Tekan Gizi Buruk di NTT, Konsumsi Marungga Salah Satu Solusinya

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—-Tanaman marungga saat ini sedang populer dibicarakan di Nusa Tenggara Timur. Sejak dicanangkan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat untuk memulai gerakan menanam marungga, saat ini di kampung-kampung serta pelosok desa sudah melakukan penanaman secara besar-besaran. Marungga saat ini sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan daerah juga sebagai  pemenuhan gizi bagi masyarakat. Marungga juga memiliki kandungan nutrisi tinggi dan lengkap serta mengandung asam amino penting, sehingga dikonsumsi sebagai salah satu solusi menyelesaikan persoalan gizi buruk di daerah ini.

Kepala Dinas Pertanian  NTT, Ir. Yohanes Ruba Tay ketika membuka seminar Roadmap pengembangan tanaman marungga di Neo Aston Hotel, Sabtu ( 12/1/2019) mengatakan,  marungga merupakan sebuah produk yang akan melekat pada semua orang. Untuk itu, perlu adanya penanganan dan sosialisasi secara terus menerus  agar masyarakat dapat mengetahui manfaat dan pentingnya marungga. Marungga saat ini belum dikenal dengan baik oleh masyarakat Indonesia maupun di negara lain. Oleh sebab itu marungga perlu dipasarkan secara intensif dan lebih banyak lagi di sosialisasikan agar masyarakat dapat mengetahui manfaatnya.

Pemerintah NTT, kata Yohanes, berterimakasih kepada BPTP NTT  yang sudah mengangkat produk marungga dalam seminar roadmap, untuk menyatukan pikiran. Sebagai dinas teknis  selalu optimis bahwa pengembangan marungga berkembang baik kedepannya karena  adanya keterlibatan pemerintah dan semua pihak.

Sementara di tempat yang sama, Dr. Ir. Yohanis Ngongo M. Sc selaku Ketua tim BPTP NTT mengatakan, marungga merupakan program pemerintah yang sangat spesifik. Dimana  marungga mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Dikatakannya bahwa dalam Pengembangan tanaman marungga tidak boleh menganggu lahan – lahan pertanian potensial, kawasan hutan, pusat pemukiman, industri dan wilayah yang berada di jalur umum. Oleh sebab itu perlu adanya strategi pengembangan tanaman marungga yaitu dengan memanfaatkan sumberdaya lahan kering NTT sebagai lokasi pengembangan tanaman marungga, dan perlu mendorong pemberdayaan masyarakat dalam menanam marungga sebagai tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, gizi yang tinggi serta untuk konservasi tanah. Yang paling penting mendorong tumbuhnya kelembagaan bisnis dan usaha industri berbasis marungga.

Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Pertanian NTT dan Balai pengkajian teknologi pertanian (BPTP) NTT. Tujuannya  adalah untuk menyusun dokumen peta jalan pengembangan tanaman marungga, sebagai salah satu komoditas unggulan lokal spesifik NTT melalui beberapa strategi yang berbasis potensi lahan untuk rentang waktu lima tahun kedepan, sesuai dengan harapan Gubernur yaitu pengembangan 50 juta pohon setara 5000 ha monokultur.(ER)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *