BPTP-Balitbangtan  NTT Suport Pengembangan Tomat Lokal di Lahurus, Kabupaten Belu

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan)  NTT mensuport  pengembangan Varietas tanaman tomat lokal di Lahurus, Desa Fatulotu, Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu. Pengembangan varietas tomat ini dikembangkan Kelompok Tani Wematan dimana keunggulannya memiliki ukuran sangat besar dan berat mencapai 0,5 – 1 Kilogram per buah.

Keterangan yang diperoleh Nusa Flobamora dari BPTP Balitbangtan NTT, Rabu (24/4/2019) menyebutkan, tim sumber daya genetik ( SDG) lokal BPTP NTT seperti, Evert Y.Hosang, Noldy Kotta dan Rafael Dos Santos melakukan pendampingan pada Kelompok Tani Wematan di Lahurus, Desa Fatulotu ini. Pendampingan yang dilakukan tentang pengembangan Varietas tanaman tomat lokal lahurus, yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian warga disamping komoditas lain seperti padi, jagung dan sayur-sayuran.

Kelompok Tani Wematan Lahurus, dibentuk pada Tahun 2012 sebagai kelompok pemula dengan jumlah anggota  sebanyak 25 orang. Jenis usaha yang dilakukan adalah budidaya tomat lokal Lahurus.

Varietas tomat tersebut dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai salah satu komoditas unggulan, karena memiliki ukuran buah tomat yang sangat besar dan berat mencapai 0,5 – 1kilogram per buah.

Oleh karena itu, harga jualnya bisa mencapai Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per buah tergantung ukuran dan berat buah tomat. Varietas tomat tersebut sudah didaftarkan pada, Kantor Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perijinan Pertanian  ( PPVTPP) Kementrian Pertanian dengan nama Varietas Kaut Lotu.

Dari keterangan yang diperoleh tim di lapangan bahwa bibit tomat ini awalnya didatangkan oleh seorang Misionaris dari Negara Belanda bernama Bruder Arnold pada tahun 1968. Dalam usaha budidaya tanaman tomat lokal Lahurus atau Kaut Lotu masyarakat petani sering mengalami kendala atau masalah antara lain, tehnik budidaya masih tradisional, dengan tehnik pengendalian hama dan penyakit masih terbatas dan masih minimnya jaringan pemasaran.

Dalam pendampingan itu,  Dr Evert Y. Hosang memberikan pencerahan kepada anggota kelompok tani Wematan Lahurus tentang tehnik budidaya dan tehnik mencari peluang pasar.  Sementara itu Noldy Kotta, Sp, M.Sc menjelaskan tentang tehnik pengendalian hama dan penyakit secara terpadu dan ramah lingkungan.(*/Amperawati).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *