BNNP NTT Berhasil Bongkar 7 Kasus Narkoba 

KUPANG. NUSA FLOBAMORA-—Jajaran Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) NTT dalam tahun 2018 ini berhasil membongkar 7 kasus narkoba di daerah ini. Prestasi ini patut diapresiasi karena jika dibandingkan tahun 2017 hanya dua kasus yang terungkap dan pengungkapan  7 kasus inipun sesuai target yang diberikan BNN Pusat  berdasarkan hasil Riset antara Universitas Indonesia dan BNN tahun 2017 bahwa jumlah penyalahguna Narkotika di NTT ini kurang lebih 36.000 jika dibandingkan dengan Provinsi lain di Indonesia.
Kepala BNNP NTT Brigjen Pol Teguh Iman Wahyudi, S.H, MM menyampaikan hal ini  dalam Press Release Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT,  Rabu (19/12/2018).
Dijelaskannya, NTT memang  tidak termasuk daerah rawan karena  urutan kedua dari 34 provinsi. Di NTT  yang paling banyak penjualan miras.  selain murah juga mudah dijangkau.
“Kalau Narkotika mahal harganya. Bayangkan Shabu harganya 1 gram 2,5 juta mana orang kita sanggup. Masyarakat tertentu saja namun dia pakainya  bukan di sini,” kata Wahyudi.

Ia mengaku, BNNP NTT menghadapi banyak kendala dalam upaya pemberantasan peredaran gelap Narkoba. Dengan jumlah anggota Polisi hanya 12 orang dan  dua Kepala Seksi yang masih kosong memang menyulitkan pihaknya bekerja maksimal. Walaupun  baru tiga bulan menjadi Kepala BNNP NTT, kata Wahyudi, dirinya sudah memotivasi  seluruh staf Bidang Pemberantasan untuk bekerja maksimal. “Saya bilang bagaimana harus tercapai target.  saya yang bukan orang asli sini aja peduli apalagi anda masa tidak tahu pengguna dan pengedar,” ujarnya.
Dia menjelaskan, mengungkap kasus Narkotika sangat sulit tidak seperti kriminal umum yang menunggu laporan masyarakat. Jika di Kriminal Umum orang datang melapor. Polisi harus mengenal ciri-ciri umum pelaku untuk melakukan penangkapan, tapi kalau di narkoba harus bekerja keras mulai dari nol. Kendala lainnya adalah NTT daerah kepulauan dimana jumlah pulau di NTT mencapai 1.192 pulau. Yang berpenghuni hanya 56. Anggaran untuk BNN antara daerah daratan dengan kepulauan  sama.

“Seperti kemarin yang kita ungkap di Sumba itu pesannya lewat online. Pake Line lagi sulit kita lacak dan menangkap bandarnya”, kata Wahyudi.

Ia mengaku sangat terbuka terhadap media dalam mengungkap kasus Narkoba. Jika ada anggota yang main-main dirinya akan ambil tindakan keras dan tegas, karena kalau penegak hukum tapi justru mempermainkan hukum maka hukumannya harus lebih berat.
Ia menambahkan, kepedulian Pemerintah daerah dalam menghadirkan Badan Nasional Narkotika di daerah – daerah masih sangat rendah menjadi kendala lain yang dihadapi BNNP NTT. Di NTT baru tiga Kabupaten/Kota yang memiliki Kantor BNN antara lain Kota Kupang, Rote Ndao dan Belu sedangkan yang lain itu dicover oleh BNNP sehingga dalam melakukan penyelidikan seperti di Sumba  itu   bisa memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan ketika kasus diserahkan ke Kejaksaanpun pihaknya harus “jemput bola”.
Ia minta masyarakat umum dapat menyampaikan laporan kepada BNNP jika mengetahui ada pengedar. Ciri paling umum itu tidak ada kerja tetapi banyak duit.
“Kalau pemakai yang disampaikan ke BNN tidak akan diproses. Dia malah direhabilitasi. Yang melapor akan kita beri Reward. Berapa nilainya tergantung barang bukti”, tegasnya.
Wahyudi membeberkan tujuh kasus yang berhasil diungkap antara lain, tersangka AD, AAS dan RT ditangkap di Kupang dengan barang bukti Shabu pada bulan Februari , Tersangka AM ditangkap pada Oktober 2018 dengan barang bukti Ganja dan dua pak kertas linting.
“Tersangka lainnya AF ditangkap di jalan A. Yani Waingapu, barang bukti 1 botol Liquid vape yang berisikan cairan 5F-ADB 15 ML dan 5 ML, Tersangka UMK dan AG, barang bukti 1 botol liquid vape 5F-ADB 10 ML dan 1 paket Ganja kering”, kata Wahyudi.(ER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *