SD GMIT Babau Rasakan Manfaat Luar Biasa dari Program SfC Save the Children

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Lembaga SD GMIT Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang merasakan manfaat luar biasa dari Program School for Change (SfC) dari Save the Children.

Program SfC yang diterapkan di SD GMIT Babau selama dua tahun ini, dampaknya positif bagi anak-anak dan para guru dalam hal gairah belajar mengajar.

Kepala SD GMIT Babau,  Yusak W R Leba, S.Pd menyampaikan hal ini saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis ( 17/10/2019).

Yusak mengatakan,  selama bermitra dengan Save the Children dalam program SfC  ini, ada nilai tambah buat guru-guru.  Selama ini para guru berkutat  dengan pola mengajar sebagaimana mestinya, tapi setelah mereka mengikuti kegiatan pelatihan  SfC ada hal-hal baru yang diterpakan pada saat proses belajar mengajar.

Dampak dari kegiatan pelatihan yang sudah diikuti, katanya, guru-guru mengajar lebih bersemangat dan anak-anak juga merasa nyaman dan gembira.

“Sebelum ikut pelatihan para guru mengajar agak keras kepada anak didiknya.  Tapi setelah ikut terapan yang di berikan SfC lewat pelatihan, guru -guru bisa faham dampak dari kekerasan terhadap anak,” jelas Yusak.

Menurut Yusak, SD GMIT Babau sudah bermitra dengan Save the Children sudah 2 tahun. Sekolah ini sudah banyak dibantu lewat pelatihan. Harapannya, kedepan semua proses yang sudah berjalan akan  lebih baik lagi, ehingga anak-anak  bisa dibawa kearah yang lebih baik lagi.

Sementara itu, Guru kelas rendah 2,  Ervin Suasang,  mengatakan  kegiatan yang dilaksanakan Save the Children ini sangat membantu. Dirinya mengaku kalau selama ini di ruangan kelas tidak ada gambar apa-apa, tetapi setelah dirinya mengikuti pelatihan, dampaknya sangat bagus sekali.

“Dinding ruang kelas sudah penuh dengan aksara semuanya lengkap walaupun masih ada kekurangan akan kami benahi kedepannya.  Untuk perpustakaan kami belum ada tetapi   sudut baca, ada  sebelum mereka masuk sekolah kadang mereka membaca dulu,” ujarnya.

Untuk kebersihan, lanjutnya,  sebelum masuk kelas anak-anak harus cuci tangan dan di setiap kelas sudah disiapkan ember dan sabun untuk cuci tangan.

“Pola mengajar yang diterapkan ramah anak, kami juga bersyukur   karena SfC sudah banyak membantu dengan ikut pelatihan ramah anak, disiplin positif,” ujar Ervin.

Dirinya menambahkan, semua ilmu yang diperoleh dari program ini sudah dilaksanakan tetapi dalam kesehariannya di sekolah, mereka banyak menemui karakter anak yang berbeda-beda.

“Tetapi dengan penuh kesabaran  dan pola mengajar yang baik, semuanya bisa diatasi.  Ramah anak mungkin belum sepenuhnya dilakukan, tapi kedepannya terus kami benahi,” tambahnya.

Kegiatan Join Monitoring ini menggunakan metode observasi langsung di 6 sekolah dampingan project school  for change.Di tiap sekolah team akan melakukan observasi langsung kepada ruang kelas rendah( 1-3) untuk mengetahui bagaimana penerapan kelas kaya aksara di sekolah.

Adapun stakeholder yang terlibat adalah,  Kepala Dinas Pendidikan, Sekretaris Dinas Pendidikan, Koordinasi Pengawas, Perpustakaan Daerah, BAPEDA, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Selama 2 hari ( 17-18  Oktober 2019) team berkunjung ke kelas rendah lalu diikuti dengan diskusi bersama kepala sekolah dan guru kelas rendah untuk menggali lebih dalam best practice dan tantangan yang dihadapi oleh guru dalam implementasikan kelas print rich di sekolah.

Adapun Sekolah yang dikunjungi,  SDK St  Yoseph Noelbaki,  SD GMIT Manulai I, SD GMIT Babau,  SD Inpres Raknamo,  SD GMIT Camplong 2 dan SDN Tunfeu I.(amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *