kegiatan belajar mengajar ( KBM) di kelas dan penekanan tentang literasi dan aksara.

“Saya sebagai kepala sekolah, mengucapkan terimah kasih kepada yayasan ini, karena dengan adanya yayasan ini sekolah SDN Tunfeu I sangat terbantu dengan pelatihan guru-guru,” katanya.

Para guru, jelasnya,  sudah ada perubahan dalam hal administrasi pengelolaan kelas literasi, aksara dan ramah terhadap anak-anak. Ini yang dirasakannya dan merupakan satu kebanggaan karena sekolahnya mendapat pendampingan dari  Save the Chidren.

Harapan dari sekolah ini, kata Meciana, Save the Children bukan saja membantu dalam hal KBM dan pembentukkan karakter anak, tetapi bantuan dalam hal ketersediaan fisik berupa sarana prasarana. Hal ini karena di sekolah ini 60 persen kebanyakan sudah rusak dan tinggal 40 persen saja yang di pakai. Sepenuhnya dirinya menaruh harapan kepada Save the Children kiranya sekolah ini bisa di bantu dalam hal sarana prasara.

Kepala sekolah yang sudah 4 tahun menjabat ini juga menjelaskan, Aparatur Sipil Negara( ASN)  yang menjadi guru di sekolah ini sebanyak 12 orang,  tenaga kontrak 1 orang, dan 1 orang  dari dana BOS untuk penjaga sekolah.

Di sekolah ini juga tersedia perpustakaan yang dikelola sendiri oleh guru -guru  dan buku-buku yang ada merupakan bantuan dari Save the Cildren, Dinas Perpustakaan  dan sumber lainnya.

Untuk murid-murid di sekolah ini dari tahun ke tahun berkurang. Tahun 2019 ini jumlah murid yang ada sebanyak 171 orang. Sehingga jumlah guru, jumlah siswa dan rombongan belajar  yang ada 7 dan guru kelas cukup, guru mata pelajaran juga cukup.

Sementara itu  wali kelas 3 , Yuliana Logha menjelaskan manfaat dari ikut pelatihan yang diadakan oleh Save the Children, dirinya bercerita yang dulunya dinding kosong tidak ada alat peraga yang mendukung belajar mengajar.

Setelah ada pelatihan aksara, Literasi dan ramah anak, dinding dan tembok kelas sudah penuh dengan aksara walaupun belum semuanya lengkap. Kedepannya menurut Yuli akan diusahakan untuk menutupi kekurangan yang ada.

Yuli menjelaskan,  setelah mereka mengikuti pelatihan dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik atau save the cildren, banyak manfaat yang diperoleh dimana selama ini ada hal-hal yang harus dilakukan tetapi mereka sebagai pengajar atau guru ada yang  tidak dilakukan.

“Bukannya kami malas tetapi karena belum mengetahui seperti apa cara menerapkan kepada siswa dalam kegiatan mengajar di kelas. Seperti  pembentukkan karakter, yang dulunya sebagai manusia juga kadang kita menghadapi anak yang nakal atau malas kerja tugas, kita guru kadang emosi, marah, tapi setelah kita mengikuti atau diklat  akhirnya kita memahami, anak harus di beri kasih sayang, rasa cinta dan ada hal-hal yang perlu kita lakukan supaya anak tidak nakal lagi dan tidak malas,” tambahnya.

Menyangkut dengan pengelolaan kelas, dirinya mengakui sudah  dilakukan dari dulu. Sebagai guru  ada hal-hal baru  yang diperoleh setelah mengikuti pelatihan atau diklat dari save the cildren.

Dia mencontohkan, guru  perlu melakukan pajangan-pajangan atau juga pohon literasi dimana di dalamnya banyak aksara yang membuat anak-anak tidak saja belajar dari buku yang diberikan. Tetapi,  saat belajar mereka juga terbantu dengan alat peraga yang dipasang di dinding. Mereka dapat mengetahui apa itu pantun, puisi, cerita -cerita dongeng.

“Dengan adanya aksara yang kita gantung di pohon literasi itu membuat mereka menjadi lancar membaca dan menulis. Disini juga ada sudut baca, biasanya sebelum mereka masuk kelas bisa baca 15 menit dan pada waktu jam istirahat. Kelas 3 ini ada kelas pararel ada kelas 3 A dan kelas 3 B dengan masing-masing kelas berjumlah 22 siswa,” tuturnya.

Atas nama para guru, dirinya berharap untuk save the cildren, pelatihan ini terus dilakukan dengan metode yang berbeda -beda agar  guru bisa menimbah ilmu lebih banyak lagi, untuk masa depan anak-anak yang lebih baik lagi.

Salah seorang murid SD kelas 1 Kristofel saat dimintai pendapatnya, dengan polosnya menjawab bahwa dirinya sudah bisa membaca.

“Beta belum lancar membaca, tapi ada buku-buku yang bagus dan gambar-gambar yang bagus buat beta senang belajar. Beta su bisa eja huruf satu-satu ibu guru bantu  beta membaca. Beta  senang ibu guru sayang ketong semua,” ujar Kristofel.

Ditanya buku apa saja yang senang di baca, Kristofel dengan cepat menjawab buku cerita perang. Dirinya bercita-cita menjadi Tentara jika kelak sudah besar nanti.(Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *