Faperta Undana Gelar Festival Tanaman Hias dan Buah 2019

 

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Fakultas Pertanian (Faperta) Undana untuk ke-empat kalinya menggelar Festival Tanaman Hias dan Buah tahun 2019.

Festival yang digelar selama tiga hari (4-7 September) ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Undana ke 57 sekaligus Dies Natalis Fakultas Pertanian ke 37.

Adapun tujuannya, para hobires pertanian  berkumpul untuk saling bertukar pikiran diantara mereka dan ajang pembelajaran para mahasiswa sehingga kelak menjadi wirausahawan sukses.

Ketua Panitia Festival Tanaman Hias dan Buah 2019, Faperta Undana,  Yacobus Saubelan, SP; M.Si menyampaikan hal ini di Undana, Rabu (4/9/2019).

Yacobus menegaskan, ajang Festival yang digelar ini  merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Undana ke 57 sekaligus Dies Natalis Fakultas Pertanian ke 37. Ini rutin dilaksanakan setiap tahin dan saat ini memasuki tahun keempat. Biasanya digelar bulan Sptember sebelum puncak Dies Natalis tanggal 7 September.

Menurutnya, tujuan Festival ini, merupakan even buat  hobires pertanian untuk berkumpul  untuk saling bertukar pikiran diantara mereka.

Selain itu, bagi  mahasiswa Faperta  sebagai sarana belajar karena fakultas mendorong mahasiswa kedepan  memiliki  jiwa wirausaha. Ajang ini dijadikan contoh bahwa ini peluang usaha dalam bidang pertanian masih sangat besar.

Tentang jenis perlombaan di ajang festival selama tiga hari itu, dirinya menguraikan, jenis mata lomba tanaman hias, buah dalam pot, tanaman sayur dalam pot, kuliner, merangkai bunga dan sayur dalam pot.

“Total peserta lomba memang mengalami peningkatan. Untuk festival  tahun lalu total 102 peserta dan saat ini 105 peserta untuk lomba. Kita batasi karena kalau dilepas begitu saja tidak bisa menampung di lokasi,” jelasnya.

Peserta yang ikut lomba, kata Yacobus, instansi terkait, kelompok tani, kelompok wira usaha mahasiswa, wira usaha alumni Faperta Undana, politani, pengrajin tenun. Kriteria lomba khusus  merangkai bunga, peserta diwajibkan cuma merangkai  satu kuntum bunga untuk mengukur kreatifitas peserta dan bahannya natural.

“Saya menilai bahwa even inipun sangat menguntungkan karena perputaran uang tinggi. Dari jual beli bunga saja keuntungan yang diraih peserta mencapai Rp 30 juta,” beber Yacobus.

Ditanya soal dibawa keluar kegiatan festival seperti ini bukan cuma di Kampus Undana, Yacobus sepakat. Apalagi hal yang sama pernah diusulkan  Gibernur NTT, Viktor Laiskodat bahwa namanya festival bukan peserta ratusan tapi lebih banyak.

Inipun memberi gambaran ke orang luar bahwa  NTTbukan daerah kering tapi potensinya luar biasa.

Harapan kedepan pelaksanannya  lebih baik dan bisa memberi cerminan bahwa NTT tidak kering tetapi memiliki potensi yang luar biasa.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *