Pemprov Benahi Pariwisata  di NTT Berbasis Masyarakat

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Provinsi NTT merupakan provinsi di Indonesia dengan destinasi wisata terbanyak kelas dunia.  Tetapi secara realitas, arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman)  posisi 2018 baru mencapai 1,03 persen secara nasional.

Wisatawan Nusantara (Wisnus)  yang pergerakan kira-kira 400 juta orang,  yang ke NTT baru 0,6 persen dan ini sangat kecil.  Padahal posisi NTT sangat strategis dekat dengan Australia dan RDTL yang sumbangan kunjungan wisatawan ke Indonesia cukup besar sekitar 9 juta lebih tapi ke NTT sangat kecil.

Kepala Dinas Pariwisata NTT,  Dr. Ir. Wayan Dharmawa, ST menyampaikan hal ini ketika menjadi nara sumber pada kegiatan Expo data pariwisata dan perannya dalam perekonomian NTT di Hotel Sotis, Kupang, Selasa (24/9/2019). Hadir juga Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaelapia, SE. M.Si.

Menurut Wayan, pemerintah NTT melalui Dinas Pariwisata NTT kini tengah mencari pola pengembangan sektor pariwisata tidak lagi seperti pengalaman sebelumnya.

Pariwisata NTT saat ini dibangun berbasis masyarakat. Artinya peran serta masyarakat harus diutamakan sehingga tidak terkesan pariwisata maju tetapi masyarakat jadi penonton.

Pemerintah membenahi jaringan antara satu destinasi dengan destinasi lain dihubungkan dengan aksebilitas laut, darat, udara. Memang masih banyak tantangan tapi sudah ada gerakan sesuai target 2021 akan optimal. Sekarang mulai kelihatan dengan partisipasi warga.

“Kita bangun pariwisata tentu melalui suatu indikator dimana harus ada spirit membangun dari semua pihak. Kita sudah lakukan melalui  festival yang berbasis masyarakat secara partisipatif seperti baru-baru  di Alor. Melibatkan 24 kecamatan, partisipasi semua sektor dan ini yang diharapkan Pak Gubernur,” katanya.

Wayan mengharapkan komitmen bersama.Pemerintah punya tekad yang kuat membenahi pariwisata tetapi harus didukung penuh masyarakat.

” Bangun pariwisata tidak parsial tapi harus saling terkait antar sektor. Selama ini setiap even jalan sendiri-sendiri tapi sekarang antar pihak saling terkait. Festival harus dirubah polanya berupa transaksi ekonomi. Jadi  sistem paket dan kita akan mulai selenggarakan di Semau nanti,” ujarnya.

Dirinya mengakui untuk meningkatkan perekonomian NTT melalui pariwisata maka pembenahan harus dilakukan karena NTT kaya akan destinasi alam yg luar biasa, destinasi budaya,  suaka margasatwa dan buatan.(Amperawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *