Petani Perbatasan RDTL-RI Dapat Ilmu Gratis dari Peneliti BPTP NTT

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Para petani di perbatasan RI-RDTL khususnya di Desa Tohe, Kecamatan Raihat-Belu mendapat ilmu gratis dari tim peneliti BPTP NTT, Rabu (20/6/2019).

Tim peneliti BPTP NTT yang beranggotakan, Dr. Ir. Sophia Ratnawati, M.Si, Ir. Evert Y. Hosang, M.Si, Ph.D, dan Yanuar Achadri, S.Pt, M.Sc ini memberikan Bimbingan Teknis tentang Budidaya Jagung Hibrida jenis NASA 29 dan BIMA 20 URI.

Dalam rilis BPTP NTT disebutkan, bimbingan teknis ini diikuti 70 peserta seperti R.Belle Bau selaku Camat Raihat, Bambang selaku Sekertaris Dinas Pertanian Belu, Rafael Tuka selaku Kabid. Tanaman Dinas Pertanian Belu, PPL, Pendamping Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), mahasiswa PKL, dan kelompok tani.

Pada kesempatan ini para kelompok tani menyampaikam tekad untuk meningkatkan produksi jagung dengan cara menyediakan luasan lahan 28 Ha untuk ditanami jagung hibrida Badan Litbang. BPTP Balitbangtan NTT berperan dalam pendampingan dan memfasilitasi benih jagung hibrida Badan Litbang (NASA 29 dan BIMA 20 URI) sebanyak 750 kg, pupuk Phonska, pupuk Urea, dan herbisida untuk proses pemeliharaan jagung.

Tim peneliti dari BPTP Balitbangtan NTT menyampaikan penjelasan kepada petani mengenai jagung NASA (Nakula-Sadewa) 29 dan BIMA 20 URI. Keunggulan jagung hibrida NASA 29 yaitu dapat bertongkol dua dengan persentase ≥ 90 persen pada kondisi lingkungan yang sesuai, pengisian biji pada tongkol penuh dan kelobot tertutup sempurna, batang kokoh, rendeman tinggi, janggel keras, tahan terhadap serangan hawar daun, penyakit bulai dan busuk tongkol.

Warna batang dan daun di atas tongkol masih hijau saat biji sudah masak atau waktu panen sehingga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. NASA 29 mempunyai adaptasi yang cukup luas baik di dataran rendah sampai dataran tinggi, memiliki gen prolifik yang dapat mencapai 70% pada dataran tinggi (>1000 m dpl), potensi hasil 13,5 t/ha dan rata-rata hasil 11.93 t/ha.

Keunggulan jagung hibrida BIMA 20 URI antara lain; potensi hasil tinggi 12,5 t/ha, tahan terhadap penyakit bulai, toleran penyakit karat dan bercak daun, toleran kekeringan, tahan rebah akar/batang serta stay green.

Varietas ini lebih menguntungkan jika ditanam pada lahan sawah atau tadah hujan pada musim kemarau di lahan sawah atau lahan kering yang sangat cocok di wilayah perbatasan RI-RDTL seperti di Desa Tohe. Keragaan fisik tanaman BIMA 20 URI disukai oleh petani karena batangnya yang kokoh, besar dan berdaun lebar.

Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam penanaman jagung antara lain; tidak boleh di lahan tergenang air, pengendalian gulma selama masa pertumbuhan tanaman jagung, lahan tidak ternaungi pohon besar, lahan terhindar dari masuknya ternak sapi/kambing dan pengairan yang tepat. Sistem pola tanam menggunakan jarak tanam 75 x 40 cm dengan menyisakan 2 tanaman/ lubang. Pemupukan dengan pupuk phonska 100-200 kg/Ha dan urea 200 kg/Ha. Pemberian pupuk sebanyak 2 kali yaitu pada umur tanaman 1 minggu setelah tanam dan 6 minggu setelah tanam.
Pada agenda bimtek ini dilanjutkan dengan acara penanaman Jagung Hibrida Badan Litbang secara simbolis oleh kelompok tani dan BPTP NTT. Para petani memiliki semangat dan motivasi tinggi dalam mengikuti rangkaian kegiatan Bimtek. Harapan para peneliti semoga melalui program kegiatan dukungan inovasi pertanian ini dapat meningkatkan pendapatan petani daerah dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan (RDTL)-RI. (*/ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *