BPTP NTT Tiap Tahun Menghasilkan 4 Varietas Unggul

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT sejak hadir tahun 1994, terus menghasilkan inovasi baru dalam bidang pertanian. BPTP merupakan tempat berhimpunnya para peneliti dalam menghasilkan karya-karya untuk membantu para petani. Dalam setahun biasanya peneliti yang ada menghasilkan 4 varietas unggul terutama padi.
Hal ini disampaikan Dr. Ir. Tony Basuki, M.Si, Peneliti/Kepala Pelayanan Pengkajian Kerjasama (KSPP) BPTP Balitbangtan NTT kepada Wartawan di ruang kerjanya, Selasa (19/3/2019).
Tony mengatakan, BPTP dalam tugasnya melaksanakan kajian dan penelitian lokal secara spesifik.
Outputnya mensuport pemerintah daerah khususnya menghasilkan teknologi yang membantu para petani.
Walaupun BPTP ini lembaga fungsional, kata Tony, namun tenaga yang ada merupakan para peneliti. Pihaknya bergabung dengan Balai Informasi Pertanian juga Kementrian Pertanian yang didalamnya ada penyuluh. Maksud dari bergabung ini karena tugas peneliti itu menghasilkan saja dan penyuluh sebagai jembatan antara peneliti dan petani.
Dikatakannya, selama perjalanan waktu 25 tahun ini sesuai misi BPTP adalah merakit teknologi bersama pemerintah pusat, maka sudah beberapa inovasi yang telah dilepas ke publik.
“Kita bekerja tidak seperti dinas karena peneliti jumlahnya terbatas sehingga hasil riset kita diharapkan dapat diambil pemda terutama dinas pertanian. Kita ini mitra dengan stakeholder utama adalah petani,” jelas Tony.
Muncul pertanyaan, demikian Tony, apa saja kontribusi litbang selama ini. Varietas yang ada di Indonesia umumnya dan NTT khususnya terutama padi dan jagung sudah cukup banyak yang dihasilkan. Khusus padi tiap tahun menghasilkan minimal 4 varietas.
“Yang kita makan (padi) setiap hari itu adalah karya peneliti.Kita ada tiga kelompok peneliti yakni menangani sumber daya pertanian menyangkut air, kelompok pengkajian budi daya menangani peternakan dan kelompok menangani aspek sosial ekonomi,” katanya.
Tony menambahkan, pihaknya baru selesai membahas grand desain program pertanian lahan kering kepulauan dalam mendukung program Gubernur NTT selama lima tahun kedepan.
“Kami dipercayakan sebagai liding dan kami rekrut peneliti dari Undana, Unkris untuk kita seminarkan. Hasil diskusi bersama kita rumuskan dalam
roadmap dan dalam waktu dekat diserahkan ke gubernur dan bisa diperkuat melalui pergub,” tambahnya.(ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *