Distan NTT Gandeng BPTP Bedah Grand Design Pembangunan Pertanian

KUPANG.NUSA FLOBAMORA–Dinas Pertanian (Distan) NTT dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT berkomitmen membangun pertanian lahan kering NTT. Untuk menggapai harapan bersama dalam mendukung program pemerintah NTT dibawah kepemimpinan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi, maka digelar seminar grand design pembangunan pertanian lahan kering. Kedua instusi inipun menghadirkan stakeholder dalam memberikan usul saran terhadap dokumen yang ada.
Kepala Dinas Pertanian NTT, Ir. Yohanes Ruba Tay, ketika membuka seminar ini di Neo Aston Hotel Kupang, Jumat (11/1/2019) mengapresiasi positif terhadap kerja bersama tim penyusun grand design yang melibatkan 10 lembaga/instansi. Dokumen ini memang belum sempurna dalam merumuskan pokok-pokok pikiran terkait pembangunan pertanian lahan kering di NTT. Untuk itu, peran serta dari semua elemen terkait memberi masukan demi penyempurnaan sebelum ditetapkan dalam suatu keputusan.
Yohanes menegaskan, pemerintahan sekarang memiliki gagasan besar dalam upaya mengoptimalkan potensi lokal. Hal ini karena lahan kering di NTT masih cukup banyak yang belum diolah secara maksimal. Untuk itu, kerja bersama menjadi sangat penting dalam mendukung program bidang pertanian agar dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sementara Ketua tim, Dr. Ir. Tony Basuki, selaku ketua tim grand design menjelaskan soal latar belakang dilaksanakan seminar ini. Menurutnya bahwa NTT adalah provinsi yang secara agroecological termasuk ke dalam kawasan lahan kering berikilim kering. Penciri utama dari kawasan ini adalah jumlah hujan yang lebih kecil dibanding jumlah penguapan tahunan sehingga berkonsekuensi terhadap defisit air. Dikatakan Tony,  fakta menunjukan bahwa pertanian lahan kering NTT masih belum mampu berperan sebagai sumber kesejahteraan petani. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan yang belum optimal sehingga sumber daya ini sering mendapatkan stigma negatif. Konsekuensi dari pengelolaan yang tidak optimal telah membawa pertanian NTT yang berciri orientasi produksi oleh petani bersifat subsisten mengutamakan tanaman pangan semusim yang multikomoditas. Luas garapan lahan sempit dan penggunaan varietas lokal yang produksi rendah.
Untuk itu, lanjut Tony, diperlukan suatu perencanaan yang tertuang dalam sebuah dokumen perencanaan yang komprehensif dan dinamis dengan melibatkan multi stakeholder dalam membuat dokumen grand design pertanian lahan kering NTT.
Tony menjelaskan soal tujuan penyusunan grand design adalah untuk menyusun arah dan strategi program pengembangan pertanian lahan kering NTT berdasarkan potensi sumberdaya lahan, potensi komoditas, kebijakan pemerintah pusat dan visi gubernur NTT. Selain itu menyusun arah dan strategi serta menyertakan langkah-langkah pengembangan setiap tahun untuk setiap program.
Dr. Sony Libing mewakili pimpinan Bapeda NTT   mengatakan, seminar ini sangat penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan pertanian NTT sejalan dengan program yang telah dicanangkan gubernur NTT. DI tengah kondisi alam NTT yang kering hendaknya disyukuri sebagai anugerah Tuhan karena ini potensi yang perlu dioptimalkan. Tugas pemerintah bersama para pihak mengkritisi soal bagaimana mengelola potensi yang ada agar berkembang maju.
Kedepan, lanjutnya, pemerintah akan membuat produk hukum, dilanjutkan dengan sosialisasi juga dibuatkan perencanaan bersama dari provinsi hingga kabupaten/kota.
“Setiap usulan program dari kabupaten/kota melalui RPJMD, waktu asistensi kita akan minta untuk masukan program bersama sehingga antara provinsi dan kabupaten satu arah. Jangan kabupaten buat lain, provinsi buat lain maka program sebaik apapun akan tidak sejalan,” jelas pria asal Alor ini.(ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *