Angka Kematian Ibu Tinggi Dipicu “Tiga Terlambat” dan “Empat Terlalu”

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Angka kematian ibu secara nasional memang cukup tinggi. Hal ini karena dipicu “Tiga Terlambat” dan “Empat Terlalu”. Untuk menekan tingginya angka kematian ini maka tidak bisa hanya dilihat dari aspek medis atau kesehatan tapi semua aspek. Peran semua pihak harus saling berkoordinasi baik dari tingkat provinsi sampai ke kabupaten/kota.

Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dr. Ir Pribudiarta Nur Sitepul menyampaikan hal ini dalam acara Rapat Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tingkat Provinsi NTT, Rabu (26/6/2019).

Menurut Sitepul, kematian perempuan atau ibu ini memang tantangan kita semua. Fenomena kematian ibu itu sifatnya kompleks sehingga tidak bisa ditangani secara parsial atau terpisah- pisah.

Kematian ibu, jelasnya, bukan masalah medis kesehatan tapi karena “Tiga Terlambat” dan “Empat Terlalu”. Bukan semata ibu terlambat ke puskesmas tapi kenapa sampai terlambat misalnya masalah sosialbudaya yang mempengaruhi.

“Kami temukan kasus misalnya ibu terlambat ke pustu karena suami tidak ijinkan, tidak ke pos pelayanan terdekat karena masalah transportasi, infrastruktur. Jadi bukan medis saja. Jadi penanganan seperti ini tidak sektoral tapi terintegrasi,” katanya.

Sitepul berharap melalui Dinas PPA Provinsi juga kabupaten/kota dan instansi terkait di daerah saling sinerji berkoordinasi sehingga bisa menekan angka kematian ibu. Peran tokoh agama, tokoh masyarakatpun penting dalam memberikan pemahaman soal ini.

Untuk diketahui, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi. Tingginya AKI antara lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan yang tidak ideal atau yang disebut “4 terlalu” dan situasi yang diindikasikan dengan ‘3 terlambat’.

Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip dalam dialog nasional “Tanggung Jawab Bersama Mengurangi Kematian Ibu dan Balita” di Jakarta, Senin (10/5/2010) menyoroti permasalahan ini.

Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, mencatat AKI mencapai 228/100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan, tiap jam terjadi 2 kematian ibu.

Dr. Dewi Motik menyampaikan tingginya AKI antara lain dipicu oleh 4 kondisi kehamilan yang tidak ideal yang disebut ‘4 terlalu’ yang berdasarkan data SDKI 2007 adalah:

Pertama) Kehamilan terlalu muda (kurang dari 18 tahun) menyebabkan 3 persenkematian ibu di Indonesia.

Kedua) Usia yang terlalu tua untuk hamil (di atas 34 tahun) yakni 4,7 persen.

Ketiga) Jarak kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) 5,5 persen.

Keempat) Kehamilan terlalu banyak (lebih dari 3 anak) 8,1 persen.”

Untuk mencegah 4 kondisi tidak ideal itu dibutuhkan pengaturan kehamilan melalui alat kontrasepsi. Tujuannya dibagi menjadi 3 yakni tujuan yakni untuk menunda, menjarangkan dan membatasi kehamilan.

Sementara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip. mengungkap bahwa tingginya AKI dipicu oleh sebab langsung dan tidak langsung. Sebab langsung antara lain perdarahan, aborsi, eklamsia dan partus lama. Keempatnya menyumbang 70 persen AKI.

Sementara sebab tak langsung antara lain tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya dan akses trasportasi. Situasi ini diindikasikan dengan ‘3 Terlambat’ yaitu:
Terlambat mengambil keputusan, sehingga terlambat untuk mendapat penanganan.Terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi.Terlambat mendapat penanganan karena terbatasnya sarana dan sumber daya manusia.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *