PKK NTT Target Pembentukan Desa Model di 22 Kabupaten/kota

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—-Tim Penggerak PKK (TP PKK) Provinsi NTT telah membuat rencana besar dalam hal pembentukan Desa Model di 22 kabupaten/kota. Jika saat ini BKKBN sudah membentuk Kampung KB dan  Dinas Kesehatan membentuk Desa Siaga, maka kolaborasi program bersama antar instansi maka akan semakin baik menuju Desa Model yang “sempurna” di NTT.

Ketua TP PKK Provinsi NTT, Julie  Laiskodat menyampaikan hal ini kepada wartawan usai melantik  Wakil Ketua dan anggota  TP PKK Provinsi NTT sebanyak  50 orang di Kantor Gubernur NTT, Jumat (25/1/2019).

Julie menjelaskan, keberadaan PKK di NTT haruslah berkontribusi besar terhadap kesejahteraan warga. Alam NTT telah menyediakan potensi  yang cukup besar, hanya selama ini belum dikelola secara baik mulai dari produksi sampai pemasaran sehingga warga bisa memiliki uang. Terhadap kondisi ini, jelas Juliet, TP PKK NTT menciptakan terobosan di tahun 2019 ini dengan target Pembentukan Desa Model di 22 kabupaten/kota se-NTT.

“Nanti tiap kabupaten 1 desa model dengan kriteria desa itu akan dilihat. Intinya kita harus berikan desa itu “sempurna”. Kitaakab minta dukungan dari sektor terkait lain. Kami sudah ketemu BKKBN dimana mereka ada Kampung KB, di Dinas Kesehatan ada Desa Siaga. Kami gandeng sektor-sektor terkait lain untuk membuat Desa Model. Selama ini program apapun seperti ditabur begitu saja sehingga tidak terlihat desa itu tampilannya luar biasa,” jelas Julie.

Calon anggota DPR RI dari Dapil NTT ini menambahkan,  fokus perhatian pertama pada Desa Model itu terutama bidang kesehatan fokus pada soal gizi. Ini maksudnya agar kasus kematian balita itu bisa teratasi. Fokus lain  pada bidang  pendidikan terutama PAUD dimana para anak-anak harus diperhatikan secara baik kualitas pendidikannya.

“Moto kita adalah NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

Rakyat mau sejahtera itu bukan cuma dikasih program sekali lalu lepas tetapi harus didampingi berkelanjutan. Warga  harus diberikan pelatihan terus menerus termasuk mencari jaringan pemasaran hasil produksi. Warga harus bisa dilatih bagaimana  mencari uang dengan cara mengelola potensi dari apapun yang dimiliki entah itu jagung, ubi, pisang,” katanya.

Menurut istri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ini, program apapun harus semuanya diberikan utuh mulai dari proses produksi sampai pemasaran hasil produk olahan warga itu sehingga orang tidak menilai NTT itu Nasib Tak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong. Selama ini Tuhan sudah memberikan begitu banyak  potensi tetapi belum tahu prosesnya dan bagaimana jaringan pemasarannya.

“PKK punya anggota banyak sekali sampai ke dasawisma. PKK tidak punya program tapi punya tenaga sehingga kita berkolaborasi dengan sektor-sektor terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan sektor lain, untuk berikan pelatihan sampai kepada proses pemasaran hasil. Jdi sistem gotong royong agar ada perubahan dan ini yang ingin dicapai pada Desa Model itu,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, untuk tahap awal ini dihadirkan 22 Desa Model dan akan ditempatkan satu tenaga pendamping yang bekerja membantu memberikan pelatihan secara utuh. Tenaga inipun akan diberikan insentif setara upah minimum regional (UMR) karena tugasnya memberikan dampingan secara baik.

“Jika tahun 2019, semua Desa Mandiri itu sudah “sempurna” maka tahun 2020 kita akan pindah lagi ke desa lain. Minimal Desa Mandiri sebelumnya dijadikan contoh untuk desa berikutnya. Ini akan kita kolaborasi dengan instansi terkait untuk bisa terwujud,” tambahnya.(ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *