BPTP Balitbangtan NTT Kembangkan Varietas Lamtoro Taramba di Perbatasan RI-RDTL

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–BPTP Balitbagtan NTT terus berinovasi membantu petani di perbatasan RI-RDTL tepatnya di Talikabas, Desa Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu. Inovasi cerdas yang dilakukan adalah pengembangan Pakan Ternak berupa lamtoro Taramba.

Mengutip Rilis dari BPTP Balitbangtan NTT, Jumat (21/6/2019) dijelaskan, peternakan merupakan salah satu sektor unggulan di NTT. Tersedianya areal padang penggembalaan memungkinkan penggembalaan ternak bebas mendominasi sistem peternakan di NTT.

Namun, saat ini daya dukung lahan semakin terbatas, terlebih pada musim kemarau. Untuk memaksimalkan daya dukung lahan di musim kemarau maka BPTP Balitbangtan NTT mengembangkan salah satu varietas lamtoro yang sudah berkembang baik di NTT yaitu varietas taramba.

Kegiatan pada Kamis (20/6/2019), menghadirkan tim Peneliti BPTP Balitbangtan NTT, Dr. Ir. Sophia Ratnawaty, M.Si, Ir. Evert. Y. Hosang, Ph.D, dan Yanuar Achadri, S.Pt, M.Sc. Tim melaksanakan Bimbingan Teknis tentang Budidaya dan Pengembangan Lamtoro Taramba sebagai Pakan Ternak di Wilayah Perbatasan RDTL-RI lokasi di Talikabas, Desa Sadi.

Acara Bimtek ini dihadiri oleh 50-an peserta dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu diwakili oleh Ir. Katarina F. Saik, selaku Kabid. Penyuluhan, Kepala Desa Sadi, PPL, kelompok tani Sinar Harapan, Talidikin, dan Siata Mauhalek.

Kelompok tani-ternak ini mempunyai semangat dan inovasi cerdas, hal ini telah dibuktikan pada tahun 2017 mulai membudidayakan kebun Lamtoro Taramba seluas 11,4 Ha. Setelah acara Bimtek ini pada musim penghujan akan dilakukan perluasan dan pengembangan tanaman lamtoro taramba di lahan seluas 15 Ha.

Dalam Bimtek ini Dr.Ir.Sophia Ratnawaty,M.Si menjelaskan keunggulan lamtoro taramba, antara lain: mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi (23.7% – 34%), mudah didapat sepanjang tahun, mengandung tannin sehingga dapat mencegah kembung pada ruminansia, mempunyai palatabilitas tinggi, tahan terhadap hama kutu loncat serta tahan pada musim kering yang sangat cocok dikembangkan di wilayah perbatasan RI-RDTL seperti di Kec. Tasifeto Timur.

Cara budidaya lamtoro taramba yang perlu diperhatikan ada 3 tahap, yaitu: pembibitan, penanaman, dan panen. Pembibitan lamtoro taramba dapat dipersiapkan dengan anakan yang dikoker (pot seeded) kurang lebih selama 2 bulan.

Pada saat anakan sudah mencapai tinggi tanaman 75-100 cm, maka dipindahkan di lahan untuk dilakukan penanaman. Sistem pola penanaman dapat dalam bentuk monokultur khusus untuk kebun pakan, dalam bentuk pertanaman lorong, atau tanaman konservasi tanah dan air pada lahan berkelerengan maupun dalam larikan-larikan lebar dengan baris ganda untuk digembalakan ternak secara langsung.

Tanaman lamtoro Taramba sudah siap dipanen ketika memasuki musim hujan ke dua setelah penanaman. Jika dibudidayakan untuk tujuan penggembalaan, tanaman perlu dipangkas setinggi 50 cm atau 1 meter setiap 4 tahun sekali untuk memudahkan bagi jangkauan ternak gembala.

Pemberian lamtoro taramba ke ternak dapat diberikan sebagai pakan tunggal 100%, atau  dengan kombinasi 60% rumput + 40% lamtoro, atau 60% rumput + 40% lamtoro + sedikit pakan sumber energi seperti jagung, dedak padi atau umbi-umbian sebanyak 0,2% – 0,3% BK dari berat badan ternak.

Pada agenda bimtek ini dilanjutkan dengan acara penyerahan benih lamtoro taramba dari BPTP NTT kepada petani dan kunjungan ke lahan lamtoro taramba milik petani peternak. Kegiatan Bimtek ini sangat direspon positif oleh masyarakat petani peternak, sehingga upaya pemerintah ke depan dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak di wilayah perbatasan (RDTL)-RI dapat tercukupi dengan baik. (*/ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *