Wagub NTT Ingatkan Kaum Ibu Hindari Empat TERLALU

KUPANG.NUSA FLOBAMORA—-Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi mengingatkan kaum ibu di daerah ini untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Program KB ini dapat membantu menghindari kaum ibu dari empat TERLALU yakni, terlalu muda, terlalu dekat, terlalu banyak dan terlalu tua hamil/melahirkan. Empat terlalu ini perlu dijaga agar dapat menekan angka kematian ibu yang masih tinggi, yang disebabkan karena kehamilan, melahirkan dan masa nifas.

Wagub Josef Nae Soi menyampaikan hal ini pada acara seminar Kemitraan Program KKBPK dan Bedah masalah kependudukan di NTT dalam rangka peringatan hari AIDS sedunia, HUT NTT ke 60 dan Hari Ibu tingkat Provinsi NTT di Hotel Aston, Sabtu (15/12/2018). Seminar ini diselenggarakan BKKBN NTT dengan menghadirkan nara sumber : Gubernur NTT, Kepala BKKBN, Uskup Larantuka, Prof. Dr. dr. Ascobat Gani, MPH, Dr. Lutfi M, Prof. Dr. Ir. Fred Benu, MS dengan moderator; Alfito dari CNN.

Wagub Nae Soi mengatakan, kegiatan seminar ini merupakan hal strategis sebagai bentuk komitmen dan spirit yang kuat untuk meletakan dasar yang kokoh untuk membangun seluruh penduduk NTT menjadi penduduk yang sehat dan berkualitas. Dikatakannya, pada tanggal 11 Juli 2011 jumlah penduduk dunia genap berjumlah 7 miliar dan diperkirakan tahun 2018 jumlahnya bisa mencapai 8 miliar. Hal ini mengisyaratkan bahwa terus terjadi pertumbuhan penduduk yang luar biasa pada setiap saat. Fenomena inipun terjadi di Indonesia dan NTT. Jika kehamilan dan kelahiran tinggi tetapi tidak disertai dengan perhatian yang cukup dari keluarga dalam proses tumbuh kembang anak secara optimal, sejak dari dalam kandungan dan pada masa balita, dan akhirnya anak mengalami gizi buruk dan menjadi stunting.

“Hal inilah yang perlu dikaji bersama, diskusikan bersama untuk mendapatkan sebuah model yang efektif dalam menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan pembangunan dan pertumbuhan penduduk, agar apa yang kita bangun dan kemajuan pembangunan yang kita raih dapat berkontribusi secara signifikan dalam pengentasan kemiskinan,” kata Nae Soi.

Menurutnya, pertambahan penduduk yang terus terjadi perlu dikendalikan baik aspek kuantitas maupun kualitas melalui program Kependudukan, KB dan Pembangunan keluarga sehingga sebelum tahun 2035 tercipta generasi emas di NTT dan mencapai bonus demografi.

“Program kependudukan dan KB sedikit mengalami stagnan di era otonomi daerah yang menyebabkan terjadinya kenaikan laju pertumbuhan penduduk dan angka kelahiran total NTT yang masih tinggi yaitu 3,4 anak per wanita usia subur. Jika ini dibiarkan maka dalam jangka panjang akan menimbulkan berbagai dampak dan persoalan,” ujar mantan anggota DPR RI ini.

Kepala BKKBN NTT, Marianus Mau Kuru, SE, MPH mengatakan, indeks pembangunan manusia (IPM) NTT dan kemiskinan NTT yang belum sesuai harapan, ditengarai memiliki korelasi yang kuat dengan pertumbuhan penduduk NTT yang masih tinggi terutama total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total NTT yang masih tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia yaitu 3,4 anak perwanita usia subur. Ini disebabkan karena prevalensi peserta KB aktif NTT yang masih rendah yaitu 41,2 persen.

Terhadap kondisi ini, kata Marianus, maka seminar ini menjadi penting. Tujuannya agar menyamakan pemahaman dan persepsi pembuat kebijakan tentang manfaat program kependudukan, KBBPK bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu diharapkan dari hasil seminar ini lahir kesepahaman, kesepakatan dan komitmen pemerintah daerah untuk mengatasi masalah kependudukan di NTT agar kuantitas penduduk dapat dikendalikan, kualitas penduduk dapat ditingkatkan, mobilitas penduduk dapat diarahkan dan data kependudukan dapat dibenahi.(ER).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *